
Gisel terkesiap mendengar hal yang baru saja indera dengarnya tangkap dari mulut Romeo.
“Jadi selama ini Manda mengkonsumsi obat penunda kehamilan …?” ulangnya dengan bahasa yang berbeda namun bertujuan sama.
“Ya begitulah.”
“Jangan bercanda.” Gisel merasa hal itu hanya sebuah lelucon.
“Aku bahkan sudah menanyakan langsung padanya.” Ungkap Romeo semakinterdengar kecewa.
“Dan dia mengakuinya ?” Gisel masih bersemangat ingin tau akan kebenaran itu.
“Ya … dia sendiri mengakuinya.”
“Apa yang kamu pikirkan tentang dia …?” tanya Gisel lebih ingin tau, apakah pria itu masih mencintai wanita yang jelas sudah membohonginya selama hidup bersamanya.
“Entahlah …?” Romeo menggosok kasar kulit wajahnya.
“Kamu terlalu cinta dia.” Simpul Gisel tanpa di minta.
“Apa aku salah, mencintai wanita yang memang aku piliuh untuk menjadi istriku?” Romeo balik bertanya.
“Tentu saja tidak salah. Tapi cinta tidak seegois itu.” Suasana kamar mendadak hening. Baik Gisela tau pun Romeo tak berminat untuk memulai obrolan lagi.
“Menurutmu … apa aku memang harus membebaskannya …?” Gisel akhirnya membuka lagi pembicaraan mereka berdua. Masih di atas ranjang yang sama. Saling berbicara senyaman mungkin.
“Apa kamu sedang berniat untuk tetap mengurungnya hingga membusuk di dalam penjara …?” Nada suara Romeo naik satu oktaf. Tak terima hatinya, jika Manda tidak jadi di bebaskan.
“Bukan begitu. Hanya mari kita sama-sama berpikir sejenak. Tanggalkan dahulu rasa cinta, sayang, kasihan atau apapun itu yang sedang dalam pikiranmu.” Elak Gisel pelan.
“Harus begitu …?”
__ADS_1
“Maaf … bukannya aku lancang. Bisa kamu paparkan penyebab Manda di tahan ?”
“Karena menganiayamu bahkan telah mencelakai calon anakku.” Jawab Romeo.
“Oke … Kemudian, jika dia bebas. Apa kamu yakin dia akan berubah sikap?” Artinya, apakah kamu benar bisa menjamin bahwa Manda tidak akan menyakiti kami, aku dan calon anakmu ini. “ Pegang Gisel pada perutnya sendiri.
“Jangan lupa, kamu dan kedua orang tuamu sangat menginginkan anak ini. Dan yang harus kamu waspadai adalah, bahwa istri yang sangat kamu cintai itu bahkan telah sukses membohongimu selama usia pernikahan kalian. Kamu terlalu mudah ia tipu daya. Sekali lagi … apakamu yakin bisa menjaga kami? Memastikan keselamatan kami hingga masa kelahiran?” tegas Gisel pada Romeo.
“Kamu ingin mengatakan jika Manda adalah seorang penjahat?” tanya Romeo menartikan ungkapan Gisel.
“Aku tidak merujuk ke situ. Hanya … memar, jarum infus, nyeri, juga cacian yang ia lakukan di depan umum itu. Tidak hanya menyakiti fisikku. Tapi mentalku juga. Dan aku takut itu akan berimbas pada anak, ini. Bukankah kamu ingin memiliki anak yang sehat secara lahir dan bathin?” Shock terapi yang Gisel lakukan, berhasil membuat kepala Romeo sakit memikirkannya.
Yang Gisel katakana soal tumbuh kembang janinnya itu benar. Pun Manda yang membohonginya juga tidak salah. Tapi bagaiamana dengan hatinya? Apa kabar dengan sumpah dan janji pernikahan mereka selama ini?
Tetapi, kini Romeo bahkan sudah melakukan pernikahan siri bersama Gisel. Apakah itu bukan termasuk dalam kategori pengkhianatan? Lalu untuk apa selalu mengangungkan cintanya pada Manda. Hatinya bertolak belakang. Antara bayangan masa depannya dengan anak yang selama ini ia rindukan, dengan masa –masa indahnya bersama Manda, wanita pujaannya.
“Tidurlah … aku akan memikirnyanhya dari segala sisi. Dan sesungguhnya aku bukan Tuhan. Yang bisa menjamin keselamatanmu juga calon anakku. Untuk itu, akupun tidak memaksakan kehendakku dalam hal pembebasan Manda. Kamu benar, ia sudah membohongiku selama ini, tetapi jujur. Bolehkan aku memberinya satu kesempatan dalam hal, memberi keprcayaan agar tetap bisa menjadi istrikiu dan ibu dari anak yang kamu kandung sekarang.” Ucap Romeo panjang.
“Aku bukan Dandy…” Jawab Romeo.
“Memang . Itu hanya sebuah ilustrasi dari sebuah kata konyol alias cinta itu. Apalagi, cinta yang kamu gaungkan itu, hanya lah cinta yang bertepuk sebelah tangan.” Sindir Gisel tajam.
“Siapa yang bertepuk sebelah tangan ? Manda juga mencintaiku!”
“Lalu … mengapa dia tak mau memberimu anak?”
“Dia memiliki trauma sendiri.”
“Hah … alasan. Cinta itu luar biasa, jangankan trauma. Tidak makan berhari-haripun kuat, jika sedang jatuh cinta.” Umpat Gisel ikut emosi.
“Aku sudah berjuang berdarah-darah mendapatkannya dari kekasih sebelumnya. Dan Manda memilihku. Dengan alasan lebih mencintaiku dari pada pria itu.” Berang Romeo.
__ADS_1
“Inilah alasan aku terlalu malas mengatakan yang sejujurnya waktu itu. Bahkan walau aku hampir mati di aniaya oleh Manda, toh dia tetap yang paling benar di matamu. Selamat malam.” Gisel menarik selimut dan memberi punggung pada seorang Romoe. Yang sesungguhnya malam itu sudah menjadi suami sirinya. Bukankah malam itu adalah malam pertama mereka setelah ijab qabul.
Sinar mentari menerobos masuk di cela mana saja ia bisa masuk. Menyapa penduduk dunia yang bersedia menerima hangatnya. Romeo sedang meringkuk dakam selimut sendiri. Sedangkan Gisel sudah swedari tadi bangun, untuk segerla melakukan aktivitasnya seperti biasa, sebagai ibu rumah tangga. Dan untuk sementara, ia sedang tidak memptoduksi kue kering. Sebab stoknya masih lumayan banyak, sehingga ia boleh sedikit bersantai.
Nasi goreng mix sayur sudah Gisel buatkan untuknya dan Romeo. Gisel tentu telah mahir dalam hal memasak hal itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Sama halnya dengan membangunkan pria yang berstatus suaminya. Dulu, dandy juga kerap kali terlambat bangun, sehingga Gisel memang selalu mengalah dalam hal membangunkan suaminya.
“Rom …” Tepuknya pada pipi Romeo agak pelan.
“Apakah hari ini kita jadi ke tahanan untuk membebaskan Manda ?” Ujar Gisel di dekat telinga Romeo.
“Hah …?”
“Bangun … sarapanlah bersama aku dan calon anakmu ini. Dia bahkan pagi ini minta di suap oleh daddynya.” Tiba-tiba ide centil Gisel muncul.
Romeo memicingkan matanya. Dan tatapannya langsung tertuju pada perut menonjol itu.
“Selamat pagi anak kesayangan daddy.” Kecup Romeo pada perut Gisel segera.
“Ayo sarapan, aku sudah membuat nasi goreng untuk kita.” Senyum manis Gisel terkembang, dan untuk pertama kalinya Romeo mengakui jika Gisel memiliki kecantikan alami, bahkan saat wanita itu baru bangun tidur tanpa ada polesan apapun di wajahnya.
Mereka sudah duduk di meja makan. Romeo tergugah hanya dari melihat sajian sederhana di meja itu. Terlintas dalam pikirannya, Jika selama ini pemandangan ini tak pernah Manda ciptakan untuknya.
“A … cepatlah. Kami sudah sangat lapar.” Gisel sengaja minta Romeo menyuapinya.
“Mengapa terburu-buru?” tanya Romeo merasa gemas dengan tingkah Gisel seperti seorang anak kecil.
“Bukankah kita harus segera menemui Manda, untuk membebaskannya?” seloroh Gisel memastikan tekad Romeo untuk membebaskan wanita licik itu.
“Apakah … kita akan selalu merasa seaman ini jika dia bebas nanti?”
Bersambung …
__ADS_1