RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 57 : GOYAH


__ADS_3

Hai readers


Mohon maaf atas ketidak nyamanan yang author timbulkan. Hiatus kurang lebih satu bulan. Sungguh ga maksud dan ga terniat nunggalin cerita ini. Tapi, benar-benar ga pintar ngatur waktu antara dunia haku dan dunia nyata.


Author sedih kok, liat tagihan kalian semua.


Yukss …


Terus dukung kembalinya aku ke dunia ini lagi, dengan membaca dan kirim-kirim gift.


Happy reading ya …


Terima kasih🙏


***


Gisel tetaplah Gisel yang memiliki hati taat dan mudah terenyuh. Sekuat apa bibirnya berkata tidak, namun akhirnya luluh juga saat Yuniar sang mertua memaksanya untuk ikut keluar rumah bersamanya. Dan benar saja, jika Yuniar tidak memaksanya pergi ke acara amal seperti kemarin. Melainkan kini, pasangan menantu dan mertua itu sedang berada di sebuah salon kecantikan. Salah satu tempat memanjakan diri dengan fasilitas terlengkap di kota itu. Jangankan pengunjung, pegawainya pun adalah orang-orang yang sudah di seleksi dengan kemampuan dan attitude yang ngumpuni di bidangnya.


“Mama Yuniar …” sapa Owner tempat itu pada Yuniar, dengan ramah dan terlihat sangat akrab.


“Farah …” Jawab Yuniar sembari bercipika cipiki pada wanita yang kecantikannya sangat paripurna. Membuat Gisel merasa kerdil di hadapan wanita yang lebih mirip bonekla Barbie di depannya.


“Mama sama siapa …?” tanyanya menyadari jika sedari tadi ada seorang wanita berpenampilan sederhana berukuran tubuh di bawah rata-rata, yang hanya berjarak dua langkah dengan Yuniar.


“Oh … Farah. Kenalkan. Ini meisel bersalaman pada wanita yang ia panggil dengan nama Farah itu.


“Waaaah … Mama sangat lama tidak ke sini, tiba sudah punya menantu dua saja.” Kikiknya sambil memeluk Gisel dengan ramah.


“Kamu ada-ada saja. Mama sekarang tidak hanya punya menantu baru. Tapi, akhirnya sudah punya cucu juga.” Jelas Yuniar dengan wajah ceria yang tak pernah kehilangan senyum senangnya.


“Selamat ya … mama udah jadi oma. Bilang sama Farah, hari ini mau di kasih pelayanan apa dan gimana?” lanjut Farah menyodorkan buku menu treatment pada Gisel.

__ADS_1


“Gisel baru habis lahiran, tiga bulan lalu. Kamu pasti tau perawatan apa saja yang cocok untuknya. Buat dia tampil cantik dan menarik untuk suaminya.” Tegas Yuniar, mentowel dagu lancip Farah yang sudah semakin mirip orang Korea itu, saking cantiknya.


“Akeeey mama sayang. Farah siapkan. Tapi janji dulu, jika ini bukan treatment mbak Gisel yang pertama dan terakhir. Cantiiiik, perawatan di aku harus berkelanjutan jika mau hasil yang maksimal.” Ucapan itu jelas di tujukan pada Gisel yang dari tadi hanya membuka tutup buku menu yang ada di tangannya.


“Kamu tenang saja, mama yang akan selalu mengingatkannya untuk selalu datang ke sini.”


“Farah percaya pada mama.” Peluknya ramah pada Yuniar.


“Gladys … Tolong kamu tangani cust ini dengan baik. Berikan perawatan terlengkap. Jangan kecewakan pelanggan setiaku ini.” Perintah Farah pada pegawainya yang baru saja akan duduk, setelah menyelesaikan pekerjaan sebelumnya.


“Siap bu.” Jawabnya singkat dan patuh.


”Dia pegawai baru … atau mama yang terlalu lama tidak ke sini?” kepo Yuniar setelah melihat pegawai yang mulai mempersilahkan Gisel mengikutinya.


“Keduanya mama. Dia pegawai baru, dan mama sangat lama tidak berkunjung ke sini.” Jelas Farah yang selalu nmemperlakukan pelanggannya dengan hangat dan akrab. Mungkin itulah kunci kesuksesan usahanya. Ia yang selalu ada, menyapa pelanggannya juga tak pernah absen mengecek kinerja pegawainya. Agar semuanya selalu berjalan dengan baik dan seimbang.


Gisel hanya diam seribu bahasa, saat satu demi satu fase perawatan itu di lakukan. Gisel hanya bisa patuh dan menurut saja, dengan apapun yang di sodorkan untuknya. Kadang ia hanya membuka galeri foto untuk menuntaskan rindunya pada Oniel yang ia tinggal di rumah bersama pengasuh.


Hingga pada masa ia akan mulai di masker wajah, pegawai bernama Gladiys itu terhenti untuk melanjutkannya. Sebab ponsel Gisel meronta untuk segera di sentuh. Icon biru berlambang kamera itu terlihat tak mau mengalah, ingin segera mendapat perhatiannya.


“Yank …” Suara manja Romeo segera menyeruak di dalam ruang kecil tempat perawatan Gisel sekarang.


“Hm … “ Jawab Gisel datar.


“Dimana …?” Gisel segeras mengarahkan kamera itu keliling ruangan tanpa terkecuali.


“Dimana …?” Ulangnya lebih lembut dan manja, sebab tidak mendapat jawaban dari istrinya.


“Lupa … namamya apa di depan tadi.” Jawab Gisel seadanya.


“Oh … sama mama?” tanyanya mengingat-ingat. Tempat di mana biasanya Manda bertengger. Yang membuat penampilan istri pertamanya sempurna, memukau juga selalu mempesonanya.

__ADS_1


“Iya. Ayah di rumah?” tanya Gisel ingin tau.


“Iya … ini di kamar Baby O.” Jawabnya.


“Mana O … aku kangen dia.” Rengek Gisel.


“Dia tidur sayang. Kenapa hanya kangen dia, sama ayahnya , tidak?” goda Romeo membuat Gisel sedikit tersipu.


“Ayah … aku mau di masker. Sudah dulu ya …” Tanpa menunggu jawaban dari Romeo, sambungan Video Call itu sudah berakhir, di ikuti suara tut tut tut, pertanda pemutusan sepihak pada hubungan telekomunikasi itu telah selesai.


“Apa itu pak Romeo Subagia …?” tanya pegawai yang sejak tadi bersama Gisel melayaninya.


“Heeem, mbak kenal suami saya?” Gisel balik bertanya.


“Maaf … ijin. Ini bukan?” Pegawai itu menyodorkan sebuat foto pada ponselnya pada Gisel, sebelum mel;anjutkan treatment.


Gisel memegang ponsel itu, dan mengamati picture yang terpampang pada ponsel pegawai trersebut.


“Iya … ini suami saya. Mbak kenal di mana?” tanya GIsel tetap mengamati sebuah gambar, di mana suaminya tengah duduk berhadapan dengan wanita yang kini tengah melayaninya tersebut.


“Mungkin lebih dari kenal saja, mbak.” Jawab pegawai itu, lalu menggeser pic yang terlihat tidak satu pada ponselnya.


Kali ini, picnya ada sebuat tangan tang bertumpuk di atas meja. Dimana sangat jelas terlihat, itu adalah jari jemari Romeo yang sedang berada di atas tangan wanita itu.


“Oh … pic ini di ambil kapan?” tanya Gisel merasa jika Romeo mungkin saja sedang melakukan kecurangan di belakangnya selama ini. Bukan cemburu, hanya mungkin ini waktunya ia keluar dari sangkar emas yang Romeo buat untuknya. Tidak masalah berpisah, toh ia sudah menjalankan misi sesuai permintaan Romeo.


Bukan urusan besar untuknya jika mungkin Romeo memiliki wanita lain dalam hidupnya, selain dia. BUkankah Gisel sudah tak percaya akan cinta dan rasa sebangsanya.


Hanya masalahnya sekarang ada Oniel yang membuatnya tak semudah itu untuk pergi dari Romeo. Lelaki yang telah berhasil membuahi rahimnya.


“Itu … kurang lebih 7 atau 8 bulan yang lalu mbak.” Jawab Pegawai itu, tanpa ragu.

__ADS_1


“Oh … berarti saat aku sedang hamil 4 bulan.” Jawab Gisel lirih. Melayangkan ingatannya pada masa itu. Masa hubungan mereka yang sangat dingin.


Bersambung …


__ADS_2