RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 70 : PRINSIP LAMA


__ADS_3

Senyum Indah tertahan, saat pertanyaan Yuniar selesai di lontarkan padanya. Bagaimana ia menjawabnya. Dan tidak mungkin ia pura-puratidak mendengar. Sebab hanya ada mereka berdua yang masih saling berdiri dengan jarak hanya dua langkah. Indah juga tidak bisa serta merta melumpuhkan ingatan Yuniar tentang lelaki yang menjadi cinta pertamanya.


Romeo adalah cinta pertamanya. Bahkan Yuniar adalah tempatnya berkeluh kesah. Berbagi perasaan tentang dahsyatnya obsesei yang ingin ia capai untuk menjadika Romeo seutuhnya. Yuniar juga orang nomor satu yang memupuk rasa sayang, cinta dan apalag itu dalam hatinya. Sehingga Romeo adalah satu-satunya pria yang menjadi acuannya. Menjadi barometernya dalam hal mendapatkan laki-laki.


Sampai di sini paham kan, mengapa Yuniar tidak pernah suka dengan Manda. Yuniar mau, Indahlah yang menjadi istri Romeo. Karena ia sudah sangat tau sifat dan karakter Indah. Namun, jodoh tidak di tangan Yuniar melainkan di tangan author eh. Ditangan Tuhan. Maka Indah memilih mundur saat semakin sadar jika Romeo bagaikan kupu-kupu. Dekat namun tak tergapai.


“Tante … ih pertanyaannya kok ke situ?” Indah tersipu berharap Yuniar tak tau betapa guru gemuruh itu sempat terjadi dalam hatinya, hanya karena melihat wajah Romeo kembali.


“Tante Cuma mau bilang dan ingatkan. Kalian tidak berjodoh.” Yuniar menepuk bahu Indah, seolah ingin memberi ketenangan untuk wanita cantik di depannya.


“Huuum. I Know tante.” Indah memeluk Yuniar.


“Masih cinta …?” bisik Yuniar lembut di dekat daun telinga Indah. Reflek Indak mengangguk.


“Iya.” Jawabnya tanpa sungkan.


“Mau jadi pelakor?” tanya Yuniar. Entah itu tawaran, tantangan atau teguran.


“Ha … ha. Prinsipku masih sama tante. Cinta adalah mengijinkan dia yang tercinta bahagia dengan pilihannya.” Dengan lantang Indah memastikan perasaannya.


“Anak baik.” Yuniar mendusel puncak kepala Indah seolah Indah masih kecil.


“Mami … pulang.” Suara anak kecil yang tergopoh-gopoh berlari menuju tempat Indah dan Yuniar berdiri. Dari perawakannya bocah itu berusia 4 tahun.


“Juliet … salam oma dulu sayang.” Pinta Indah pada anak perempuan yang sudah menggandeng tangannya.


“Hai oma, aku Juliet.” Sopan anak cantik itu segera memperkenalkan dirinya pada Yuniar.


“Waah … cantik sekali namanya seperti orangnya.” Puji Yuniar langsung akrab pada anak kecil itu.

__ADS_1


“Kenapa namanya Juliet?” tanya Yuniar ke arah Indah.


“Biar jodoh sama Romeo, ha … ha … ha.” Tawa Indah terlerai dengan sendirinya. Di sambut bahak tawa dari Yuniar merasa begitu Indah masih terobsesi dengan putranya.


“Mami … jodoh itu apa?” yes. Juliet tidak tuli ya. Pendengarannya sebagai bocah 4 tahun tentu masih sangat berfungsi dengan baik. Tapi, otaknya belum sempurna untuk memindai akan hal yang di bicarakan di sekitarnya.


“Oh … ga. Bukan apa-apa sayang. Mami hanya bercanda.” Indah secepatnya menepis pertanyaan yang timbul dari ke absurdannya sendiri.


“Heei … siapa anak cantik ini.” Tiba-tiba Romeo dan Gisel sudah kembali merapatkan diri mereka ke tempat semula. Sebab merasa urusan mereka sudah selesai di sudut lain ruangan butik tersebut.


“Haii … aku Juliet. Anak papi Robert dan mami Indah.” Dengan ramahnya lagi-lagi Juliet memperkenalkan diri kepada setiap orang yang baru di lihatnya.


“Woooh… ini anakmu Ndah …? Cantik banget siiih kamu.” Romeo reflek menggendong tubuh kecil itu ke pelukannya.


“Oh … iya donk. Maminya aja cantik paripurna begini. Masa anaknya ga …?” Indah terkekeh memuji dirinya sendiri.


“Yess. Papinya eks penjajah bangsa kita.” Kekeh Indah masih dengan nada jenaka.


“Iiih. Juliet nanti nikahnya sama anak Om aja ya. Kamu gemesiiin banget.” Kekeh Romeo menurunkan Juliet dari gendongannya.


“Nikah itu apa Om …?” tanya Juliet mendongakkan kepalnya pada Romeo yang sudah tidak sejajar tingginya dengan tubuhnya.


“Juliet sayang … ga usah dengerin omongan mami dan om kamu itu. Mereka suka bercanda.” Yuniar memilih mengamankan pendengarn anak yang tak mengerti dengan tujuan pembicaraan dua teman kecil itu saling reuni.


“Semoga anak kita ini nanti cewek ya sayang. Liatuh Juliet lucu dan gemesin banget.” Romeo mengusap perut Gisel.


“Perut tante sakit?” tanya Juliet yang sempat melihat tangan Romeo mengusap perut Gisel.


“Tidak, cantik. Tapi di perut tante ada dede bayinya.” Gisel ikut bicara. Dia juga merasa suka melihat kecantikan Juliet.

__ADS_1


“Oh … kaya perut mami. Juga pernah ada dede bayinya. Tapi, Dedenya ga mau main sama Juliet, sukanya main sama Tuhan.” Celotehnya lirih seperti sedang bersedih.


“Gimana ?” Romeo menatap Indah.


“Oh … 6 bulan lalu aku mengalami keguguran. Dan dia sempat antusias sekali ingin cepat punya adik untuk di ajak bermain.” Indah menjelaskan.


“Oh … ga papa sayang. Nanti lama-lama juga kita bakalan ketemu lagi sama dede bayinya. Bisa main sama-sama lagi kok.” Gisel memilih duduk mendekati Juliet. Tiba-tiba merasa senasib pernah kehilangan orang yang tersayang.


Obrolan mereka tidak bisa terhenti begitu saja di butik. Sebab setelahnya Robert suami Indah datang menghampiri mereka. Jadilah pertemuan alias reuni kecil-kecilan itu berakhir di sebuah tempat makan mewah. Di sana Yuniar dapat menyimpulkan jika Indah sudah mendapatkan pria yang sangat baik untuknya.


Mungkin cinta pertamanya tak tergapai. Tetapi cinta sejatinya sungguh sudah dalam genggamannya. Wajar saja Indah yakin, bahwa dia tidak akan menoleh kebelakang, atau sekedar penasaran pada cinta masa lalunya. Sebab, masa depannya memang lebih gemilang bersama Robert lelaki yang telah menjadi suaminya.


“Overall wanita baik akan bertemu dengan orang yang baik juga. Tante bahagia bisa bertemu kalian, titip Indah kesayangan tante ya… Robert.” Yuniar bagai seorang ibu yang tengah melepas anak gadisnya pada Robert yang terlihat sangat menyayangi Indah.


“Yess … aku lelaki beruntung karena bisa memiliki istri seperti Indah. Indah bukan hanya namanya, tapi juga hatinya. She is very beautiful inside and out.” Puji Robert pada istrinya.


“So sweet.” Peluk Yuniar bangga pada Robert suami Indah.


“Oke see you next time. Nice to meet you.” Perpisahan pun tak terelakkan. Mengingat masih panjang daftar yang harus mereka sambangi lagi untuk persiapan resepsi satu bulan ke depan.


“Gisel … kamu Oke. Kalo kita mampir ke satu hotel untuk cek menu makanan?” Yuniar selalu harus memastikan kondisi Gisel. Sesuai janjinya. Dia tidak mau Gisel capek karena tuntutannya melaksanakan resepsi pernikahan mereka ini.


“Dia oke mam.” Jawab Romeo.


“Kenapa kamu yang jawab? Yang hamil dia bukan kamu.” Hardik Yuniar pada Romeo yang sangat terlihat semangat memeluk tubuh mungil Gisel.


“Kami akan langsung tes kamarnya malam ini.”


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2