RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 22 : MARUK


__ADS_3

Manda melangkah pasti meninggalkan unit apartement itu dengan suasana hati yang acak adut. Bagaimanapun ia benci dengan tuntutan orang di sekitarnya yang memintanya harus memiliki keturunan. Manda memiliki trauma tersendiri atas sebuah kata hamil, katurunan dan juga anak.


Manda di lahirkan dari rahim seorang ibu yang sangat mencintainya tentu. Lalu harus mati di atas meja operasi saat kehilangan banyak darah karena melahirkannya. Kemudian ia di pelihara oleh nenek dari ayahnya. Yang hanya lima bulan menduda kemudian menikah lagi. Maka neneknya tak lagi bersedia mengurusnya. Ia di limpahkan pada Tyas ibu sambungnya.


Seperti kebanyakan kisah ibu tiri pada umumnya, yang hanya cinta pada suaminya saja. Dan tidak tulus mencintai anak terdahulu bawaan dari pernikahan sebelumnya. Manda kerap di lakukan berbeda oleh ibu tiri yang kemudian memiliki anak kandung sendiri.


Ayahnya pun terkontaminasi oleh istri keduanya, yang selalu mengaitkan kematian ibunya oleh kehadirannya. Itulah alasan mengapa Manda tidak pernah mau memiliki anak. Ia takut mati, ia takut akan lahir Manda-Manda lainnya yang belum tentu sekuat ia bertahan hidup hingga sekarang.


Belum lagi dendamnya pada ibu tiri, semua menjadi kompleks membuatnya tidak ingin menjadi seorang ibu hamil, ibu menyusui dan apapun itu yang berurusan dengan anak. Ia lebih suka bersenang-senang tanpa beban. Toh, hidup hanya sekali. Untuk apa mengotori tubuh dan rahimnya hanya demi keturuanan yang baginya tidak terlalu penting.


“Kenapa lama …?” tanya Romeo mencium ceruk leher istrinya ketika Manda sudah duduk di sampingnya.


“Biasa wanita … selalu ada cerita di ujung waktu yang telah berakhir.” Jawabnya mencecup pipi Romeo.


“Apa kita langsung pulang ke rumah …?”


“Apa kamu ingin mengajakku menjenguk wanita penjual rahim itu lagi ?” berang Manda, suasana hatinya makin buruk oleh pikirannya sendiri yang selalu curifga pada suaminya.


“Heey … aku sedang ingin mengajakmu ke puncak. Aku ingin bercinta tanpa di ganggu dan di tempat yang menarik, sayang.” Jawab Romeo tersenyum tampan.


Menyesal Manda sudah curiga berlebihan pada suaminya.


“Tidak usah.” Jawabnya singkat.


“Sayang … ayolah. Setelah ada Gisel aku kehilangan Manda yang manis, mesra dan manja. Ayolah kita mengalihkan tempat untuk kita menciptakan kemesraan kita kembali.” Ajak Romeo yang selalu memanjakan istri kepala batunya itu.


“Aku sedang haid. Percuma kan jika kita harus jauh-jauh ke Puncak atau pergi kebulan sana untuk bercinta. Toh, aku juga tetap tidak bisa hamil.” Ketusnya pada sang suami.


“Oh astaga. Aku harus menahan diri kalau begitu.” Jawab Romeo frustasi, mendengar jika istrinya tidak dapat ia sentuh dengan intens.


“Sayang …”

__ADS_1


“Hmm ….”


“Memey mengajakku liburan ke Milan. Ada pameran di sana.”


“Kamu mau ke sana ?”


“Ya … tanpamu.”


“Heey … mengapa itu terdengar egois. Apa kamu kira kamu saja yang butuh liburan? Aku juga sumpek dengan masalah rumah tangga kita sayang.” Tolak Romeo dengan cepat.


“Percuma … bukankah aku sedang haid.” Bantah Manda jelas tak mau rencananya dan Roy terancam gagal jika Romeo berkeras untuk ikut.


“Bercinta tak selalu menggunakan itu. Bukankah banyak cara lain untuk kita saling melayani.” Cicit Romeo tak mau kalah.


Manda melempar pandangannya gusar keluar jendela. Mana mungkin ia pergi bersama Romeo, sedangkan ia sedang ingin bersama Roy saja tanpa di ganggu.


“Jadi tidak boleh …?” tanya Manda memastikan.


“Huum … nanti kusampaikan pada Memey. Apakah kami boileh mengajak serta para suami.”


“Kalian tidak pergi berdua?” tanya Romeo lagi.


“Yang berangkat itu 15 orang ibu-ibu, sayang. Ke bayang ga sih. Nanti kamu akan selalu ada di anatar ibu-ibu comel itu. Di bully sih, iya.” Karang Manda sukses menciutkan nyali suaminya untukberkeras ikut bersamanya.


“Berapa hari …?”


“Lima.” Jawabnya cepat masih dengan kerangka kebohongannya.


“Kapan berangkat …?”


“Lusa.” Jawabnya lagi.

__ADS_1


“Baiklah … pastikan haidmu sudah bersih ketika pulang. Aku akan sangat merindukanmu.” Ijin Romeo pun segera keluar. Tak perlu bersusah payah bagi Manda untuk mengelabui pria yang bucin akut kepadanya ini.


Jari jemari lentik Manda segera mengirimkan informasi pada Roy, agar mempersiapkan semua keberangkatan bulan madu mereka berdua. Bulan madu …? Preeet.


Manda terpaksa menggunakan pembalut untuk menyempurnakan sandirwaranya. Bagi Romeo tak masalah melepas kepergian istrinya saat wanitanya tak bisa melayaninya. Tentu Manda tidak akan berbuat di luar nalarnya. Padahal ia saja yang bodoh, tidak tau jika semua itu hanya acting Manda belaka.


Semalaman Manda tidak bisa tidur. Terngiang-ngiang di benaknya ucapan Roy tadi siang. “Jika kamu tak bersedia memiliki keturunan untuk Romeo. Maka jangan biarkan satu wanita lainpun memberinya satu keturunan.”Kalimat itu baru bisa ia cerna dengan pikiran jernih.


Mengapa yang Roy katakan baru terasa benar. Bagaimana kelangsungan hidupnya jika anak itu nanti sudah lahir? Apakah benar Gisel mau menyerahkan bayinya untuk mereka. Ah … bukankah Gisel sudah tau betapa kaya suami dan mertuanya, lalu bagaimana jika sungguh ia menuntut untuk di peristri oleh suaminya. Manda sungguh tidak bisa tidur hingga pagi datang. Sementara Romeo malam itu memilih tidur di ruang kerjanya. Entah memang banyak pekerjaan atau memang sedang menghindar istrinya.


Tadinya Romeo ingin menasehati Manda yang berbuat salah pada Gisel di tempat umum. Tapi, ia melihat suasananya tidak tepat. Ia paham jika Manda membenci Gisel. Dan Romeo sadar itu wajar, sebab yang Romeo pandang dari sisi Manda. Yang merasa terpuruk akan kemandulanya, dan harus rela bersabar menerima suami yang bersettubuh denga wanita lain hingga mengandung. Romeo paham akan luka batin Manda.


Pagi datang, Manda terbangun karena kecupan basah di bibirnya. Romeo sudah tampak rapi dengan pakaian kerjanya. Romeo sungguh tak pernah di layani selayaknya seorang suami oleh Manda. Melainkan justru ada segelas susu dan roti bakar yang Romeo siapkan untuk istrinya di atas Nakas.


“Aku tau … saat kamu haid. Bawaannya bête dan mager. Sudah ku siapkan sarapanmu. Istrirahatlah yang banyak, fisikmu harus kuat, sebab besok akan melakukan perjalanan jauh.” Ujarnya mengusap rambut Manda penuh


sayang.


Entah suami macam apa lagi yang Manda cari, semua kriteria suami idaman ada pada Romeo. Tapi, sungguh cinta kadang membuat orang menjadi bodoh. Tak bisa membedakan mana yang tulus juga modus. Huh … kesel jadinya jika terus membahas tentang Manda ini.


Pikiran Manda sudah bulat semalam. Bahwa hari ini ia harus menemui Gisel. Ia harus memberikan peringatan pada wanita penjual rahim itu. Walau besok ia kann melakukan perjalanan bersama kekasihnya, yangb tentu sangat menjanjikan kesenangan. Tapi di sisi lain hatinya, pun khawatir. Akankah sepeninggalannya nanti Romeo akan  dengan leluasa mencumbu Gisel, wanita yang tengah mengandung bayinya.


Bersambung …


Itu namanya Manda atau Maruk ya  …


Happy reeding selalu buat kalian ya


Dapat salam dari Manda


__ADS_1


__ADS_2