
Saat Keynan sudah memberi keputusan, tidak ada satu pun yang bisa membantahnya. Ia adil. Tidak menampik jika ini terjadi atas kesalahan Romeo, putra tunggalnya sendiri. Tapi dia juga tidak membenarkan sikap kasar Manda yang cemburu pada Gisel. Ia tak menaruh curiga pada Gisel, jika nanti wanita itu berkhianat dan ingkar pada janjinya. Bahkan, ia pun mengakui jika istrinya salah, telah melukai perasaan menantunya.
“Tapi … apakah papa yakin Gisel akan benar menyerahkan anakku?” resah Romeo seolah tak percaya pada Gisel.
“Di situlah bobroknya kamu. Mencari bibit calon anakmu pada orang yang kamu sendiri meragukan kejujurannya.” Bantah Keynan menohok pada Romeo. Membuatnya makin uring-uringan. Entah mengkhawatirkan calon anaknya atau sungguh telah memiliki ruang rindu pada ibu dari calon anaknya.
Romeo tidak mau terlihat mengkhawatirkan Gisel di hadapan Manda. Ia memilih bersikap tenang dan pura-pura percaya jika Gisel sungguh bisa di percaya.
Dua pekan berlalu, Romeo di panggil sang ayah ke tempat kerjanya. Di sana ia berbicara sebagai sesama laki-laki. Beliau memberikan sebuah amplop berisi foto. Beberapa gambar yang menunjukkan keseharian Gisel yang kini tinggal mandiri.
“Di mana papa menemukan Gisel …?”
“Papa bukan orang bodoh, membiarkan wanita yang sedang mengandung anakmu pergi tanpa pantauan dari papa.”
“Maksudnya …?”
“Semua sudah papa settingkan untuknya. Sebab papa percaya, bayi yang ia kandung sungguh darah dagingmu. Dan papa juga yakin, dia bukan pellacur. Lihatlah, kini ia justru memilih cara hidup sederhana dan layak. Padahal isi rekeningnya cukup untuk ia hidup, walau tanpa bekerja.” Keynan membeberkan pendapatnya.
“Terima kasih, Pa.” Jawab Romeo lega. Sebab ia sungguh sulit tidur memikirkan Gisel dan calon buah hatinya.
“Kamu mencintainya?” tanya Keynan tanpa melihat wajah anaknya. Ia memilih berdiri menghadap pemandangan di luar kantornya, membelakangi Romeo yang sedang sulit mengekspresikan wajah bingungnya.
“Tidak.” Tegas Romeo pasti.
“Kenapa kamu memilihnya untuk menjadi ibu dari anakmu?” Lanjut Keynan.
“Aku tidak memilihnya. Ia datang begitu saja.” Jawab Romeo sesuai kenyataan.
“Kamu merindukannya?” tebak Keynan lagi menyudutkan Romeo.
__ADS_1
“Tidak. Hanya kadang resah memikirkan asupan gizi calon anakku.” Elak Romeo.
“Nikahilah dia. Bagaimanapun, cucuku harus lahir dalam suatu ikatan yang pasti.”
“Tidak bisa Pa. Istriku hanya Manda, hanya Manda seorang.” Tolak Romeo tegas.
“Beristri dua tak salah, asalkan adil. Lagi pula Gisel sudah hamil karenamu. Maka halalkanlah dia, paling tidak secara agama.”
“Kami tidak pernah menyepakati sebuah ikatan. Hubungan kami hanya sebatas jual beli. Dan tidak ada pihak yang saling menuntut untuk sebuah ikatan resmi.” Tolak Romeo lebih tegas lagi.
“Papa hanya tidak mau kamu terjatuh dalam kubangan dosa lebih dalam. Sebagai orang tua, sudah kewajiban menegurmu. Tapi, ya … keputusan di tanganmu.” Keynan tak memiliki daya untuk meluruskan jalan hidup anaknya yang sudah terlanjur salah itu.
Mobil Romeo sudah berhenti pada sebuah rumah sederhana, yang bagian depannya sudah terpasang sebuah plang bertulis ‘Gavy Cookies’ Gisel sungguh mendedikasikan hasil ketrampilan tangannya itu untuk anaknya Gavy tercinta. Raganya memang sedang membawa cabang bayi milik Romeo. Tapi tidak dengan hatinya. Sebab sukmanya hanya merindukan Gavy seorang.
“Apa kabar …?” sapa Romeo setelah beberapa menit menunggu di dalam mobilnya. Untuk memastikan sungguh Gisel ada di sana.
“Baik. Bagaimana bisa kamu menemukanku di sini?” tanya Gisel sedikit terkejut dengan kedatangan Romeo di hadapannya.
“Hah … kota kecil. Tetapi kamu tidak mampu mendapatkan Gavy ku.” Jawab Gisel kembali teringat akan anaknya yang hilang.
“Gavy bukan tanggung jawabku. Bukankah ia sedang bersama ayahnya. Lalu untuk apa kamu terus mengkhawatirkannya. Yang perlu kamu jaga adalah anakku yang sedang di dalam sini.” Tunjuknya pada perut Gisel yang makin buncit mempesona.
“Hallo anakku, apakah ibumu memberi makanan bergizi selama jauh dari deddy, nak?” Usap Romeo pelan menunduk di depan perut Gisel. Bagaimana dengan persendian tulang kaki Gisel. Mengapa ini begitu terasa mendamaikan hati dan membuatnya bersorak ceria.
“Jangan khawatirkan untuk urusan gizinya. Uang yang kamu berikan lebih dari cukup untuk memberikannya gizi terbaik.” Jawab Gisel datar. Menyembunyikan luapan rasa senang yang muncul atas pelakuan Romeo padanya.
“Ambillah mantel. Kita akan pergi berbelanja untuk kebutuhan kalian. Jangan di tolak.!!!” Itu adalah perintah, dan Gisel merasa tidak punya nyali untuk menolaknya.
Merapikan penampilannya sedikit, menabur bedak tipis dan memoles liptint pada bibir mungilnya, agar terlihat segar. Gisel pun pergi bersama Romeo ke sebuah supermarket untuk membeli bahan persediaan makanan untuk Gisel.
__ADS_1
“Beberapa hari yang lalu, papaku menyarankan agar kita menikah secara agama. Bagaimana menurutmu …?” tanya Romeo pada Gisel di perjalanan mereka.
“Untuk apa?”
“Untuk mengurangi dosa.”
“Bahkan sejak pertemuan pertama kita, pun sudah bercanda dengan dosa. Lalu untuk apa mengikat hubungan ini dengan dalih mengurangi dosa?”
“Tapi … jika sampai anakku lahir, sungguh ia adalah anak di luar nikah.”
“Hanya prosesnya yang di luar nikah, bukankah nanti kamu dan Manda yang sudah dalam ikatan pernikahan yang akan merawatnya. Maka secara tidak langsung ia dalah anak yang sah dalam sebuah pernikahan.” Gisel jelas menolak sebuah ikatan baru.
“Baiklah, setidaknya aku sudah menyampaikan saran papa.”
“Huh … begitulah kamu.” Gumam Gisel dengan suara yang pelan namun masih bisa di dengar oleh Romeo.
“Kenapa …?”
“Ya … itulah kamu. Kemarin membuat kesepakatan memakai rahimku demi ibumu yang ingin cucu, sekarang mengajakku menikah atas saran ayahmu. Sungguh kasihan menjadi kamu. Lelaki tidak berprinsip.” Sindir Gisel secara terang-terangan.
Romeo hanya termangu mendengar sindiran yang sudah menghinakan dirinya tersebut. Benar juga yang di sampaikan Gisel. Mengapa ia seperti tak punya otak sendiri untuk berpikir.
“Oh Ja lang …!!! Bagus ya, kamu pergi dari rumahku dan mertuaku. Tapi diam-diam kalian masih saja saling berhubungan di belakangku.” Hardikan itu keras. Bahkan telah berhasil membuat beberapa pasang mata menoleh ke arah Gisel dan Romeo yang sedang terlihat memilih beberapa sayuran di tengah area perbelanjaan.
“Lihatlah … wanita hamil itu Dia adalah wanita yang suamiku pakai rahimnya untuk melanjutkan keturuanan. Karena aku di nyatakan mandul. Tapi, apa yang terjadi, dia tidak hanya sekedar di pakai rahimnya, tapi sedang berusaha merebut suamiku dariku. Itulah pelakor sesungguhnya.” Teriak Manda dengan wajah memreah tesulut emosi, saat melihat suaminya yang tengah asyik menemani Gisel berbelanja.
“Waah … dasar pelakor tidak tau diri.” Tampak ibu-ibu di area itu ikut membela Manda. Bahkan ada yang menimpuk Gisel dengan telur yang sengaja di pecahkan mengenai tubuh dan wajahnya.
“Manda …” Kejut Romeo memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
“Tolong hentikan mereka, sayang. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.” Romeo memohon pada sang istri.
Bersambung ….