RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 39 : MENEMUKAN SEMUA BUKTI


__ADS_3

Bukan hanya Manda yang hampir gila mendengar kata talak dari Romeo suaminya yang sangat pintar ia kendalikan selama ini. Tetapi semuanya memandang heran pada Romeo yang seperti sedang menjadi orang lain.


“Roy … silahkan lindungi wanita yang sejak dulu ingin kamu miliki ini. Terima kasih sudah meminjamkannya padaku.” Ucap Romeo dengan mata memerah menahan amarah, luka, kecewa dan apapun itu. Semua ada dalam dada Romeo. Sesungguhnya tak rela ia melepas Manda. Bagaimanapun tidak begini akhir cerita cintanya dengan Manda Juana.


Semua di luar kemampuan Romeo untuk berpikir. Saat satu persatu bukti dari orang suruhannya yang dapat bekerja dengan cepat menemukan bukti, jika sesungguhnya tak ada manusia bernama Memey yang tinggal di apartement itu. Bahkan rekaman CCTV selalu menunjukkan jika Roy dan Manda lah yang sering keluar masuk unit tersebut.


Mungkin Romeo gegabah, tanpa konfirmasi pada Manda tau Roy perihal kebersamaan meraka di apartement yang sama. Romeo bahkan tidak lagi memberi waktu untuk keduanya membela diri. Hanya bermodal laporan dari anak buahnya, Romeo segera percaya. Dan, peringatan Roy juga pengakuan Roy tentang kesucian Manda yang telah ia renggut adalah alasan utama bagi Romeo untuk memutuskan hubungannya dengan Manda.


Jika hanya dengan alasan trauma dalam hal memberikan keturunan. Romeo bisa menerima. Tetapi ini tentang perselingkuhan, pengkhianatan cinta sucinya selama ini. Romeo sudah tidak berniat memperbaiki semuanya. Benar yang Gisel katakan. Cinta hanyalah takhayul baginya kini.


“Aku tidak terima perceraian ini …!!” bentak Manda menarik tangan Romeo kasar.


“Sudahlah … maaf, aku hanya merusak kebahagiaan kalian saja selama ini. Akulah yang telah merebutmu darinya.” Jawab Romeo melepas tangan Manda yang sejak tadi mencengkramnya kuat.


“Heey … wanita penjual rahim. Ini pasti ulah mu, sialan. Kamu sungguh telah merebut suamiku. Kau pakaikan jampi apa padanya, sehingga kini suamiku berani menceraikanku, hah ... !!!” Manda gesit, sempat saja melompat bahkan dengan tangan yang di borgol ia menjambak rambut Gisel dengan tenaga yang cukup kuat.


"Aauucch." Erang Gisel tak sadar, meringis kesakitan.


“Jangan sentuh istriku dengan kasar!!! Ingat dia bukan wanita penjual rahim. Dia adalah ibu dari anakku.” Dengan cepat Romeo sudah berhasil melepas jambakan Manda, dan segera membawa Gisel keluar kantor polisi itu dengan segala kegalaun yang bergelanyut dalam pikirannya.


"Dasar PELAKOR .... Tunggu saja pembalasanku." Teriak Manda bagai orang kesurupan.


“Kalian ikut papa saja. Biar supir papa yang membawa mobilmu.” Keynan paham jika kini Romeo sedang terguncang. Maka ia segera mengambil alih keadaan. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dan takut jika Romeo berubah pikiran.


Romeo dan Gisel pun ia bawa pulang kekediamannya. Untuk keduanya di tenangkan secara fisik dan mental. Tentu saja Giselpun terdampak, atas jambakkan tiba-tiba oleh nenek sihir tadi.


“Mama … temani Gisel saja.” Perintah Keynan pada istrinya.

__ADS_1


“Rom … ikut papa ke ruang kerja.” Perintah Keynan pada anak semata wayangnya yang sedang oleng itu.


Romeo tidak banyak berbicara sejak menjatuhkan kata talak pada Manda. Hatinya sendiri tak percaya akan keputusan mendadaknya tadi. Nyawanya mungkin tak sepenuhnya bersatu dengan raganya untuk menyudahi kebersamaannya dengan wanita yang selama ini ia puja.


“Duduklah …” perintah Keynan sembari menyodorkan sebuah amplop coklat lumayan tebal pada Romeo.


“Apa ini …?” tanyanya sedikit heran.


“Buka saja.” Jawab Keynan datar.


Tanpa ingin menunda waktu, Romeo segera membuka ikatan pada amplop itu. Tangannya bergetar. Bola matanya melotot, hampir keluar. Saat iris matanya berhasil memindai dengan jelas isi di dalam amplol tersebut.


Tak usah di tanya itu apa. Semuanya adalah bukti perselingkuhan Manda dan Roy selama ini. Dan yang menohok bagi Romeo adalah, sebuah gambar Manda dan Roy di sebuah klinik.


“Apa ini Pa …?” tanyanya.


“Ini adalah Manda dan Roy di sebuah klinik bersalin.” Tangannya tak berhenti melihat rentetan foto-foto yang di ambil dengan runtut.


“Apa ini artinya, Manda pernah hamil …?”tanya Romeo pada ayahnya.


“Kamu suaminya. Mestinya kamu yang lebih tau keadaan istrimu. Apakah kamu pernah tau jika istrimu mengalami keguguran atau sedang melakukan praktek aborsi?” tanya Keynan balik.


“Aku tidak tau apakah dia keguguran atau sedang mengugurkan kandungannya. Seingatku, dua tahun di awal pernikahan kami Manda memang sudah tidak mengkonsumsi obat penunda kehamilan. Aku tau itu. Dan tak lama berselang. Ya … Manda sakit. Hampir tiga minggu ia mengalami pendarahan. Tapi ia katakan, waktu itu rahimnya mungkin sedang beradaptasi, memperbaiki hormonnya saja, pasca menggunakan obat penunda kehamilan.” Jawab Romeo dengan lugunya.


“Saat itulah ia melakukan aborsi. Ia yang sejak awal memang berniat menunda kehamilan. Kemudian setelah berhenti mengkonsumsi obat itu ia hamil. Namun, hanya kamu yang tau apakah itu sungguh darah dagingmu. Sebab, hanya di satu tahun awal pernikahanmu dan Manda, Roy tidak mengganggu rumah tangga kalian.” Jawab Keynan pasti.


“Mengapa papa biarkan aku terpuruk dalam ketidaktahuan selama ini …?” tanyanya kecewa.

__ADS_1


“Siapa yang memilih pindah dan tinggal di tempat berbeda dengan mama dan papa. Saat dengan terang kamu memilih Manda untuk selalu kamu percaya?” lagi-lagi Keynan balik bertanya.


“Apakah kamu akan mendengarkan kami, saat di dunia ini hanya Manda yang paling benar di matamu.” Lanjut Keynan masih dengan kestabilan suara tanpa tekanan. Ia tau, anaknya akan terpukul setelah tau semuanya.


Romeo hanya terdiam, dengan masih mengamati foto itu silih berganti.


“Itulah alasan, mengapa hingga di usia yang sebaiknya menikmati masa tua dengan penuh ketenangan ini. Papa belum mau menyerahkan perusahaan besar yang papa miliki. Karena kamu belum bisa berpikir secara obyektif. Kamu terlalu lemah dengan segala tantangan yang akan menghadangmu.” Ujar Keynan mengelus bahu Romeo.


“Papa tau … sekarang kamu sedang terguncang. Tapi, papa tetap mau kamu professional untuk menghadapi semuanya. Untuk itu dalam satu minggu kedepan. Papa mau kamu membuat laporan asset perusahaan yang sedang kamu jalankan. Tertibkan semua keuangan, maka kamu akan semakin tau siapa Manda sesungguhnya.” Tegas Keynan pada putranya.


Romeo tak memiliki daya untuk melawan. Raganya tiba-tiba lelah, apalagi jiwanya. Hatinya hancur menyadari betapa ia telah tertipu daya oleh seorang Manda Juana, wanita pujaannya tersebut.


Romeo keluar dari ruang kerja Keynan dengan segala pikiran yang berkecambuk. Tak kuat otaknya menyandang semua kenyataan yang hari itu di hadapkan untuknya.


Ingin marah, pada siapa? Bukankah hanya dia satu-satunya manusia bodoh yang mempercayai Manda.


Yuniar bahkan sudah mencium gelagat jahat Manda sejak awal. Firasatnya sebagai seorang ibu tak pernah meleset. Namun tak memiliki kekuatan untuk menolak pilihan sang anak semata wayang.


Romeo masuk ke kamar yang di tempati oleh Gisel. Kamar di mana mereka selalu memproses pembuatan anak, keturunan Subagia. Romeo memeluk tubuh mungil yang sedang menatap rinai hujan yang jatuh membasahi bumi, di balik jendela kaca, tertutup tirai remang-remang itu.


“Maukah kamu menjadi istriku yang sesungguhnya? Aku sekarang sudah menjadi duda, aku tidak mungkin merawatnya sendiri tanpa istri.” Peluk Romeo dari belakang tubuh Gisel dan membenamkan hidungnya pada ceruk leher wanita yang sedang mengandung anaknya tersebut.


“Kamu hanya jadi duda dari istri pertamamu. Kamu lupa jika kemarin kita sudah menikah?” Sengaja Gisel mengingatkan Romeo.


“Apa dengan pernikahan siri itu, semua kesepakatan kita pun telah berubah?” tanya Romeo pada Gisel , yang kemudian membalik tubuhnya menghadap pria tampan di depannya.


“Jangan berharap banyak. Bagaimanapun, aku masih istri orang.” Gisel senang berhasil meresahkan pikiran Romeo.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2