RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 30 : PEMBEBASAN


__ADS_3

Keynan menatap tajam ke arah anaknya dan juga ibu dari calon cucunya. Hatinya geram saat dengan terang-terangan keduanya menolak untuk di nikahkan. Bagaimana pun, ia adalah orang tua. Sesungguhnya ia malu, telah menerima seorang wanita dalam rumahnya, tanpa ikatan bahkan sampai di buat hamil oleh anaknya. Tidakkah itu menunjukkan dukungannya pada perbuatan zinah. Dimana norma dan adab yang seharusnya ia tekankan bagi keluarganya. Keynan ikut merasakan dosa atas perbuatan anaknya tersebut.


“Maaf … terima kasih atas tawarannya. Jika menikah hanya untuk menghalalkan perbuatan kami. Saya rasa sudah terlambat. Sebab saya sudah hamil di atas sebuah kesepakatan dan perjanjian. Hanya menambah panjang hubungan saja, jika sampai kami menikah.” Tolak Gisel, seolah sungguh tidak ada minatnya untuk memiliki Romeo seutuhnya.


“Sekarang Manda sedang di tahan. Besar kemungkinan rumah tangga Romeo dan Manda di ujung tanduk. Kamu bahkan sudah hamil anaknya. Tidak ada salahnya, kalian membina biduk rumah tangga yang baru.” Rayu Yuniar pada Gisel.


“Mama … aku tidak akan bercerai dengan Manda.” Bantah Romeo yang masih sangat jelas mempertahankan Manda untuk tetap jadi istrinya.


“Untuk apa kamu bertahan dengan wanita ular itu, Romeo …?” tuding Yuniar kesal dengan kebodohan anaknya dalam hal mencintai wanita itu.


“Dia itu menantu mama. Bukan wanita ular.” Bela Romeo pada Manda.


“Buka matamu Romeo, sekarang ia bahkan sudah jadi tahanan. Apa yang membuatmu terus mempertahankannya?” Hardik Yuniar. Sedangkan Keynan masih mencerna tiap pembahasan yang Romeo dan ibunya gunjingkan.


Triiing.


Ponsel Romeo berbunyi dan itu dari istrinya. Ia segera keluar dari dalam ruangan. Tentu saja untuk menghindar dari kecaman orang-orang yang sudah dengan jelas membenci Manda.


“Sayang ... tolooong. Bebaskan aku dari sini. Kenapa kamu begitu tega padaku. Cukup deritaku sebagai wanita yang tidak bisa memberikanmu keturunan, masa iya. Akupun harus jadi narapidana juga. Mana cintamu, mana sumpah setiamu, Hah …? Keputusanmu menghamili wanita penjual rahim itulah alasan mengapa aku berbuat sejauh ini, sayang.” Tangisnya pecah, bicaranya bahkan tak berjeda untuk meruntuhkan hati suaminya.


“Tapi kamu sungguh melakukan kesalahan, sayang.” Jawab Romeo masih menyematkan panggilan itu pada istri brengsekknya.


“Aku tidak akan berbuat itu, jika kamu tidak membeli rahimnya. Kita bisa bicarakan baik-baik. Aku bisa saja berobat untuk menyembuhkan rahimku. Kita bisa saja melakukan program bayi tabung.” Paparnya seolah sungguh ia ingin memiliki anak, sekarang.


“Hah …? kemana saja kamu selama ini. Saat semua itu ingin aku lakukan bersamamu, Sayang?” tanya Romeo terkejut.


“Bukankah kamu tak ingin perutmu buncit? Bukankah kamu tidak mau kulitmu robek dan aaaacckkhh , apapun itu…? Lalu mengapa saat ada wanita lain yang siap melahirkan anak untukku, kamu berubah pikiran?” tanya Romeo bingung.


“Karena semua bisa kita bicarakan. Bukan keputusan sepihak seperti ini.” Teriak Manda, marah pada Romeo.


“Semua sudah terlambat untuk kita bicarakan, sayang.” Jawab Romeo pilu.

__ADS_1


“Apa maksudmu … kamu sudah cinta pada wanita pabrik anak itu, hah …?” ujarnya dengan nada tidak pelan.


“Ini bukan soal cinta, Manda. Tapi soal tanggung jawab, dalam perutnya sudah ada anakku.” Ujar Romeo berkelit dan tak pernah mengakui perasaannya pada Gisel.


“Bohong … kamu pasti sudah tak cinta padaku. Suami brenggsek.” Umpatnya dengan kesal.


“Dengan apa aku katakan, wanita yang aku cintai hanya kamu, Manda…” Begonya Romeo ini, ya Tuhan.


“Bebaskan aku dari sini jika kamu memang cinta padaku.”


“Bagaimana caranya …?” tanya Romeo.


“Cabut laporan itu. Atau besok kamu akan melihatku mati, karena bunuh diri …!!!” tut … tut …tut. Komunikasi itu terputus. Karena kehabisan kata dan ancaman, atau memang durasi menggunakan ponsel memang sudah berakhir. Yang pasti Romeo di buatnya gila, karena gertakan wanita setengah setan itu. Kemudian masuk ke dalam ruang rawat inap Gisel.


“Aku akan berusaha membebaskannya.” Jawab Romeo tanpa pikir panjang. Tepat saat sudah berdiri di hadapan ibu, ayah dan juga Gisel.


“Untuk apa kamu membebaskannya? Untuk mengeluarkannya agar menjadi pembunuh?” Yuniar naik pitam, tak dapat otak tuanya memindai pola pikir anaknya yang makin bodoh.


“Kenapa menghardik mamamu demi wanita pilihanmu itu. Kamu tau … jika papa tidak meletakkan CCTV di sekirtar tempat tinggal Gisel. Istrimu itu tidak akan tertangkap.” Kali ini Keynan yang ikut bicara membela istrinya.


“Tapi itu menantu papa.” Bela Romeo pada Manda.


“Siapapun yang bersalah wajib mendapatkan hukuman.”


“Papa terlalu membela Gisel, hanya karena ia sedang mengandung anakku?” tuduh Romeo pada sang ayah.


“Jika papa membela Gisel. Kenapa Papa yang mempersilahkannya pergi dari rumah kemarin??” tanya Keynan menyudutkan Romeo.


“Tolong Pa … cabut saja laporan itu. Jika tidak Manda akan bunuh diri.” Pinta Romeo konyol.


“Astaga … mencintai itu boleh Romeo. Tapi tidak sebuta ini. Dia itu meresahkan jika berkeliaran di luaran.” Yuniar bernada lembut memegang tangan anaknya.

__ADS_1


“Mama … mengertilah. Hargailah Manda. Bayangkan jika ia bunuh diri di sel. Maka kitalah yang akan jadi tersangka selanjutnya. Karena kita yang membuatnya melakukan bunuh diri itu.” Romeo meyakinkan sang mama.


“Biarkan saja dia mati.” Tegas Keyna berang. Tidak habis pikirnya, menyayangkan kebodohan jalan pikiran anak semata wayangnya ini.


“Kenapa papa tega padanya …?”


“Karena dia juga tega pada calon cucu papa.”


“Tapi tidak begini cara menghukumnya pa. Aku bisa mendidiknya.” Rayu Romeo meyakinkan kedua orang tuanya.


“Mendidiknya …? Yang ada selama ini, kamu terlalu memanjakannya. Bahkan kamu sudah di buat sebodoh ini. Hanya kamu yang tidak tau siapa Manda itu sesungguhnya.” Keynan sudah sangat lelah menahan kesabarannya. Tidak sabar ingin segera membongkar semua perbuatan menantu yang hanya ia pantau selama ini.


“Cukup papa menginginkan kematian Manda, tak perlu papa fitnah juga dia, Pa. Bagaimanapun itu adalah wanita yang Romeo cintai, tolong hargai itu.” Racau Romeo yang tidak terima dengan yang ayahnya sampaikan.


“Berapa harga yang harus papa bayar untukmu segera menceraikan Manda …?” tantang Keynan membuat Romeo kalang kabut. Tak pernah ia melihat ayahnya semarah itu padanya, walau sebesar apapun kesalahan yang pernah ia buat.


“Itu bukan soal materi Pa. Ini soal perasaan.” Jawab Romeo mengiba pada sang ayah.


“Jika papa memcabut laporan itu. Maka detik itu juga, kamu harus menikahi Gisel. Agar kamu bisa menjaga Gisel 1 x 24 jam dengan SAH.” Paksa Keynan.


“Tidak …!!!” jawab Gisel.


“Saya tidak bersedia menikah dengan Romeo. Walaupun ia ayah dari anak ini.” Jawab Gisel tegas.


“Jika itu keputusanmu, maka jangan injakkan kakimu untuk tinggal di rumahku.” Jawab Keynan mengikuti ketegasan Gisel yang ternyata keras kepala.


Bersambung …


Panas


Tegang

__ADS_1


Kopi donk😂


__ADS_2