
“Dua menit lagi.” Suara penjaga mengangetkan pasangan suami istri yang bahkan belum menemukan kesepakatan dalam hal pembebasan itu.
“Apapun itu, tetap saja kamu telah terbukti bersalah, Manda.” Timpal Romeo.
“Bilang saja kamu telah berpaling hati, sehingga tak mau mengusahakan kebebasanku. Baiklah. Sampai jumpa di akhirat.” Manda melepas pelukan Romeo, kembali menegaskan ancamannya.
“Minta maaflah pada Gisel. Selain papa yang sudah melaporkanmu, hanya Gisel yang bisa membuatmu terbebas dari hukuman ini.” Pinta Romeo.
“Waktu kalian telah habis.” Tegas penjaga bahkan tak perduli dengan kelanjutan obrolan itu.
“Sampai mati pun aku tidak akan meminta maaf padanya.” Teriak Manda dengan tangan terborgol, dan terus di arahkan untuk masuk dalam selnya kembali.
“Apakah kamu sudah menemui Manda …?” isi chat dari Gisel pada Romeo, saat pria itu sudah berada di dalam mobilnya.
“Sudah … ada apa?” tanya Romeo penasaran mengapa Gisel tiba-tiba menghubunginya semalam ini.
“Maaf … tiba-tiba aku ingin makan buah mangga yang sudah di kupas oleh orang lain.” Balas Gisel menyembunyikan tawanya. Tentu saja itu hanya bagian dari sandiwaranya. Agar malam itu, ia tidak menemui Manda di tahanan dalam durasi yang lama.
“Baiklah … nanti aku akan belikan dan kupaskan untuk kalian.” Tidak untuk Gisel. Tapi untuk anaknya juga.
Romeo sudah berada di kontrakan Gisel, dengan membawa 2 kilogram mangga arumanis. Gisel dengan malas melangkah membuka pintu rumahnya, kemudian memilih masuk ke dalam kamarnya untuk menyendiri.
Romeo pun segera masuk dan mencucinya buah yang ia bawa, lalu mencari sendiri tempat pisau dan piring untuk menyiapkan mangga yang akan ia kupas untuk Gisel. Meladeni ibu hamil adalah hal yang sangat Romeo impikan sejak baru menikah. Ia melihat, itu adalah masa terbahagia dan sulit terulang.
“Gisel … “ panggilnya.
“Iya sebentar.” Jawab Gisel yang malam itu sengaja mengunakan daster mini, bermotif bunga-bunga kecil merah magenta, si atas lutut dan tali satu. Lehernya sangat turun menampilkan garis belahan pada dada berisinya.
__ADS_1
Romeo menelan saliva melihat pemandangan itu. Hah … tidak dari Manda, tidak dari Gisel. Romeo sungguh telah lama tidak melakukan hubungan itu. Apalagi kini, antara dia dan Gisel sudah halal, ingin rasanya ia mengerayangi tubuh mungil di hadapannya.
“Heem … aku tidak mau memakannya yang begitu.” Rengek Gisel di buat-buat.
“Bukankah kamu bilang mau di kupaskan. Ini sudah aku kupas.” Ujar Romeo yang sudah bersusah payah mengupas buah mangga. Pekerjaan yang paling jarang ia lakukan. Romeo anak sultan, tunggal pula. Hanya pantatnya ayang tidak di cucikan orang lain. Sebab semuanya tentu sudah di lakukan olehg para pelayannya.
“Aku mau makan yang kotak-kotak menenpel di kulitnya.” Ujar Gisel seperti anak kecil.
“Gimana …?” tanya Romeo tak mengerti.
“Yang kotak-kotak.” Jawab Gisel sengaja membuat Romeo terkesan bodoh.
“Begini …?” Romeo mengambil potongan yang ada di piring. Lalu memotongnya seperti dadu. Kotak-kotak.
“Bukaaan …” Jawab Gisel lagi.
“Ini … potong sebelahnya.” Gisel mengambil satu buah yang paling besar, lalu menyodorkannya pada Romeo untuk di potong separuh.
“Ini bukan kotak-kotak. Tetapi separuh.” Rutu Romeo, namun masih melakukan permintaan Gisel.
“Tunggulah …” ujar Gisel hampir kejatuhan air liur melihat warna kuning ke orenan, buah yang di belah Romeo untuknya.
“Begini …?” Romeo menyodorkan untuk Gisel.
“Belum kotak-kotak.” Jawabnya lalu memgambil pisau di tangan Romeo lalu membuat jalur garis-garis melintang dan membujur di permukaan belahan mangga yang sudah di potong Romeo.
Gisel bagai melakukan demo kecil-kecilan di hadapan Romeo. Selesai membuat jalur garis potongan itu, lalu membalik sedikit kulitnya, agar potongan kotak-kotak itu menonjol.
__ADS_1
“Niih kotak kan …” senyum Gisel sumringah memperlihatkan mangga yang suah berhasil ia potong sesuai keinginannya.
Romeo hanya tertawa melihat yang Gisel tunjukan padanya. Makin merasa betapa bodohnya ia, tak paham dengan yang Gisel maksudkan.
“Sini aku buat lagi sebelahnya.” Ujar Romeo mengambil pisau untuk melakukan hal yang sama seperti Gisel buat tadi. Sementara Gisel sudah tampak menikmati sensasi memakan buah mangga kotak-kotak kidamannya itu.
Area bibir Gisel celemotan akibat menikmati potongan buah mangga itu, dan celakanya. Hal itu membuatnya terlihat lebih sekssi di pengelihatan Romeo.
Romeo melepas pisau di tangannya, mencondongkan wajahnya pada Gisel yang baru selesai menghabiskan potongan sebelah buah mangga tadi.
“Bibirmu belepotan …” Ujar Romeo beralasan. Kemudian, melahap bibir yang masih basah akibat menikmati porongan mangga tadi.
Jangan lupa, tujuan Gisel memang sedang ingin menggoda Romeo, bukan. Maka kali ini, tak ia ragukan lagi untuk sekedar meladeni serangan lidah yang membelitnya dengan lincah. Modus membersihkan sisa Mangga di area bibir Gisel tentu terbaca. Bahkan kotoran sisa Mangga itu sudah hilang, entah siapa yang menghisap dan menelannya. Giselkah, atau Romeo kah.
Yang pasti kini keduanya sudah lupa akan manisnya rasa buah mangga arumanis yang Romeo bawakan tadi. Keduanya bahkan masih berada di sebuah sofa di tengah rumah kontrakan kecil nan sempit itu.
Tangan kekar Romeo sudah nyasar menyeruduk bagian yang ukurannya sudah berbeda dari pertama kali di sentuhnya. Ia tak mendapatkan rintangan, sebab Gisel memang tidak menggunakan kain gendongan buah kembarnya. Perlahan bibir lembut Romeo menyusuri leher jenjang Gisel, dan celakanya. Tangan Gisel nakal, menyentuh benda yang membuatnya hamil beberapa bulan yang lalu.
Kini leher daster Gisel sudah melorot, karena talinya sudah berhasil di lepas Romeo. Membuat isiannya mencuat, menantang untuk di kul um, si se sap dengan penuh gairah tak tertahankan oleh Romeo. Gisel samar mende sah. Bohong saja, kalau lenguhan itu bagian dari aktingnya ingin mengelabui dan hanya sekedar menggoda Romeo agar candu padanya. Kali ini ia benar benar menikmati, sapuan lembut lidah Romeo pada puncak dadanya.
Romeo tak berhenti melahap buah dua di depannya, sungguh buah ini lebih nikmat dari pada buah mangga kotak-kotak tadi, walau berlebel arumanis. Bibir itu semakin menyusuri permukaan kulit Gisel, berputar-putar lama di bagian perut Gisel, seolah mencari hidung, mata, atau dahi anaknya, yang sedang bersembunyi di balik kulit perut sang bunda.
Heei … mengapa Gisel justru melorotkan kain penutup segituganya sendiri. Apakah ini kode keras, jika jalan lahir itupun ingin di manja oleh lidah Romeo.
“Kenapa …?” tanya Romeo dengan nada serak.
“Terasa basah … bisakah kamu melihat cairan apa yang keluar? Aku takut itu adalah sisa darah kotor kemarin.” Sontak ujaran itu menciutkan nyali Romeo. Tersadar jika istri yang baru di nikahinya tadi pagi itu, masih berstatus pasien rawat jalan. Bahkan hampir keguguran. Masa sebegitu teganya ia mengerayangi bahkan minta di layani oleh Gisel, yang memang telah sah ia minta haknya.
__ADS_1
Bersambung …