RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 51 : BELAJAR MENCINTAI


__ADS_3

Romeo sendiri tidak bisa memastikan kapan ia mulai merasa memiliki rasa indah dalam hatinya untuk Gisel. Sejak pertama berjumpa kah? Saat Gisel di nyatakan hamil anakkua kah?  setelah berceraikah?


Baginya rasa itu sangat mengalir dengan alami. Mulai dari seringnya dia sering memegangi perut Gisel, sampai kini sudah menjadi kebiasaannya memijat punggung dan betis Gisel yang sudah mulai sering kelelahan dengan perut yang semakin besar. Di tambah lagi, Gisel benar-benar bisa menjadi istri idaman untuknya.


Walaupun secara fisik antara Manda dan Gisel sangat jauh berbeda. Jika saja kedua wanita itu berjalan. Mungkin seperti melihat barisan tangga yang hilang dua anaknya. Karena Manda memang memiliki body goal. Kulit wajah dan tubuhnya juga tak pernah absen dari segala rangkaian perawatan. Bukan hanya putih tapi bening. Jauh berbeda dengan Gisel, walau tidak termasuk dalam kategori buluk. Tetapi dari segi fisik mereka tak pantas untuk di bandingkan.


Bisa di katakana Manda menang fisik, dan Gisel menang jiwa. Ketulusannya melayani Romeo lah yang membuat pria itu dalam waktu singkat bisa klepek-klepek terjatuh dalam perasaan yang berlebihan untuk seorang Gisel.


“Bisa di ulang, Mom …?” semburat rona merah tersampir pada sekitaran wajah Romeo yang merasa senang bercampur malu. Mendengar Gisel menyebutnya dengan panggilan Dad.


“Mau di panggil Dad …?” ulang Gisel mencubit kedua pipi suami sirinya tersebut.


“Mau … mau sekali.” Jawabnya antusias.


“Maaf … aku tidak suka dan merasa tidak nyaman dengan panggilan itu.” Jawab Gisel Pelan sembari menunduk mengelus perutnya sendiri.


“Oh … sini Rom. Ini anak kita sedang menendang-nendang di dalam. Sepertinya dia sedang bermain.” Gisel menarik tangan Romeo untuk ikut menikmati gelonjotan dalam perutnya.


“Waw … apa kamu juga tidak suka jika momy mu memanggilku Dady, Son…?” tanya Romeo pada perut yang masih terlihat berkedut-kedut itu.

__ADS_1


“Huuum …. Aku akan belajar menerimamu. Pelan-pelan akan mengubah cara panggilanku demi anak ini juga kamu, ayah.” Elus Gisel dengan lembut pada rambut hitam suaminya. Sebab Romeo tak ingin mengubah posisi kepalanya. Ia sengaja menempelkan pipinya pada permukaan perut buncit itu, seolah minta di tending oleh anak yang ada dalam perutmya tersebut.


“Apa … sayangku, lebih suka memanggilku ayah, jika anak kita sudah lahir?” tanya Romeo tak ingin memaksakan kehendaknya dan lebih mengutamakan kenyamanan Gisel.


“Sepertinya dengan panggilan itu cukup bisa mengingatkanmu, agar benar menjadi seorang ayah yang lebih dewasa, bertanggung jawab juga tegas.” Lugas Gisel yang memang bukan termasuk dalam kategori wanita tukang gombal.


“Apa bagimu, aku memang seperti lelaki yang tidak dewasa …?” tanya Romeo menuntut.


“Tak perlu ku jawab. Silakhan instropeksi diri. Walaupun masa lalu bukan sebuah barometer untuk menilai sesuatu. Tetapi setidaknya,itubisa jadi pelajaran untuk kita melangkah ke depan dengan tidak melewati jalan yang sama.” Lirih Gisel.


Keadaan Gisel pasca kematian Gavy memang berubah drastic. Ia sempat mengalami shock yang berlebihan. Sempat memerlukan psikiatris yang datang rutin ke rumah untuk membantunya segera melupakan traumanya, juga rasa sedih yang berlebihan akan sebuiah kenyataan. Mungkin ia memang telah mengalami kesembuhan, sehingga ilmu dan onformasi yang diii sampaikan terapisnya pun dapat ia bagikan pada suaminya.


“Iya … kita sama sama pernah bertemu orang yang salah, sebelum sungguh berjumpa dengan orang yang tepat. Kamu adalah segalanya bagiku kini, Gisel.” Peluk Romeo membuat gelenyar aneh  dalam dadanya.


“Tentu … tentu saja ada pembagian untukmu dan anak –anak kita dalam ruang hatiku. Aku hanya minta pelan-pelan, belajarlah untuk mencintaiku. Sebab, aku pun sudah berjuang untuk meletakkan rasa itu di hatiku, untukmu.” Dagu Gisel di angkat Romeo dengan satu telunjuk. Demi menadapatkan manik mata yang hanya tertuju padanya. Mencari kesungguhan di dalam netra itu, ingin menyelami bola mata itu, hanya untuk memastikan. Jika Gisel hanya menujunya.


“Aku bukan tipe orang yang suka berjanji. Sebab aku sangat benci untuk di ingkari. Tapi  … baiklah, pelan-pelan aku akan belajar mencintaimu. Tapi tolong … jangan sia-siakan perjuanganku yang mungkin akan jatuh dan bangkit dari rasa yang sudah tak kupercayai itu lagi.” GIsel tak berani menyebut kata itu.


“Tugasmu hanya percaya padaku. Bahka tidak semua pria memiliki moral seperti mantan suamimu. Aku Romeo bukan Dandy. Aku tak jatuh cinta pada parasmu yang mungkin nanti akan menua atau mungkin berubah menjadi

__ADS_1


jelek. Sebab, hatimu yang telah berhasil merebut perhatianku, melerai hatiku yang sempat berkelana di jalanan yang salah. Kamu, yang membuatku kembali ke jalan pulang yang sesungguhnya, membuat hatiku berhenti di kamu.” Romeo mencium-cium punggung tangan Gisel.


“Itulah kesalahan terbesarmu dalam hal mengeksplor sebuah rasa. Terlalu tumpah dan berlimpah, hingga tak bersisa. Mencintai boleh, tapi jangan sedalam itu. Sebab, kamu bisa terjungkal dan tenggelam di dalamnya.” Gisel menasihati Romeo dengan senyum yang teramat manis.


“Aku tulus sayang kamu.”


“Aku pun sungguh meminta waktu.” Ujar Gisel yang sebenarnya sudah berdamai dengan hatinya. Niatnya merebut Romeo dari Manda sesuai tuduhan Manda sudah terlaksana. Mencoba membuktikan kemampuannya untuk dapat perhatian Romeo pun sudah tercapai. Lalu, apakah Gisel masih dapat bersembunyi dengan aktingnya, pura-pura menggoda Romeo. Padahal jelas dialah yang telah tergoda oleh pesona Romeo.


“Gunakanlah sebanyak waktu yang kamu inginkan. Aku tak akan mundur. Dan aku juga suah mengerahkan orang-orangku untuk mencari Dandy. Aku akan bawa dia kehadapanmu, untuk kalian dapat membereskan hubungan kalian selanjutnya. Aku sungguh ingin memilikimu secara resmi, bukan sekedar istri siri.” GIsel hanya terdiam, tak mampu otaknya berpikir dengan baik, jika itu tentang Dandy. Yanga da hanya lah marah, juga benci yang terlampau melebihi batas.


Bukan karena cintanya pada pria, mamtan suaminya tersebut. Tetapi lebih kepada rasa bersalahnya, sebab tak bis amenyelamatkan Gavy karena kebodohannya terlalu percaya pada penagih hutang yang telah berhasil membawa pergi anaknya.


Ya … bukan sekedar perih di tinggal mati. Hati seorang ibu sangatlah peka dan sensitive. Saat semua kenyataan tak merujuk padanya pun segera baper, merasa karena ulahnya lah hal itu terjadi.


“Haii Ibnu … “ Sapa Gisel saat berpapasan dengan teman se- alumninya tersebut. Saar berpapasan di koridor rumahsakt. Untu memerikasakan kandungannya secara berkala.


“Haiii Gisel. Kamu tampak lebih segar dan lebih berisi sekarang.” Balas Ibnu dengan senyum tampannya.


“Bilang saja kamu sedang ingin bilang aku gendut, Ibnu !! hardik Gisel bercanda.

__ADS_1


“Tidak … aku gemes melihat perut buncitmu. Kapan istriku akan hamil sepertimu… ~~~~“ Ujar Ibnu seolah meratap.


Bersambung …


__ADS_2