
Romeo dan Gisel masih berada dalam kamar bersejarah dan fenomenal bagi mereka berdua. Apapun perasaan keduanya masing-masing kini. Bahkan mungkin antara satu dan yang lain tidak saling mengakui perasaan dalam hati kecil mereka. Toh, sudah ada benih yang tumbuh dalam perut Gisel.
Romeo kalang kabut di buat Gisel. Mengapa saat verbalnya berkata jangan main hati dengannya. Tetapi pipi Romeo malah di kecup, seolah sedang terang-terangnya menggoda lelaki yang sudah menjadi suami sirinya itu.
“Heeii … kamu menggodaku. Pintu kamar sudah ku kunci. Apa kita boleh melakukan hal menyenangkan yang lebih dari sekedar berciuman …?” kata itu jelas meminta ijin dari ibu calon anaknya.
“Kamu memang sudah menjadi suamiku. Bahkan anak ini kita buat bersama, melewati proses yang tidak hanya lewat berciuman saja. Tetapi … bisakah kita memberi jeda untuk hati kita beristirahat sejenak dari segala rasa?” pinta Gisel dengan tatapan nyalang ke luar jendela.
Romeo hanya menatapnya lekat. Jelas tersirat pada mata itu. Jika ia sedang lelah bahkan memohon dengan sungguh, agar Romeo tidak memaksanya untuk melakukan hubungan suami istri dengannya.
“Maaf jika aku salah. Aku tau kamu begitu mencintai Manda. Menurutku … jika kamu memintaku melakukannya, aku hanyalah pelampiasan hawa naffsumu. Maaf jika aku salah.” Tatapan mata Gisel sudah berpindah pada manik mata Romeo yang berubah sendu.
Bukan perkara mudah baginya melupakan Manda begitu saja. Banyak pahit manisnya kisah perjalanan cinta mereka yang sempat tertoreh. Mungkin Gisel benar, jika sampai kini. Masih ada Manda dalam benaknya.
“Aku yang seharusnya meminta maaf.” Kecup Romeo pada Kening Gisel. Sembari melangkah meninggalkan kamar itu. Membuat Gisel kembali sendiri, hanya berkawan janin yang ada dalam perutnya saja.
Hari berlalu, sungguh Romeo tak tinggal di kediaman orang tuanya. Ia sedang tenggelam saja dengan kesibukan di perusahan. Juga mengumpulkan bukti kesalahan Roy, agar ia segera dapat menjebloskan bajjingan itu menyusul Manda di penjara. Romeo berubah dingin dan menjadi sosok yang gila kerja.
“Sudah di kantor …?” chat Gisel yang merasa gabut, berada di rumah mertuanya.
“Iya …” jawab Romeo singkat dan cepat.
“Sudah sarapan …?” tanya Gisel lagi, sambil melihat waktu yang tertera di ponselnya, pukul 09.25.
“Belum.” Balas Romeo lagi.
“Ini sudah bukan jam makan pagi lagi.” Balas Gisel agak khawatir.
__ADS_1
“Ya … nanti sekalian makan siang saja. Aku sedang banyak pekerjaan.” Balasnya lagi.
“Jaga kesehatanmu …” Gisel menulis itu, tapi di hapusnya.
“Penting pekerjaan atau kesehatanmu …?” Gise mengetik lagi, tapi lagi-lagi di hapusnya.
“Kamu tidak menanyakan keadaan kami …?” Gisel masih terlihat mengetik, namun tidak sempat terkirim. Sebab Romeo sejak tadi sudah lama melihat tepian ruang hijau itu terlihat mengetik, namun tak kunjung ia mendapat hasil kiriman ketikan itu.
“Ada apa …?” Romeo segera menghubungi Gisel. Tak sabar ia membaca apa yang Gisel ketik dengan lama.
“Tidak ada apa-apa …” kejut Gisel yang sedari tadi bagai orang bingung ingin memberi perhatian pada Romeo tapi dengan perasaan bimbang.
“Kenapa mengetiknya lama sekali …? Apa kamu sedang membuat puisi ? atau membuat naskah cerpen di room chat kita ?” tanya Romeo dengan senyum usilnya.
“Hah …?” hanya pura-pura tidak mendengar yang bisa Gisel perankan. Saat wajahnya tiba-tiba terasa kebas setelah mendengar suara ayah dari bayinya.
“Masih …?” jawab Gisel pelan.
“Di minum atau tidak …?” tanyanya lagi.
“Kadang-kadang …” Jawabnya bohong.
“Kenapa …?” tanya Romeo sambil menekan mode speaker pada ponselnya, sebab banyak berkas yang harus ia tanda tangani. Namun juga tak ingin menyudahi obrolannya dengan wanita yang sedang mengandung anaknya tersebut.
“Lupa … kadang aku terlanjur tertidur lebih cepat tanpa membuat dan meminum susunya.” Ujar Gisel melanjutkan bohongnya.
“Tinggallah serumah dengan ayah bayimu. Tidak hanya membuatkan kalian susu, memijat kaki pegalmu pun akan aku lakukan, agar tidak merasa lelah sendiri saat anak kita masih bersamamu.” Romeo sudah mengklaim jika itu memang anak mereka berdua.
__ADS_1
Gisel awalnya hanya ingin mengetahui kabar Romeo, demi ingin sedikit menggodanya. Ingin sedikit menggoyahkan hati Romeo, agar segera mengarahkan hatinya untuk tertuju padanya. Tetapi mengapa justru kini ia yang merasa berbunga-bunga mendengar jawaban Romeo.
“Tak heran bagaimana nyamannya Manda selama menjadi istrimu. Kamu terlalu apik dalam hal mengombal. Terdengar alami dan sangat natural.” Kikik Gisel seolah menganggap yang Romeo katakan tadi hanyalah sebuah rayuan gombal.
“Bisakah jika kita berbicara, tidak lagi kamu sebut namanya. Bantulah aku segera melupakannya, dengan tidak senantiasa menyebut dia di sela obrolan kita. Aku sungguh hanya ingin fokus belajar mencintai ibu dari bayiku.” Oh Tuhan, lutut Gisel seketika terasa melemah. Membuat Romeo jatuh cinta adalah tujuannya, tapi tidak secepat ini. Ia bahkan tak siap jika sungguh Romeo mencintainya, sebab ia sudah tak percaya dengan cinta bukan.
“So Sweet. Mungkin kopi yang kamu minum pagi ini terlalu manis. Sehingga ucapanmu pun terjangkit ikutan menjadi manis.” Gisel berusaha menenangkan gemuruh hatinya yang sekilas ricuh tadi. Jangan sampai menjadi senjata makan tuan.
“Aku ini duda. Tetapi masih punya satu istri lagi. Tapi parah, karena ia sedang hamil anakku, sepertinya aku tak berhak mendapatkan layanan darinya. Dan demi buah hatiku,juga sebagai calon ayah yang baik, aku terpaksa mengalah. Harus bisa mandiri, melakukan apapun sendiri, tanpa layanan istriku.” Romeo menyimpan kedua bibirnya ke dalam mulutnya sendiri. Ia pun tak sadar mengapa memiliki susunan kata sedemikian norak pada Gisel.
“Oh duda … mengapa terdengar begitu merana? Bahkan ke akuratan info yang kamu berikan itu semua palsu. Bukankah di rumahmu, banyak memiliki pelayan yang sudah kamu gaji. Berilah mereka perintah untuk melayanimu.” Gisel semakin merasa nyaman dan asyik melancarkan obrolannya pada Romeo.
“Iya … aku memang memiliki beberapa pelayan. Tetapi, kopi buatan mereka, juga makanan yang mereka buat. Tiba-tiba tak cocok di lidahku. Entahlah … mungkin karena aku pernah merasakan seduhan kopi buatan istri siriku, juga makanan buatan ibu dari calon anakku.”Astaga … rayuan Romeo semakin menjadi-jadi saja.
“Waw … tidakkah sebaiknya kamu melamar menjadi aktor saja. Kamu sungguh menguasai skrip seorang pria perayu.” Kekeh Gisel berusaha tidak terdengar terpengaruh dengan semua omongan yang Romeo ungkapkan padanya.
“Aku tidak sedang merayu. Hanya …” kalimatnya tergantung sebentar. Demi melihat kode yang sektretarisnya berikan di depan pintu, jika meeting mereka akan segera di mulai.
“Hanya apa …?” tanya Gisel penasaran.
“Tolong memasaklah untukku. Siang ini aku akan kerumah mama.” Romeo meminta dengan suara yang terdengar sungguh-sungguh. Tentu saja ia berharap akan di buatkan makanan oleh Gisel istri sirinya, yang diam-diam memang sudah mulai memiliki ruang khusus dalam hatinya.
Bersambung …
OTW bucin niih
Suka donk Reader ....?
__ADS_1
Mawar boleh sekebon🤭