
Kepala Keynan mau pecah saat Romoe dan Gisel sama bodohnya. Tak mengerti dengan apa yang ia maksudkan. Keynan tau menganjurkan anaknyua untuk berpoligami itu salah. Tapi ini beda kasus. Toh, ia meminta anaknya menikah karena, wanita itu sudah hamil dan jelas oleh perbuatan anaknya. Juga, sebentar lagi Manda pun kan harus di depak dari daftar keluarga Romeo. Apa yang salah?
Tapi mengapa Gisel ikut bodoh tidak mau menikah dengan anaknya? Bermacam-macam jalan pikiran yang tak dapat Keynan salami, saat itu.
“Mama akan ikut tinggal bersama Gisel.” Ujar Yuniar yang sudah sangat menyayangi Gisel. Ada apalagi dengan keputusan istrinya, yang tidak ingin jauh dari Gisel. Semua menjadi rumit. Ini gila.
“Siapa kepala keluargamu, Ma …?” tanya Keyna memberi kode.
“Heem …” dehemnya tak suka, saat secara tidak langsung suaminya melarang ia membela Gisel. Ia paham, bukan bermaksud, menemani Gisel yang ia larang. Tapi membela wanita yang tidak halal untuk anaknya itu yang salah.
“Biar nanti aku yang sesekali menjenguknya di rumah itu.” Ujar Romeo memberi rasa tenang untuk ibunya.
“Ya … lebih baik begitu. Tinggallah di sana bersama. Agar warga setempat mengrebek, mengawin paksa kalian berdua. Dasar pasangan kumpul kebo!!!.” Ucap Keynan berlalu meninggalkan ruang rawat inap tersebut. Namun terhambat karena kedatangan para pria berseragam aparat pengayom masyarakat di depannya.
“Ijin … apakah benar di sini ada psien bernama Gisel Maryam?” tanya salah satu petugas tersebut.
“Iya benar … ada apa ya …?” tanya Romeo yang mendengar pertanyaan tersebut.
“Kami ingin melakukan visume. Terkait laporan penganiyayaan. Dan di sini tercatat jika Gisel Maryam sebagai korban. Apakah benar …?”
“Iya …”
“Tidak.” Jawaban bersamaan dengan isi yang berbeda dari Romeo dan Gisel terdengar tak seide.
“Maaf … iya atau tidak?” tanya polisi memastikan.
“Iya, saya sebagai korban kemarin. Tetapi saya tidak bersedia di lakukan visume.” Tegas Gisel membingungkan semua yang mendengar jawabannya.
“Ini sudah menjadi agenda kami. Bekerja samalah. Kasus ini tidak akan bisa berlanjut jika kami tidak mendapat bukti fisik.” Paksa para aparat di situ.
__ADS_1
“Saya tidak merasa pernah melapor. Dan saya tidak merasa perlu untuk bekerjasama dengan kalian.” Jawab Gisel egois.
“Tapi saudari Manda Juana statusnya sudah naik menajdi tersangka. Dan sudah kami tahan.” Ujar polisi menerangkan.
“ Saya tidak pernah melapor siapapun, dan tidak ingin menuntut siapapun.” Gisel berkata dengan wajah dingin. Wajah Keynan merah padam. Bukankah sia-sia pemantauannya selama ini, jika penangkapan Manda di cabut begitu saja.
“Anda harus membuat pernyataan pencabutan laporan.” Saran aparat pada Gisel.
“Apa yang saya cabut …? Menancapkannya saja tidak.”Jawab Gisel tak mengerti.
“Buat saja berita acaranya, nanti dia akan menandatangainya.” Ujar Romeo seolah mendapat durian runtuh saat rungunya mendengar Gisel membebaskan Manda. Sungguh hatinya berlonjak kegirangan, jika benar Gisel yang tidak bersedia melanjutkan hukuman itu. (Kayak kasus Les-Lar yaah)
“Baiklah … kami akan proses secepatnya. Dan mohon kesediaannya untuk tetap ke kantor dalam upaya perdamaian. Permisi.” Aparat pun undur diri. Sekaligus menggeleng kepala, tak mengerti dengan kasus besar yang hanya selangkah lagi selesai, namun di tutup dengan begitu mudahnya.
Keynan diam seribu bahasa. Mencerna keputusan yang begitu berani di ambil oleh Gisel. Apa dia sendiri tidak sadar, bahwa nyawanyalah yang kini sedang dalam bahaya. Keynan mengutak-atik layar ponselnya. Seperti sedang memiliki banyak urusan. Namun tetap tidak beranjak untuk pulang dan pergi dari ruang rawat inap tersebut.
“Terima kasih.” Peluk Romeo pada Gisel. Tentu saja ia sangat berterima kasih, sebab ketidakbersediaannya Gisel untuk di visume, membuat jalan kebebasan Manda semakin di depan matanya, bukan.
“Aku menyelesaikan administrasi dulu.” Pamit Romeo tanpa di setujui oleh siapapun dalam ruangan itu.
“Apa alasanmu tidak ingin menikah dengan ayah dari bayimu ini, Sel?” tanya Yuniar pelan sambil merapikan anak rambut yang terberai di sekitaran kening Gisel.
“Saya tidak percaya dengan sebuah ikatan pernikahan.” Jawabnya pelan.
“Tidak semua pernikahan itu buruk. Tergantung personal yang menjalankannya.” Tepuk Yuniar lembut pada punggung Gisel.
“Dulu Dandy pernah mengajakku menikah, dengan alasan cinta. Tapi, aku di tipu. Aku bakhkan kehilangan anakku. Dan itu sangat menyakitkan. Belum habis sedihku untuk menangisi jalan hidupku. Masa aku harus menikah lagi bahkan tanpa rasa. Belum lagi, ayah bayiku ini sangat, amat mencintai istrinya. Jika aku menerima untuk di nikahkan, kemungkinan besar, aku hanya menjadi sasaran pelampiasan naafsunya, dan yang pasti memang benar. Sejak awal aku memang hanya wanita pabrik anak, wanita penjual rahim. Nyonya … Tuan. Tolong mengertilah. Jangan ambil aku sebagai menantu. Aku tak lain hanya wanita mata duitan, yang sedang memperalat anak kalian untukku mendapatkan uang. Aku jallang …” Ungkap Gisel dengan airmata yang terurai. Entah kalimat itu tulus atau tidak. Bisa jadi itu hanya bagian dari sandiwara Gisel untuk menarik simpatik kedua orang tua Romeo padanya.
Bukankah Gisel sudah bertekad membuat merebut Romeo dari Manda. Lalu mengapa ia bebaskan wanita ular itu. Lalu mengapa dengan tegas ia menolak untuk di nikahi oleh Romeo, bahkan dengan jelas restu itu sudah di layangkan oleh kedua orang tua lelaki yang sudah membuatnya hamil.
__ADS_1
Yuniar menarik nafas dalam, melempar tatapan sayu bahkan sendu pada suaminya. Seolah menemukan jalan buntu untuk ikut merubah keputusan ibu dari calon cucu mereka.
Tak lama berselang, petugas datang membawakan makan siang. Bersama dengan perawat yang juga datang mengantarkan beberapa resep obat untuk di konsumsi Gisel beberpa hari ke depan. Agar staminanya sunguh pulih dan kembali sehat.
Romeo datang, kemudian terlihat sibuk mengemasi barang yang mungkin akan di bawa pulang, sesuai dengan yang dokter sampaikan tadi. Bahwa Gisel sudah boleh pulang setelah jam makan siang.
“Sudah makan …?” tanya Romeo datar.
“Masih kenyang. Nanti di rumah saja.” Jawab Gisel dengan suara pelan dan datar.
“Janji …?” Romeo memastikan.
“Heem.” Dehem Gisel pelan.
Tok
Tok
Tok
Suara pintu ruang rawat Gisel terdengar di ketuk lagi. Sungguh banyak yang keluar masuk pintu itu hari ini, seolah kamar itu sedang di huni oleh selebritis saja.
“Permisi … saya sudah bawakan penghulu yang akan menikahkan saudara Romeo dan Gisel.” Ujar Budi, orang kepercayaan Keynan yang tentu saja sudah di setting oleh Keynan dalam kesenyapannya sejak tadi.
“Siapa yang mau menikah …?” tanya Romeo memandang ke arah ayahnya. Ia tau Keynan lah otak pelaku dari semua settingan ini.
“Kalian yang menginginkan ini terjadi.” Jawab Keynan datar.
“Kapan … kami jelas menolak pernikahan ini.” Tolak Romeo mentah-mentah.
__ADS_1
“Bukankah Gisel bersedia membebaskan Manda …? Itu secara tidak langsung menginginkan pernikahan ini harus terjadi.” Tegas Keynan licik.
Bersambung ….