RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 26 : KEJUJURAN MANDA DAN GISEL


__ADS_3

Romeo pulang dengan perasaan kacau. Di satu sisi hatinya ingin percaya dengan yang warga katakan. Di sisi lain hatinya tetap tidak terima jika Manda sejahat itu pada Gisel, wanita yang di pilihnya untuk menanam benihnya. Memilih untuk kembali ke rumah saja menurutnya lebih baik. Untuk menanyakan langsung pada Manda. Dan berharap semua yang warga katakan tadi hanya karangan belaka.


Romeo sudah berada di kamar mereka. Mendapati Manda sudah siap dengan koper yang terlihat terisi penuh. Seolah akan segera pergi hari itu juga.


“Sudah siap rupanya … bukankah besok keberangkatannya?” tanya Romeo melihat penampilan sang istri.


“Yaah … aku salah lihat jadwal. Ternyata penerbangan kami malam ini.” Tentu saja Manda bohong. Ia tidak mau berlama-lama di rumah, takut Romeo akan segera mengetahui kebohongannya soal mengapa Gisel sampai masuk rumah sakit.


“Oh.” Jawab Romeo singkat.


“Apa kamu berubah pikiran dalam hal mengijinkan aku untuk pergi …?” tanya Manda lembut sambil mendudukan dirinya di atas pangkuan Romeo yang sedang berada di atas sofa kamar mereka.


“Apa aku bisa menarik ijinku, jika kepergianmu itu membuat mu bahagia?” Romeo balik bertanya.


“Suami terbaik.” Kecup Manda pada pipi Romeo.


“Manda … bisakah kamu jujur tentang apa yang sesunguhnya terjadi dengan Gisel tadi ?” Romeo mulai serius pada Manda.


“Apa yang aku tutupi darimu soal Gisel ?” tanya Manda tanpa rasa bersalah.


“Aku baru saja pulang dari rumahnya. Aku bertemu warga, juga Pak ketua RT …” Romeo tidak melanjutkan kalimatnya. Menunggu Manda sendiri yang berterus terang padanya.


Manda menangis di dada Romeo.


“Aku tidak sengaja mendorong pintu itu, ia segera ambruk terjatuh.” Mana mungkin maling mengakui perbuatannya bukan.


“Tapi warga bilang, lagi-lagi kamu mengumpatnya sebagai pelakor, sayang.” Romeo mana bisa marah dengan istrinya.


"Aku cukup tau, perlakunku kemarin adalah salah dan keterlaluan. Aku datang untuk minta maaf padanya. Bukan ingin berbuat jahat." Manda membela diri.


"Syukurlah jika kamu tidak melakukan kejahatan padanya." Simpul Romeo tak peka.


“Jika aku memang ingin jahat padanya, mengapa aku membawanya ke rumah sakit …?” berang Manda. Takut nRomeo menyudutkannya.

__ADS_1


“Sudahlah … yang penting calon anak kita selamat. Apapun yang kamu lakukan di lain waktu, terhadap Gisel. Berhati-hatilah.” Romeo memberi peringatan.


“Kamu membelanya …?” tuding Manda dengan nada tinggi.


“Aku tidak membelanya. Bukankah aku minta sejak awal padamu, untuk bersabar saja, sampai anakku lahir. Begitu sulitkah bagimu melakukan itu, Manda?” Suara Romeo tidak lagi lembut.


“Maaf … caraku menginginkan anak memang salah. Dan tolong bantu aku, agar tidak semakin merasa bersalah padamu. Sehingga hal ini memancingmu berbuat sesuatu yang tidak lazim.” Manda yang salah, masih harus Romeo yang meminta maaf.


Manda hanya diam seribu bahasa. Tidak punya banyak alasan untuk membela diri lagi. Baginya, Romeo tidak terus menyalahkannya pun sudah cukup. Hingga ia terbebas dari rasa bersalah telah jahat pada Gisel.


“Pukul berapa penerbangannya?” tanya Romeo yang sudah berdiri dari posisi duduk memangku Manda tadi.


“Pukul 7 malam.” Jawabnya singkat.


“Istirahatlah terlebih dahulu. Dan mohon ijin, aku mau mengantarkan perlengkapan dan kunci rumah Gisel sebentar ke rumah sakit.”Pamit Romeo saat melihat penunjuk waktu masih menunjukkan pukul 4 sore. Tanpa persetujuan Manda, iapun sudah keluar kamar untuk kemudian pergi ke rumah sakit.


“Gisel … bisakah kamu jujur. Mengatakan apa sesungguhnya yang terjadi sebelum kecelakaan ini terjadi …?” pertanyaan yang sama Romeo ajukan pada Manda dan Gisel. Ia sengaja memberikan pertanyaan itu, untuk menilai jawaban dari kedua wanita yang sesunguhnya sudah sama-sama berada dalam hatinya sesuai porsi dan versi yang berbeda.


“Tapi aku mendapat info dari warga dan ketua RT. Meraka bilang, Manda telah mencacimu, seperti di supermarket kemarin, lalu mendorongmu, hingga jatuh dan menginjak pibggangmu, apa itu benar?" cerca Romeo pada Gisel.


“Sudahlah … yang penting aku dan anak ini selamat.” Jawab Gisel datar.


Romeo menyingkap pakain Gisel, berharap mendapatkan sesuatu di pinggangnya. Dan benar saja ia menemukan memar kecil seperti bulatan di sana. Kemungkinan itu bekas tumit sepatu.


“Aku akan meminta visume.” Ujar Romeo tegas.


Gisel memegang tangan Romeo.


“Aku tidak bersedia di visume. Sudahlah, yang penting anak ini baik-baik saja.” Entah lakon apa yang ingin Gisel mainkan. Apakah ia sungguh tak marah pada Manda, atau sedang merencanakan sesuatu. Yang pasti, ia tak ingin terlihat mengadu Manda pada Romeo.


Romeo menarik nafas dalam, lalu membuangnya kasar.


“Kamu belum makan. Aku bantu ya …” Romeo lembut, cendrung baik. Menyayangi ibu dan Manda adalah spesialisnya. Bahkan kini kebaikannya sudah menjalar untuk Gisel. Dengan raut wajah meragu, Gisel terpaksa makan dengan suapan Romeo.

__ADS_1


“Aku tidak mau anakku sakit di dalam perutmu. Maka bekerjasamalah, agar dia segera sehat.” Ujar Romeo yang mendadak merasa malu akan tingkah baiknya pada Gisel.


Pun Gisel merasakan ada sesuatu yang berdesir-desir dalam kalbunya mendapatkan perhatian Romeo semanis ini. Apakah arti desiran aneh yang bergelenyar dalam hatinya. Runtuhkah hati Gisel mendapatkan perhatia pria tampan dan mapan seperti Romeo. Cintakah ia, dengan ayah dari bayi yang ia kandung sekarang. Huh …!!! Gisel bahkan sudah trauma dengan kata itu. Tak yakin ia dengan makna kata itu, sebab maknanya sudah tak penting bagi Gisel. Semua hanya kejahatan.


“Malam ini, Manda akan pergi liburan ke Milan. Dengan atau tanpa persetujuanmu, aku akan menemanimu tidur di sini.” Ujar Romeo tanpa prolog, segera memberikan informasi pada Gisel.


Wanita yang baru saja merasa kenyang setelah di suapi Romeo tadi pun, merasa tidak perlu untuk menjawab pernyataan itu. Toh, Romeo hanya sekedar memberinya informasi, Bukan minta persetujuan.


“Permisi … ini pakaian gantinya. Mungkin ibu kegerahan, bisa kami bantu untuk berseka.” Ada dua perawat menghampiri ruang rawat Gisel.


“Biar saya saja yang membersihkan tubuhnya.” Ucap Romeo segera berdiri menyambut pakaian bersih yang perawat itu bawakan.


“Apa saya hanya boleh berseka, Sus?” tanya Gisel cepat.


“Jika ibu merasa nyaman, silahkan mandi dengan air hangat. Suami anda mungkin bisa bantu memapah ke kamar mandi. Permisi …” Lanjut mereka permisi dan berlalu meninggalkan ranap itu.


“Mau mandi …?” tanya Romeo pada Gisel. Ia pun mengangguk.


“Biar aku bantu.”


“Aku bisa sendiri.”


“Jangan menolak, aku tidak mau terjadi apa-apa pada anakku.” Itu adalah azimat sakti yang selalu Romeo pakai pada Gisel. Sehingga Gisel hanya perlu mengangkat tangannya yang berselang infus, saat di kamar mandi. Sebab Romeo lah kini yang sedang memandikannya.


“Aku sudah di tuduh sebagai pelakor oleh istrimu. Dan anak ini adalah kelemahanmu, maka pelan-pelan, aku akan membuatmu tak bisa jauh dariku dengan alasan anak ini.” Batin Gisel yang sudah yakin akan dengan sungguh-sungguh merebut Romeo dari Manda. Dari segi penampilan Gisel tentu jauh, kalah dengan Manda. Tapi, dari segi rahim. Tentu Gisel lebih menang dari Manda bukan …?”


Bersambung


Yuks... Tetap kawal Gisel hingga membuat kebucinan Romeo pindah padanya.


Author usahakan bisa double up demi kalian.


Like, komen dan mawar atau kopi adalah modal mata author tetap melek untuk melanjutkan kisah ini 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2