
Gisel tidak dapat menampik jika lelaki bernama Romeo yang secara tak sengaja ia temui dan kenal di sebuah club malam itu adalah sosok pria idaman para wanita. Dari segi fisik maupun harta, apalagi budinya. Romeo ialah lelaki tampan, mampan juga memiliki sejuta pesona. Tak salah malam itu ia mengejar Romeo untuk masuk, berkenalan. Bahkan melakukan kerjasama konyol bersama pria yang hanya dalam hitungan menit saja ia kenal.
Gisel tidak buta. Ia dapat melihat dengan kasat mata keunggulan ayah dari anaknya tersebut. Tentu saja ia sangat jelas melihatnya. Tapi yang buta itu hatinya. Hati Gisel yang sudah terlanjur menjadi batu. Yang sudah kebas dan tak mau merasakan semua perlakuan suaminya.
Tetapi … ada apa dengan kondisi otaknya sepulang dari salon tadi? Mengapa ada sedikit perasaan ingin tau banyak tentang hubungan suaminya dengan pegawai salon bernama Gladys. Mengapa tidak ia segera tepis saja gambar itu, dan percaya bahwa itu adalah bagian dari masa lalu Romeo. Bisa saja kan, Gladys adalah wanita yang pernah Romeo inginkan menjadi wanita yang ia buahi rahimnya. Mungkin saja wanita itu bohong, saat mengatakan kapan itu terjadi.
Gisel perlu konfirmasi dari suaminya. Sehingga saat lelaki itu sudah menggerayanginya pun, ia tetap berkeras untuk tidak merespon dengan baik. Demikian juga dengan Romeo. Seketika ia menghentikan aksinya saat sebuah pertanyaan di lontarkan padanya.
“Ayah …O. Apa pernah kenal dengan wanita bernama Gladys?”
“Gladys … siapa ya?” ada tatapan bingung yang Romeo pasangkan sambil menatap lekat wajah istrinya.
“Iya … namanya Gladys, dia mengaku kenal dan akrab denganmu.” Gisel menjawab, sambil merapikan pakaiannya yang sempat saja porak poranda oleh ulah suaminya,.
“Sayang ketemu di mana?” Romeo membelai surai panjang hitam wanita yang kini sungguh sangat di cintainya.
“Di salon.”
“Wanita …? Di salon …? Ga ada.”
“Aku tidak pernah punya kenalan wanita yang bekerja di salon, sayang.” Jawabnya mengingat-ingat.
“Kalau tidak kenal, kenapa sampai kencan di sebuah tempat makan?” lanjut Gisel memastikan pengelihatannya tadi.
“Kencan …? Ngawur.” Romeo menyunggingkan senyumnya. Merasa jika itu hanya tuduhan tak beralasan dari istri sirinya.
“Ya kalo makan berdua saja sih … biasa. Tapi kalau pegang tangan segala, apa namanya?” Lanjut Gisel memanyunkan bibirnya.
“Sebentar … sebentar aku ingat-ingat dulu. Siapa sih?” Romeo akhirnya terusik dengan tuduhan yang istrinya tujukan padanya.
“Gladys … Gladys … Gladys.”
“Orangnya gimana, sayang?” tanyanya tampak berpikir.
__ADS_1
“Cantik. Tinggi dariku.” Hanya itu yang di ingat Gisel untuk menggambarkan postur Gladys.
“Kami sedang makan di …?”
“Tempat makan lah, masa tempat parkirnya saja.” Gisel mencoba menggangu pikiran Romeo yang tampak sedang sungguh berpikir.
“Kapan …?”
“Kamu nanya ? Bukannya aku yang sedang bertanya-tanya?” kekeh Gisel menyeruduk dada suaminya. Merasa mendapat jaminan jika foto tadi hanya sesuatu yang tidak penting di bahas. Sebab, guratan wajah Romeo sangat jelas menunjukkan ke tidak tahuannya tentang Gladys.
“Yank … jangan bercanda. Mengurangi durasi untuk kita mulai bercintah saja.” Kesal Romeo yang penasaran sendiri dengan wanita bernama Gladys.
“Siapa yang bercanda. Tadi waktu di salon, pegawai itu memastikan. Apakah aku istrimu. Lalu saat ku katakan iya. Dia segera menunjukkan foto-foto kalian yang di ambil kurang lebih 7 sampai 8 bulan yang lalu. Artinya, waktu itu memang aku yang sedang menjadi istrimu. Bukan Manda.” Panjang Gisel mengurai isi hatinya.
“7, 8 bulan yang lalu …?”
“Ya … bukankah waktu itu aku sudah hamil Baby O dan itu artinya, memang hanya akulah istrimu, bukan sedang dengan Manda.” Gisel merebahkan tubuh mungilnya, berusaha menarik selimut. Sudah merasa tidak tertarik ingin tau banyak tentang Gladys dari suaminya yang tampak sungguh lupa itu.
“Apa lagi … aku tidak punya banyak bahan untuk membantumu mengingat apapun yang ada dalam otakmu. Kamu sendiri saja lupa, apalagi aku yang tau apa-apa.” Gisel berkata demikian tanpa tekanan, apalagi menuduh.
“7 bulan lalu … aku ada bertemu siapa? Wanita, tempat makan, pegangan tangan …?”
Krik krik … krik krik .
Mendadak suasana kamar mereka membisu, keduanya saling memberi jeda untuk saling berpikir.
“Itu adalah saat-saat Manda baru masuk bui.” Celetuk Gisel, sekedar mengingat-ingat masa sulit yang mereka jalani.
“Oaaah … fix. Itu Gladys istri Roy.” Akhirnya Romeo mengingat nama itu.
“Istri Roy Kekasih Manda …?” tanya Gisel menoleh pada Romeo yang sudah memasang mata penuh binar. Sebab sungguh akhirnya ingat akan kejadian itu.
“Iya … itu istri Roy. Kamu melakukan pertemuan. Di sana aku mendapatkan banyak bukti perselingkuhan Manda dan Roy.”
__ADS_1
“Kenapa harus pegangan tangan juga?” cemberut Gisel agak asem pada suaminya.
“Aku hanya memberinya penguatan, waktu itu.”
“Oh … penguatan.” Ulang Gisel datar.
Cup
Kening Gisel justru mendapat kecupan cari suaminmya.
“Terima kasih untuk rasa cemburu yang sudah ada dalam hatimu sayang. Setidaknya itu adalah wujud perwakilan hatimu yang tidak mengeras padaku. I love you, bunda.” Romeo justru senang saat tau Gisel merongrongnya dengan pertanyaan tentang wanita lain dalam hubungan rumah tangga mereka yang bahkan belum genap setahun itu.
“Iiih … siapa yang cemburu.” Semburat rona merah terbesit di wajah Gisel. Selalu, bibirnya berkata lain dengan apa yang ada dalam hatinya.
“Kepo sekali ingin tau Gladys itu siapa? Padahal hanya melihat foto makan dan berpegangan tangan. Itu apa namanya kalau bukan karena cemburu?”
“Ngomong apa sih.” Gisel membalik tubuhnya, menyembunyikan sedikit rasa malu. Takut ketahuan jika sungguh hatinya sedang berdenyut aneh memandang wajah suami sendiri.
Romeo justru memanfaatkan posisi itu dengan meyelip dan melingkarkan tangannya keperut Gisel. Bukankah itu lebih mudah baginya untuk menempelkan tubuhnya lebih erat, agar istrinya merasa. Jika kini ada yang mengeras di bagian tengah tubuhnya, dan itu tepat ia arahkan pada belakang tubuh istrinya.
Gisel tetap memilih diam, memejamkan matanya. Merasa ada sesuatu yang salah pada sel otaknya. Apalagi hatinya. Kenapa gelenyar itu semakin aneh? Kenapa tadi ia sempat berdesir agak marah, dan geram saat melihat tangan suaminya bertumpuk dengan tangan wanita lain. Apa sungguh ia tak sanggup berbagi dengan wanita lain tentang Romeo. Mengapa rasa ini tak pernah ia miliki sebelumnya, bahkan saat ia bersama dengan Dandy. suami yang bahkan belum resmi menceraikannya.
“Sayang …”
“Heem …”
“Besok kita ketemua dengan Gladys ya.”
“Gimana?” Gisel merasa tertarik dengan ajakan itu, sontak memutar wajahnya tepat sejajar dengan wajah suaminya.
Tapi bukan jawaban yang ia dapat. Melainkan sebuah serangan yang tak mampu ia tolak dan tak sempat ia tepis. Alhasil, kini hanya suara decakan saliva yang tertukar menyeruak dalam kamar mereka.
Bersambung ….
__ADS_1