RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 44 : SAKIT


__ADS_3

Gisel dan Romeo bagai setali tiga uang. Sesungguhnya mereka sudah merasakan debar yang berbeda bahkan sejak pertama kali bercinta, di dalam sebuah kamar hotel di palam pertama perjumpaan mereka. Tapi rasa benci Gisel pada Dandy lebih kuat membuatnya tak percaya dengan indahnya cinta. Pun Romeo, yang sudah sedemikian rupa memastikan jika wanita yang paling ia cinta adalah Manda. Sehingga, Gisel hanyalah bagaikan serpihan debu jalanan, yang tertiup angin pun akan segera sirna. Mereka hanya sedang mungkir akan rasa yang tak mereka sadari telah tumbuh, bersama benih yang berkembang dalam perut Gisel.


Tetapi mengapa kini semuanya terasa lain. Sejak Gisel di nyatakan hamil. Romeo sungguh telah mulai merasa goyah akan perasaannya pada Manda. Hanya, ia masih menjaga kemurnian cinta yang pernah berdarah-darah ia perjuangkan.


Jika Romeo ingin jujur. Keputusanya menjatuhkan talak pada Manda pun, telah ia pikirkan secara matang, hanya ia belum mendapatkan alasan yang tepat. Tidak mungkin ia menceraikan Manda, dengan alasan karena telah membuat Gisel hamil. Kemana saja gaung cintanya selama ini untuk seorang Manda. Sehingga ketika semua bukti telah berada dalam genggamannya. Semudah itu ia jatuhkan kata pisah walau tanpa konfirmasi lagi. Ia hanya merasa nelangsa sesaat. Perih hatinya tak sesakit yang ia bayangkan.


Sebelumya, Romeo mengira ia akan rapu atau sedikit gila saat bercerai dengan Manda. Ia kira sebelah bumi akan longsor dan ia tak mampu hidup tanpa Manda. Tapi ternyata, dunia masih biru. Bahkan langit pun masih berputar, juga hidupnya masih seindah pelangi.


Membuka hati untuk Gisel adalah hal yang wajib ia lakukan sekarang. Membuat wanita itu percaya jika cinta itu keajaiban adalah tugas Romeo sekarang. Tak ada alasan yang sulit sebenarnya, toh wanita itu sudah ia nikahi walau secara siri, juga … bukankah ia telah hamil anak mereka berdua. Lalu apa alasan Gisel menolaknya, bukan.


“Makanlah … aku akan menemanimu.” Ujar Gisel saat ayah bayinya sudah selesai mencium perut buncitnya.


“Kalian sudah makan …?” tanya Romeo memeluk pinggang Gisel, menciptakan adegan mesra dari tengah rumah hingga dapur rumah ibunya.


“Sudah … setelah semuanya masak. Aku bahkan tak sabar untuk menikmatinya sendiri.” Jawab Gisel melepas tangan yang tertaut di pinggangnya.


“Mengapa tidak menungguku …?” tanya Romeo menunggu Gisel meletakkan nasi di atas piring yang ia sediakan untuk Romeo.


“Bukankah aku harus menjaga kesehatan bayi ini. Dan kamu lihat … ini sudah pukul dua siang.” Agak tak suka nada biacar Gisel ia lontarkan. Sebab ayah dari bayinya itu sungguh melewatkan jam makan dengan teledor.

__ADS_1


“Pulanglah bersamaku. Agar kalian selalu menjadi alarmku.” Jawab Romeo singkat tanpa di jawab oleh Gisel yang sedang susah berusaha menahan rasa yang bergelenyar dalam hatinya. “Dasar hati pengkhianat.” Umpat Gisel, tentu hanya di dalam hatinya.


“Kamu bisa menyetel alarm itu sendiri pada ponselmu, bukan.” Jawab Gisel terdengar dingin.


“Makanan ini tadi awalnya terlihat sangat enak, sebab di suguhkan oleh ibu dari anakku. Sempat dengan senyuman pula di siapkan untukku. Tetapi menjadi tidak nyaman, setelah mendengar obrolannya.” Entah Romeo marah sungguhan, atau sudah merasa kenyang. Tiba-tiba saja, ia merasa jika Gisel sungguh tidak welcome padanya . Hal itu dapat Romeo rasakan dan makin tau diri. Mungkin Gisel memang sulit untuk di jangkaunya.


Segera bangkit dan pergi tanpa pamit adalah hal yang kini Romeo lakukan. Dia merasa tak ingin banyak membuang waktunya untuk berjuang. Menurutnya sekarang bukan waktu untuk mengejar cinta. Mungkin saja Gisel sungguh hanya ingin melahirkan anaknya, lalu sungguh akan pergi darinya.


Gisel tergugu dalam kamarnya. Ia merasa tak bersalah dengan obrolan mereka berdua sejak di chat room. Bertelpon ria juga di atas meja makan tadi. Tetapi mengapa Romeo terlihat gusar. Dan celakanya, Gisel merasa ada yang sakit di sudut hatinya. Saat melihat raut kecewa di wajah ayah dari bayinya.


Bulan baru tiba, setelah dua minggu terlewati. Sejak kejadian Romeo pulang makan siang ke rumah ibunya. Romeo tak lagi memintanya memasak juga tak datang menjenguk Gisel dan calon buah hati mereka. Entah sungguh sibuk atau hanya sedang ingin memberi ruang untuk Gisel menyendiri untuk menenangkan lelah hati, seperti yang ia pintakan.


“Mama … kenapa terlihat buru-buru …?” tanya Gisel yang malam itu baru dari dapur setelah meminum susu hamilnya.


“Mama dan papa ingin segera ke rumah sakit. Tadi sekretaris Romeo telpon. Jika dia di rawat di sana …?” info itu keluar dari mulut calon nenek, bayi yang ada dalamperutnya.


“Hah…? Ada apa dengan Romeo ?” kejutnya mendekat pada pasangan suami istri yang tampak bersiap keluar rumah itu.


“Entahlah … Fanny tidak menjelaskan apa-apa pada kami.” Jawab Yuniar terdengar cemas.

__ADS_1


“Aku boleh ikut …?” tanya Gisel yang ikut merasa cemas. Bukankah ia pun rindu sudah dua minggu tak saling berkirim kabar dengan pria itu setelah kejadian memasak dan menemani makan waktu itu.


“Sebaiknhya jangan. Kamu istirahat saja, kehamilanmu lebih penting. Romeo juga sudah di tangani pada tempat yang tepat.” Lanjut Yuniar, sembari memeluknya, sebelum sungguh meninggalkan Gisel yang hanya termangu di ruang tengah.


Gisel tidak berhasil mempertemukan kelopak mata bawah dan atasnya. Hanya beberpa menit terkantup, tapi terbuka lagi dengan sendirinya. Pikirannya pun sudah ngambang kemana-mana. Giesl resah pun gelisah, memikirkan calon ayah bayi yang ia kandung.


“Huuh … mengapa aku seresah ini memikirkannya …?” umpatnya sendiri benci dengan hatinya yang berkhianat. Gisel takut jatuh cinta. Hatinya masih terluka oleh ulah Dandy. Tetapi mengapa pesona Romeo mampu menghapus nama Dandy bahkan dalam waktu singkat. Apakah ia harus percaya pada kalimat para pendahulu ‘kadang kamu harus bertemu orang yang salah, sebelum menemukan dia yang sepenuhnya menggenapkan’.


“Bagaimana keadaan Romeo, Ma …?” Gisel terpaksa menghubungi Yuniar tepat di tengah malam. Tak sanggup hatinya menyandang rasa gundah berkepanjangan. Menurunkan gengsi untuk lebih dahulu menanyakan keadaan Romeo mungkin jalan terbaik, di bandingkan menyimpan rasa yang hanya membuatnya semakin tak nyaman dan susah tidur sepanjang malam.


Bersambung …


Kira-kira Romeo sakit apa ya gaiiish?


Serius atau hanya settingan


Yuuks terus kasih author semangat biar makin lancar jaya nulis kelanjutannya


Jangan lupa ajak teman lainnya menikmati ke bucinan pasangan siri dalam kisah ini.Lope kalian semua.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2