
Bukan Yuniar namanya jika melarang anaknya memanjakan Gisel. Sejak awal bertemu Gisel pun Yuniar sudah tau, jika wanita ini adalah wanita baik-baik. Hanya caranya masuk dalam rumah mereka saja yang tidak lazim. Namun, keseluruhan dan seiring berjalannya waktu. Gisel memang semakin menampakkan tabiatnya yang sederhana, tulus dan tidak neko-neko.
Bukan paras yang cantik dan postur tubuh yang aduhai, membuat seorang wanita dapat masuk dalam kategori cantik. Tetapi lebih kepada ahklaknya yang patuh dan penurut tapi bukan berarti tidak punya prinsip. Yang membuat wanita itu menjadi terhormat. Dan Yuniar sangat bersyukur, Romeo tak lagi menilai wanita dari penampilan luarnya. Benar seperti yang Indah katakan, selera Romeo sungguh telah berubah.
Jika dulu Romeo adalah seorang pria yang bucin pada Manda istri pertamanya. Yang bagai kerbau di cucuk hidungnya. Sehingga selalu menurut dengan apa yang menjadi keputusannya. Berbeda dengan sekarang. Secara tidak langsung keadaan membuat Romeo berubah. Ke pasifan Gisel membuat Romeo di paksa menjadi pria dewasa yang harus bisa berpikir dengan mandiri.
Keynan adalah orang pertama yang menyadari perubahan tingkah laku Romeo, terutama dalam mengambil keputusan. Romeo sungguh di tempa oleh keadaan, dan di hasut waktu untuk bertumbuh untuk memiliki kepribadian yang baik, bahkan jauh lebih baik.
Persiapan resepsi pernikahan tidak sulit untuk di selesaikan, selama ada uang. Akhirnya acara yang di nantikan pun tiba. Jika pasangan pengantin pada umumnya di sebut pengantin baru. Maka pasangan ini wajar di sebut pengantin basi. Sudah jarak dengan waktu nikahnya telat, sudah hampir beranak dua pula. Sebenarnya ini yang membuat Gisel malu untuk di laksanakannya acara ini. Belum lagi perutnya memang sudah sangat tidak rata. Tapi … ya sudahlah. Tidak perlu di bahas lagi.
“Sayang … ini acaranya sudah kita batasi hanya sampai pukul 8 malam. Masih ada tamu atau tidak, pokoknya. Kamu ke kamar saja. Istirahat.” Perintah Yuniar yang tidak mau menantu kesayangannya capek.
“Iya mah.” Jawab Gisel patuh. Ia menjadi ratu tidak sehari. Hanya beberapa jam. Sebab acara duduk di pelaminan itu hanya di mulai dari pukul 6 sore. Hanya persiapan merapikan diri, berdandan dan menyiapkan ini dan itunya bahkan di mulai darei pukul 4 sore. Jika itu adalah mempelai pengantin yang normal, pastilah itu tidak masalah. Sebab tidak harus stres menghadapi rangkaian lamaran, ijab qobul dan lainnya. Sebab, jauh hari mereka sudah mencicil semua rangkaian acara ini. Termasuk pembuatan anak, yang bahkan belum dalam ikatan resmi pun sudah mereka buat.
“Capek …?” Romeo dengan lembut menanyakan yang Gisel rasakan saat mereka masih di atas kursi singasanah raja dan ratu sehari itu.
“Huum … lumayan.” Jawab Gisel tak kalah lembut.
__ADS_1
“Kita turun dan makan bersama dulu ya.” Ajak Romeo menggandeng tangan Gisel untuk menuruni pelaminan. Dan memberi kode pada pihak WO agar menyiapkan meja untuk mereka menikmati makan malam.
“Tamu masih banyak …?” tanya Gisel sambil menunggu makan malam mereka di sajikan.
“Huhft. Kalo di lihat dari list yang di undang sih. Sepertinya sisa seperempatnya saja.” Jawab Romeo menempel-nempelkan tisue kering di bagian wajah Gisel yang terlihat lembab.
“Setelah makan ini, beneran aku boleh di kamar saja, ayah?” Gisel masih sangat sulit memberi gelar atau julukan sayang pada Romeo. Baginya dengan sebutan ayah sudah sangat cukup mewakili perasaan memilikinya pada seorang Romeo.
“Sayang capek banget …?” Romeo kembali memandang lembut ke arah istrinya tersebut.
Dengan sedikit anggukan dari kepala Romeo. Ia sudah sangat paham, jika Gisel memang butuh istrirahat. Tentu saja ia berbeda, sebab yang ia pandnag bukan hanya fisik Gisel. Tapi apa kabar dengan janin yang kini bersemayam di perut istrinya tersebut. Yang tidak bisa secara langsung menyampaikan apa yang ia rasakan.
“Ayah lebay. Aku masih bisa makan sendiri kok.” Gisel tersipu mendapatkan perlakuan manis dari suaminya. Ia … kecuali hati Gisel terbuat dari batu saja, jika tidak terombang-ambing dalam rasa bahagia, akibat perlakuan manis dari Romeo. Ia sungguh di perlakukan bagai ratu oleh sang suami.
“Yang banyak. Istri dan anakku harus sehat.” Romeo memberi semangat untuk Gisel, sebab memang kehamilan yang kedua ini. Cukup menganggu selera makannya. Gisel memang kerap sekali muntah, bahkan tidak hanya saat pagi hari. Saat menu makanan tidak cocok pun Gisel bisa saja merasa mual. Itu yang mebuat berat badannya stabil walau sudah masuk bulan keempat kehamilannya. Hanya bagian perutnya yang memang terlihat buncit.
“Ayah …O. Aku ke kamar saja ya.” Pamit Gisel merasa perutnya sudah terisi cukup neuh dan banyak. Ia sepertinya cocok dengan sajian malam itu.
__ADS_1
“Ayah antar ya sayang …” Romeo segera menarik kursi yang tadi di duduki oleh Gisel. Lalu menggandeng tangan istrinya, dan akan menmgantarkan Gisel menuju kamar hotel. Tepat di dua lantai setelah ballroom tempat di adakannya acara resepsi mereka.
“Wah … ini pengantinnya.” Sapa seorang pria berjas. Yang dari penampilannya sangat jelas outfitnya tidaklah barang murahan. Itu adalah merk ternama bahkan limitied edition. Di tambah lagi dengan pakaian yang di kenakan ole wanita paruh baya yang tidak melepas rangkulannya pada lengannya, sudah sangat dapat di pastikan, mereka orang terpandang.
“Pak Nikolas. Selamat malam. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk datang ke acara kami.” Tampak Romeo sangat tunduk dan hormat pada pasangan yang baru datang itu.
“Suatu kerugian besar bagi saya, jika melewatkan momen bahagia kalian. Selamat menemouh hidup baru ya. Semoga langeng hingga maut memisahkan.” Doa tulus dan restu pun terluncur untuk pasangan pengantin itu.
“Wah … terima kasih doanya Pak. Doa terbaikpun kiranya untuk bapak dan keluarga.” Balas Romeo dengan sungguh. Kepala Romeo menoleh kiri dan kanan. Berharap bertemu sang ayah. Sebab ini adalah rekan bisnis terpenting bagi perusahaan Keynan. Bukankah tadi ia akan ke kamaruntuk mengantar Gisel. Tapi, bagaimana dengan tamu penting ini. Masa kan, ia meninggalkan begitu saja.
“Bapak, ibu. Mohon maaf. Boleh saya ijin. Ke toilet sebentar.” Pamit Gisel halus. Ia pun mengerti jika suaminya sedang dalam persimpangan. Ingin mengantarnya ke kamar, atau tetap bertahan dengan tamu yang baru saja datang ini.
“Oh … iya silahkan. Romeo … silahkan jika mau menemani istrimu terlebih dahulu. Kami bisa sendiri.” Nikolas mengerti dengan tatapan mata gelisah Romeo.
“Oh … tidak-tidak. Jangan pak, tidak apa-apa. Saya bisa sendiri. Biar Romeo yang menemani bapak dan ibu. Silahkan.” Gisel memberi tatapan memenangkan Romeo. Ia tau, suaminya sangat ingin mengantarnya. Tapi, ia lebih mengerti jika suaminya pun ingin melayani tamu penting ini.
“Hati-hati ya sayang …” Pesan Romeo melepas pegangan tangannya pada sang istri. Kemudian larut dalam kesibukan melayani tamu undangan.
__ADS_1
“Waw … sudah jadi ratu kamu sekarang, hah?” suara itu terdengar sinis juga bengis. Itu jelas suara orang yang tidak suka pada Gisel. Dan horornya, itu terujar dari seseorang yang sepertinya sengaja menunggu Gisel di dalam sebuah lift, tanpa siapa-siapa di sana kecuali mereka berdua.
Bersambung …