
Kamar dan tempat tidur adalah tempat favorit Romeo dan Gisel berinteraksi dengan baik. Bukan hanya karena setelah obrolan itu akan berakhir dengan suara decakan dan erangan yang berbalasan. Tetapi, bukankah sejak awal pertemuan mereka. Saat kesepakatan mereka di awal jumpa pun memang terjadi di atas tempat tidur dalam sebuah kamar hotel. Maka, wajar saja itu adalah tempat yang selalu melahirkan ketentaraman jiwa bagi mereka berdua.
“Bukan kamu tak layak menggantikan Dandy. Hanya aku yang merasa bukan apa-apa di bandingkan Manda.” Kalimat itu sangat lugas Gisel sampaikan, bersama keyakinannya meletakan b0kongnya di atas pria yang telah mencintainya itu.
“Aku tidak pernah ingin memiliki istri seperti Manda lagi.” Jawab Romeo dengan nada dingin. Bahkan tangannya tidak merespon tubuh yang penuh percaya diri berpangku di atasnya.
“Maaf … aku jauh dari sempurna.” Gisel mengitari telinjuknya di atas dada bidang Romeo.
“Kamu kira aku sempurna …?” Romeo sengaja bersikap tidak terpengaruh dengan gerak tubuh Gisel yang tidak biasa itu padanya.
“Kamu tidak sadar, jika di mataku kamu sangat sempurna. Aku sangat merasa bagai debu jika di dekatmu. Yang sekali tiupan saja sudah hilang, melayang. Fix aku cuma sampah.” Gisel memngumpamakan dirinya.
“Cara berpikir orang itu berbeda-beda. Dan kamu tau, siapa yang berhak dalam menilai seseorang?” tanya Romeo mulai intens melihat gerakan tangan mungil yang semakin mengganggu saraf otaknya.
“Siapa?”
“Dirimu sendiri. Jika kamu anggap dirimu sampah, jadilah kamu sampah. Jika kamu nanggap dirimu berlian, jadilah kamu berlian. Maka pastikan pikiranmu menempatkan dirimu sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulai. Jangan karena pikiranmu dan perkataanmu membuat penciptamu kecewa karena ketidak percayadirianmu. Aku baru mengenalmu. Dan kamu orang terinstan yang dekat dengan ku, bahkan bisa melenyakpan Manda dari dalam hatiku. Kamu tau kenapa?” Romeo berkomentar sangat panjang kali ini, bahkan lebih panjang dari rel kereta api. Karena ia terlalu bosan memberi pengertian pada Gisel yang selalu merendahkan dirinya sendiri.
“Tidak.” Jawab Gisel cepat.
“Hatimu baik.” Jawab Romeo sedikit memuji tetapi masih dengan nada tegas.
“Kamu mapan, kaya juga tampan. Mestinya bisa mendapatkan pendamping yang lebih dari aku.”
__ADS_1
“Tapi apakah mereka yang menurutmu lebih darimu itu, akan bisa memberikanku keturunan? Bahkan Manda yang meresahkanmu saja tidak bisa memberikan apa yang aku mau?” tanya Romeo mulai gelisah dengan tekanan yang di berikan oleh tubuh Gisel.
“Sebenarnya banyak wanita yang bisa melahirkan anak untukmu. Hanya saja kamu terlebih dahulu bertemu aku yang sedang kalut malam itu.”
“Dan aku tak merasa menyesal bertemu wanita kalut yang lumayan berani dan berpikir cepat waktu itu. Terima kasih telah bersepakat denganku malam itu.” Ah … Romeo sudah mencium punggung tangan yang baru saja berhasil meremas sesuatu di balik boxernya. Gisel sudah mulai nakal.
“Aku sebenarnya berterima kasih pada semseta yang mempertemukanku pada pria yang menabrakku. Dan syukurlah indra penciumanku tidak salah dalam memperkirakan jika pemakai parfum itu adalah pria kaya.” Gisel mengeratkan pelukannya pada Romeo.
“Berjanjilah padaku, ini adalah obrolan terakhir tentang rasa rendah dirimu. Karena sebentar lagi kamu akan resmi menjadi istri Romeo Subagia. Setelah Akta Ceraimu keluar. Aku akan mendaftarkan pernikahan kita. Dan melaksanakan resepsi.”
“Boleh tidak di laksanakan resepsi …?”
“Kenapa?”
“Lalu sampaikapan kamu seperti seorang istri simpananku? Kamu wajib di konfirmasikan ke khalayak ramai.” Kali ini bibir Romeo sudah menempel di ceruk leher Gisel. Untuk ia cium lama dan dalam, hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.
“Aku suka dengan pernikahan tertutup ini.” Jawabnya berdiri. Sebab tau sudah ada benda yang menonjol di bawah tempat duduknya.
“Kenapa? Supaya kamu bisa tebar pesona?” pancing Romeo terus memeluk Gisel dari belakang. Sebab Gisel sudah berdiri dan menempelkan tubuhnya di pagar balkon kamar mereka.
“Hah … justru aku yang sedang memberimu kesempatan tebar pesona.” Kekeh Gisel menggoda suaminya.
“Oh … mau ada pelakor dalam rumah tangga kita?” Romeo menghentikan kegiatannya demi untuk melihat dengan seksama wajah Gisel yang sepertinya sudah terpancing suasana penuh romansa cinta.
__ADS_1
“Tidak perlu ada pelakor. Ga usah main rebut, minta saja baik-baik padaku. Aku akan dengan ikhlas memerikan suamiku untuknya.” Tidak ada sanggahan, balasan apalagi jawaban dari Romeo. Sebab Romeo sudah membungkam mulit yang masih ternganga tadi dengan serangan bibirnya. Dalam dan sedikit kasar. Tidak ada jeda, serangan itu sangat liar dan lama. Gisel hampir kehilangan asupan oksigen karena ulah Romeo.
“Huh … kamu mau membunuh ibu dari anakmu.” Dengan sekuat tenaga Gisel menjambak rambut Romeo agar kepala itu tidak terus menyerangmulutnya.
“Sekali lagi kamu bicara seperti itu. Aku akan menghukummu. Ucapan adalah doa. Daripada kamu mengijinkanku menikah lagi atau mencari istri baru, lebih baik kamu belajaruntuk mencintaiku tanpa tapi. Titik.” Ucapnya dengan nada penuh emosi.
Romeo pernah sepenuh hati mencintai Manda, tentu susah payah baginya untuk berpaling dengan wanita yang sudah melekat dengannya dalam waktu yang tidak sebentar. Romeo sungguh telah benar menganggalkan cinta di masa lalunya, dan akan berhenti pada Gisel seorang. Lalu mengapa Gisel seolah terus menolaknya. Ini tidak adil baginya, dan ia tak suka dengan penolakan.
Bukankah tadi ia mendengar wanitanya itu memujinya, mengaguminya, lalu mengapa ia rela menyerahkan pada wanita lain. Romeo tak suka itu.
“Jika kamu belum bisa mencintaiku sepenuhnya. Paling tidak biarkan rasa itu tumbuh dengan sendirinya dalam hatimu. Dan jangan biarkan apapun merusak selama proses itu berlangsung. Aku mohon.” Pinta Romeo dengan nada penuh harap.
“Kamu tau aku trauma dengan rasa itu.” Jawab Gisel memandang manik mata Romeo dengan tatapan cemas.
“Aku Romeo bukan Dandy. Kita pernah samam-sama terluka dengan orang-orang di masa lalu. Mari kita jadikan itu pembelajaran agar ke depannya kita akan menjadi pasangan yang saling menjaga rasa indah dalam hati.”
Kali ini Gisel yang mengambil kepala Romeo, untuk ia kecup kening, mata, pipi juga dagunya.
“Maafkan aku yang tak pernah sungguh berani membuka hati dan jujur pada perasaannku padamu. Jujurly, aku sangat merasa nyaman selama bersamamu. Mengapa aku ingin kamu mencari orang lain untuk pelabuhan terakhirmu? Karena jika aku sudah masuk dalam pengakuan cinta, aku tak akan pernah mau berbagi sedikitpun dalam hal memiliki. Berjanjilah aku wanita terakhir yang akan kau cintai setelah mama.” Akhirnya Gisel mengakui perasaannya pada Romeo.
“Oh … maaf. Jika soal mencintaimu. Aku jamin aku akan mampu memberikannya padamu. Tapi untuk berjanji hanya mencintaimu dan mama. Maaf aku tidak bisa janji.” Jawab Romeo tegas.
Bersambung …
__ADS_1