
Masih dalam sebuah ruangan kecil yang hanya tediri dari kitchenset juga peralatan masak dan makan lainnya. Disitulah Gisel dan Romeo berada sekarang. Tampak Romeo dengan hati-hati menyuapi calon buah hatinya melewati mulut Gisel. Suap menyuap bukan hal baru bagi Romeo. Sebab Manda pun sering ia perlakukan demikian, terutama jika tamu bulanannya kerap datang, ia berlagak seperti wanita yang paling menderita sedunia, jika haidnya datang. Menampilkan ekspresi sedih dan kecewanya, sebab lagi-lagi ia gagal hamil. Itulah keahlian Manda dalam membentuk pikiran Romeo.
Tapi pagi ini, suasananya berbeda. Sebab bukan Manda yang tengah ia suapi, melainkan Gisel. Wanita yang baru beberapa bulan muncul dalam hidupnya,namun telah berhasil memberikannya sesuatu yang tak bisa istrinya berikan untuknya. Bukan hanya soal anak, tetapi perlakuan Gisel dari perkataannya yang selalu lembut, tidak banyak menuntut, juga lebih membelanya dalam hal mempertahankan Manda.
“Apakah … kita akan selalu merasa seaman ini jika dia bebas nanti?” tiba-tiba Romeo bertanya pada Gisel yang masih terlihat sangat menikmati suapan demi suapan dari pria di depannya itu.
“Tentu saja aman. Kamu kan suaminya. Suami yang di cintainya. Bukankah cinta itu mampu meredam segala tindak kejahatan …?” sindir Gisel sengaja membuat Romeo ragu akan perasaannya sendiri.
“Aku cinta padanya. Tapi aku tidak bisa memastikan apakah dia akan mengikuti semua permintaanku.”Jawabnya lirih.
“Katanya saling cinta. Mestinya saling mendengarkan antara satu sama lain.” Gisel sengaja menajamkan tujuan arah pembicaraannya. Tapi tidak dengan kalimat yang gamblang.
“Bagaimana jika sebelum di bebaskan, Manda harus membuat perjanjian terlebih dahulu. Agar ia sungguh tidak mencelakai calon anak kami yang ada padamu.” Merasa jika itu adalah ide tercemerlang.
“Rom … janji untuk menjadi istri yang baik, di depan saksi dan penghulu saja ia abaikan. Bersama orang yang juga ia cinta. Apalah aku, yang pasti sudah termasuk dalam daftar wanita yang ia benci. Ingatlah, tidak satu kali dia membuat hatiku sakit. Tapi … tak masalah. Akukan hanya wanita penjual rahim. Jadi ga perlu pakai hati untuk menanggapi semua hinaan yang ia lontarkan padaku.” Gisel berlalu membersihkan piring sisa makanan mereka berdua kemudian akan mandi berdandan seadanya untuk berangkat ke kantor polisi.
Dering ponsel Romeo mengagetkannya. Membuatnya lebih terperanggah, saat ia lihat nama Roy yang sedang memanggilnya.
“Pagi bro …” sapa suara dari seberang gawainya.
__ADS_1
“Iya … selamat pagi Roy. Ada apa …?” tanya Romeo penasaran.
“Ah … maaf. Mungkin ini urusan pribadi. Beberapa hari yang lalu, aku baru tiba dari perjalanan luar kota. Di sebuah Bandara. Mungkin aku salah lihat. Tapi pasangan itu sungguh mirip dengan mu dan Manda. Apakah dia sedang di tangkap polisi …?” tanya Roy pura-pura ingin tau.
“Oh … tidak. Kamu tidak sedang salah lihat. Itu benar aku dan Manda.” Jawab Romeo apa adanya.
“Boleh aku tau … kasus apa yang membuat istrimu di tangkap?”
“E … e … itu. Masalah pribadi, bro. Maaf aku tidak bisa memberimu informasi.” Jawab Romeo memilih tidak menyebar aib rumah tangganya pada Roy.
“Oh iya maaf jika itu terdengar seperti sedang mencampuri urusan rumah tangga kalian. Aku hanya ingin membuatmu tidak lupa, akan perjuanganmu dalam hal mendapatkannya dulu. Sebaiknya segera selesaikan saja kasusnya, penjara bukan tempat yang tepat untuk seorang Manda.” Tegas Roy memperingati Romeo. Membuatnya sedikit heran.
“Kamu tau … dulu Manda adalah kekasihku. Dan yang harus dan wajib kamu tau adalah hanya karena aku mengalah saja, Manda bisa jadi milikmu. Juga karena Manda yang kasihan padamu, membuatnya lebih memilihmu. Karena itu, jangan kamu sia-siakan dia dalam bentuk apapun juga. Lebih baik kamu kembalikan dia padaku, jika kamu sudah tidak bisa mencintainya lagi.” Ancam Roy menggertak Romeo.
“Hah … tidak ada yang mengalah di masa lalu. Jelas-jelas kamu memang kalah.” Romeo merasa panas saat mendengar kalimat yang Roy ucapkan lebih mirip pelecehan. Masa, Roy bilang karena Manda kasihan padanya, sehingga memilihnya. Bukankah ia petarung hebat di jamannya, sehingga dengan kesatria ia berhasil mendapatkan wanita yang begitu membuatnya terpesona.
“Hanya kamu yang bodoh, bahkan tidak menyadari jika di malam pertama kalianpun ia sudah tidak suci lagi. Aku … akulah orang pertama yang sudah mencicipi tubuhnya dan merenggut kesuciannya itu.” Wuuusssh. Panas telinga Romeo mendengar informasi yang Roy sampaikan. Entah itu benar atau salah. Namun ia membenarkan, jika di malam pertamanya memang tidak begitu istimewa.
Romeo sempat bertanya, kata orang berhubungan untuk pertama kalinya itu akan berdarah, akan terasa sakit sebab terjadi luka sobek saat menubruk selaput dara di dalam mulut rahim. Tetapi, Manda berhasil meyakinkannya. Jika tak ada darah di malam pertama itu, karena Romeo teramat lembut melakukannya. Sehingga, sangat pelan ia menunbruk portal itu, dengan sangat amat hati-hati, karena cintanya pada Manda.
__ADS_1
Dan Romeo percaya itu, demi melihat wajah Manda seolah tersiksa olehnya. Akibat tumbukannya yang betubi-tubi di area sempit milik Manda. Tapi … setelah Romeo mencicipi milik Gisel … mengapa rasanya sama …? Apakah benar Manda berstatus gadis tetapi miliknya sudah rasa janda? Mengapa justru Gisel yang nyata berstatus istri orang bahkan, malam itu terasa sempit seperti gadis? Pikiran Romeo agak gesrek akibat sentilan dari Roy.
“Apa maksudmu dan arah pembicaraanmu …?” lanjut Romeo setelah beberapa detik terbuang sebab pikirannya kembali ke masa lalu.
“Tidak … aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya mengingatkan, jika kamu menyia-nyiakan Manda, jangan sebut aku Roy jika tidak bertindak.” Ancam pria tak tau malu itu. Kemudian menutup telepon.
“Hah … siapa dia ? hanya sebagai mantan pecundang yang sangat menginginkan istriku.” Romeo berbicara sendiri. Bahkan menertawai Roy yang menurutnya sok kecakepan mengancamnya.
“Kenapa belum mandi …?” tanya Gisel yang sudah rapi dan makin menawan dengan tampilan sederhana dan bersahajanya. Tentu bagian perutnya yang menjadi perhatian Romeo kini.
“Ah … sebentar.” Kecupnya pada perut menonjol itu. Kemudian bergegas mandi. Sambil berpikir akan peringatan Roy tadi padanya.
“Ayo lah Rom … ini sudah mendekati tengah hari. Tetapi kita belum juga berangkat ke kantor polisi. Kamu pun tidak pergi bekerja hari ini?” ajak Gisel yang sudah jengah melihat Romeo yang hanya berselonjoran di sofa tengah rumah itu.
“Tidak bekerja sehari, tidak akan membuatku miskin.” Jawabnya sambil beranjak anak menyiapkan dirinya.
“Iya … jangan lupa kamu masih ada hutang 500 juta padaku. Setidaknya bekerjalah agar setelah membayarku, kamu tidak bangkrut.” Kekeh Gisel mengingatkan Romeo.
Bersambung ...
__ADS_1