
Tujuan melakukan ingin menciptakan suasana roimantis, manis juga mencapai sesuatu yang menimbulkan kesan terindah saat melakukan perjalanan selama liburan. Mendadak berubah.
Tidak di rasakannya rasa santai, senang juga menyenangkan bagi pasangan yang ingin berbabymoon. Mendadak suasana liburan mereka sedikit kacau, akibat pertemuan Gisel dan adik iparnya. Kekhwatiran Romeo terjadi, bukan menghasilkan kesukacitaan saat memilih kota itu untuk melepas lelah bersama istrinya. Namun, hanya menyampir luka yang selama ini tersimpan rapi dalam benak istrinya.
Lima hari terbuang percuma, keduanya hanya habiskan di satu tempat wisata. Selebihnya hanya kamar hotel tempat mereka berkubang. Namun, hal itu di manfaatkan Romeo untuk lebih banyak mengenal pribadi istri yang kini wajib di lindunginya baik secara lahir dan batinnya.
Sebab, Romeo sudah setuju dengan istilah Gisel tentang komitmen. Dan ia sudah berjanji dalam hatinya. Untuk membahagiakan wanita yang selama ini, menurutnya tidak bahagia pada pernikahan sebelumnya.
Romeo tiak lagi lemah, tak lagi tak peka. Kini semakin detail dalam hal memproteksi Gisel. Ia sudah menambah beberapa orang untuk lebih teliti lagi dalam hal mencari keberadaan Dandy. Ia ingin segera memiliki Gisel secara resmi. Sebab, Gisel mampu dalam sekejab membuatnya berubah haluan dari rasa cinta akutnya pada Manda Juana.
“Gisel … kakimu sudah bengkak, sayang. Kapan HPL mu?” Yuniar sudah berada di kediaman anaknya. Tentu saja ia sedang mengunjungi menantu kesayangannya tersebut. Kepergian Romeo dan Gisel untuk berbabymoon juga bagian dari idenya. Hanya, ia tak tau apa yang terjadi di sana, saat keduanya melakukan perjalanan yang tentu, Yuniar kira adalah sesuatu yang mengesankan bagi keduanya.
“Iya mama … ini sudah masuk ke 37 minggu. Bisa jadi aku akan melahirkan dalam waktu dekat.” Jawabnya sambiul memeluk cium ibu mertuanya tersebut.
”Siapkan saja semuanya. Hari ini biar mama yang akan menemanimu pergi ke dokter.” Tegas Yuniar yang sudah tak sabar menggendong cucu.
“Mama … itu anakku. Aku tak mau melewatkan momen apapun terlewat tanpa aku.” Romeo sudah bergabung pada dua wanita terpenting dalam hidupnya. Yang satu adalah wanita yang membuatnya ada di dunia, dan yang satunya lagi adalah wanita yang akan membuatnya menjadi seorang ayah. Dan Romeo pu sudah tak sabar akan hal tersebut terwujud.
__ADS_1
“Baiklah … mama tidak mau kalian menunda pemeriksaan. Hari ini juga, kita harus segera ke klinik.” Tegas Yuniar yang juga pernah memiliki pengalaman dalam hal melahirkan.
“Mama … ini anak keduaku. Aku tentu lebih tau tahapan apa yang akan terjadi padaku.” Jawab Gisel.
“Iya benar saja. Tapi, yang harus kamu tau adalah, beda kepala yang akan keluar juga beda gaya, sayang. Apalagi, ini adalah anak yang berasal dari ayah yang berbeda.” Yuniar menggoda Gisel dengan nada penuh canda.
“I know, mama.” Tawa Gisel terlerai. Sejak pulang berlibur, sepertinya Gisel memang sedikit demi sedikit lebih terbuka lagi dalam hal menerima Romeo. Tak sungkan lagi menerima pernikahan keduanya ini. Dan tidak ingin terjebak dalam kenangan pahitnya bersama Dandy yang memang tak layak untuk di kenang apalagi di bingkai indah dalam sanubarinya.
Komitmen yang pernah ia gaungkan dalam hatinya untuk perjalanan rumah tangganya bersama Dandy, pupuslah sudah. Berganti dengan keinginan yang ingin ia perbaharui.
Bukankah Romeo telah banyak berkorban secara materi untuknya, lalu mengapa ia memilih bertahan pada rasa dendamnya pada Dandy, yang hanya menghalang kebahagiaan yang akan ia jelang bersama Romeo.
“Tenang sayang … kepada siapa Gisel berlindung. Jika bibirmu tak berdarah seperti ini?” Yuniar menghapus keringan yang bercucuran pada kening anak semata wayangnya. Sebab sedari tadi Romeo nampak bingung, ikut masuk ruang bersalin atau tidak.
“Mama aku sangat gugup, takut juga aaah …. Beginikah rasanya akan menjadi seorang ayah.” Sikapmanja Romeo muncul, saat Gisel sudah dalam posisi kaki terbuka menghadap peralatan yang akan mendukungnya untuk memberikan anak untuk Romeo.
“Semua pria menikah merasakan hal yang sama saat istri mereka berjuang melawan maut. Sakitnya melahirkan itu tak terbandingkan. Dia begitu demi kamu, tiap wanita menikah selalu berkorban sesakit itu. Lalu di mana tangan kuatmu untuk mendukung pengorbananya? Apakah sekarang kamu ingin dia berjuang sendiri?” pancing Yuniar untuk memacu aderenalin putra semata wayangnya.
__ADS_1
Mendadap kaki Romeo menerobos pintu ruang bersalin. Segera mengambil posisi tepat di samping istrinya. Meraik tangan untuk ia genggam, mencium kening basah yang sejak tadi sudah di dera rasa sakit yang luar biasa.
“Maaf membuatmu sakit.” Ucap Romeo berbisik di telinga istrinya.
Gisel hanya menatap tanpa permintaan lain, selain memohon dukugan kekuatan pada orang-orang di sekitarnya.
“Aku mencintaimu, Gisel Maryam.” Kecup Romeo lagi pada kening wanita kedua yang datang dalam hatinya.
Gisel bukan tidak menanggapi ucapan yang Romeo sampaikan padanya, namun bersama dengan ucapan tadi suara bayipun terdengar menguar memenuhi ruang bersalin tersebut. Sehinga hanya dalam hitungan menit, di tangan salah seorang tim medis, telah tampak bayi yang merah yang mesih berlumuran darah. Sedang di bersihkan, di timbang kemudian di letakan di atas dadanya.
“Kamu malaikatku … terima kasih mebuatku menjadi seorang ayah. I love you so much, bunda kesayangan.” Tak henti-hentinya Romeo mengungkapkan rasa terima kasih tak terperinya pada Gisel. Wanita yang awalnya hanya ia pinjam rahimnya nuntuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang ayah. Tetapi, kini justru wanita itu telah berhasil menguasai hatinya.
“Jangan berlebihan. Kita bisa sampai di fase ini adalah prose yang sangat panjang. Selamat ya … akhirnya kamu sungguh menjadi seorang ayah.” Jawab Gisel dengan air mata yang tiba-tiba keluar dari sudut matanya.
Organ vittalnya tentu sakit setelah bertarung mengeluarkan buah hati untuk Romeo suami keduanya. Namun air mata yang keluar itu tidak murni, air mata kebahagiaan karena telah mewujudkan impian seorang pria yang datang dengan tidak sengaja dalam hidupnya. Tetapi, hal yang baru saja terjadi tadi baginya bagai dejavu. Sebab ini adalah kali keduanya melahirkan. tentu sekelebat rentetan saat ia melahirkan Gavy, pun. Ikut hadir silih berganti mengacaukan pikirannya saat melahirkan anak untuk suami keduanya.
"Welcome anak ayah ..." Romeo tak mampu membendung butiran air mata terharunya, saat bayi merah itu di letakkan di atas tubuh Gisel. Rupa-rupa perasaan Romeo kini. Seolah tak percaya jika kini, ia telah sungguh menjadi orang tua. Menjadi ayah dari bayi yang ia beri nama Oniel Romero.
__ADS_1
Bersambung ...