
Bukan hal yang sulit bagi Manda untuk mengetahui tempat tinggal Gisel. Cukup dengan mengikuti gerak gerik suaminya yang terlihat galau beberapa hari setelah Gisel di nyatakan tidak berada di rumah mertuanya . Manda sudah tau jika kehadiran Gisel wajib di perhitungkan. Ia merasa perlu memperingatkan Gisel untuk tidak macam-macam pada suaminya.
“Hai …” Gisel bagai melihat hantu saat baru saja selesai menyusun toples kukernya pada etalase di depan rumah sederhananya itu.
“Untuk apa kamu ke sini? Mempermalukanku lagi?” Gisel bukan tak berani kemarin. Ia hanya sedang tidak ingin masalah itu berlanjut di tengah keramaian.
“Oh … baguslah kalau kamu tau malu. Hah… aku sampai heran. Sudah sebesar itu perutmu, baru kamu merasa malu. Dimana rasa itu saat kamu menyerahkan tubuhmu pada suamiku …?” Suara Manda tidak bisa pelan. Hal itu tentu saja memicu perhatian orang-orang yang berada tidak jauh dari tempat mereka berada. Sebab keduanya memang masih di luar rumah.
“Pergi saja. Tak perlu kabu bahas tentang rasa malu ku, saat aku memutuskan untuk bersedia hamil untuk suamimu.” Dengan wajah setebal semen, Gisel tak mau kalah dari Manda.
“Waw … kamu mengusirku? Hebat … hebat sekali. Di rumah mertuaku kamu bagai malaikat yang baik hati. Di rumahku kamu menjelma bagai upik yang tersakiti, tapi di rumah sewaan ini. Kamu sungguh telah menunjukkan siapa dirimu sesunguhnya. Dasar PELAKOR…!!!”
“Hah … tetangga baru kita ini pelakor …?” ucap seseorang yang sudah sejak awal menaruh telinga dan perhatiannya di sekitar situ.
“Ya dia pelakor. Dia itu sedang hamil anak suamiku. Dia sengaja minta di buat hamil oleh suamiku, karena aku mandul.” Lanjut manda menjelaskan pada tetangga yang tampak ingin tau lebih banyak.
“Waaah … bahaya nih. Harus lapor pa RT. Biar di usir saja warga yang tidak beres macam ini. Bisa-bisa besok suami kita yang di goda.” Cerca ibu lainnya yang sudah mulai melangkah. Mungkin sungguh kan melapor ke Ketua RT.
“Heeei … saya tidak pernah minta di hamili oleh suami anda Nyonya. Dan saya tidak pernah merebut apapun dari anda. PULANG ...!!!” Usir Gisel dengan tegas kemudian masuk dan kanmenutup pintu rumahnya.
“Heeii … Suamiku sudah menghamili kamu, apa itu bukan merebut namanya?” Manda marah dan melangkah menyususl Gisel yang sudah berhasil masuk ke dalam rumah dan siap menutup pintu.
“Suamimu membeli rahimku. Aku tidak merebutnya. Tapi jika kamu tuduh aku demikian, baiklah. Tebihbaik ku lakukan saja, daripada trerus di fitnah.”
Duaar
Pintu di tutup dengan kencang.
Braakh…!!!
Pintu di dobrak kuat oleh Manda dari luar.
__ADS_1
“AAuuucch…” rintih Gisel yang terjatuh tepat di depan pintu yang terbuka paksa oleh Manda.
“Kenapa sakit … atau pura-pura sakit?” tanya Manda meletakkan satu kakinya di atas pinggul yang menyamping berusaha melindungi perutnya.
“Pergi sana … !!!” Gisel masih mengusir Manda dengan nada keras sambil meringis kesakitan.
“Ada apa ini ribut-ribut.” Suara laki-laki berpeci datang mendekati pintu trumah tersebut. Cepat-cepat Manda mengubah posisi kakinya, dengan tangan yang berusaha menolong agar Gisel lekas bangun.
“Tidak usah pura-pura baik.” Tangkis Gisel pada tangan halus yang berusaha menolongnya bangkit.
“Oh .. ibu keluar darah …” ucap Pria berpeci itu saat Gisel sudah bisa membalik tubuhnya dengan posisi agak terlentang.
Gisel menunduk kea rah yang pria itu tunjukkan untuknya. Benar saja, ada darah segar mengalir dari pangkal pahanya. Gisel lemah, langsung pingsan tidak sadarkan diri.
“Wah … ibu ini hamil. Cepat bantu … kita bawa kerumah sakit terdekat.” Ucap pria tadi, lupa juka tujuannya datang adalah untuk memastikan jika warga nya itu adalah seorang pelakor sepertiyang di tuduhkan warga lainnya.
“Biar dengan mobil saya saja Pak.” Manda panic, tak sampai juga hatinya membiarkan Gisel pingsan tak berdaya karena ulahnya. Ia tak sengaja melakukan itu, tak mengira jika Gisel selemah itu.
Di sisi hatinya yang lain juga mengutuki kebodohannya,mengapa sampai mau mengotori mobilnya dengan membantu menyelamatkan wanita yang jelas ia benci tersebut.
Memastikan jika dua warga tadi sudah bisa pulang dengan taksi online, Manda kemudian menghubungi suaminya tentu dengan scenario dan drama yang ia karang sendiri tentunya.
“Sayaaaang … kamu di kantor?” ucapnya di ujung gawai.
“Iya sayang… ada apa?”
“Aku di rumah sakit sekarang.”
“Hah … separah itu keadaan haidmu, sayang?” yang ada dalam pikiran Romeo mhanya tentang istrinya yang ia tinggal dalam keadaan haid tadi di rumah. Mana ia tau jika, semua adalah kebohongan belaka.
“Aku sharelok ya, cepatlah ke sini.” Pintanya dengan nada suara di buat sepanik mungkin.
__ADS_1
Manda wanita yang sangat Romeo cintai, tak menunggu nanti. Tentu ia sudah seolah terbang untuk menemui wanita pujaannya tersebut. Tidak sampai 30 menit. Romeo sudah memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit tersebut.
“Kenapa kamu berdiri di sini …? Siapa yang sakit sayang?” Romeo memeluk dan mencium Manda yang sudah bersimbah air mata di hadapan Romeo.
“Gisel, sayang . Gisel yang sedang di periksa di dalam sana.” Tangisnya pecah seolah memang sangat mengkhawatirkan wanita penjual rahim tersebut.
“Hah … kenapa dengan Gisel …?”
“Tanyakanlah sendiri pada dokter yang menanganinya.” Manda mengusap sendiri air matanya yang bercucuran.
Romeo segera meninggalkan Manda, kemudian melangkah menuju ruang yang bertulis UGD tersebut.
“Mohon maaf, Pa. Pasien belum bisa di jenguk.” Ujar perawat dengan sopan pada Romeo.
“Oh. Maaf.” Jawab Romeo singkat.
“Kenapa kkamu bisa menolongnya?” tanya Romeo pada Manda istrinya.
“Tadi aku iseng ingin menjenguk calon buah hati kalian. Ingin membina ikatan baik sejak dini dengannya. Bukankah nanti, ia kana menjadi anakku. Aku sadar, aku salah selama ini. Mengingat besok aku akan pergi ke Milan, maka tak salah rasanya aku menyambanginya. Tapi, yang ku dapat justru posisinya yang sedang terpeleset di depan pintu. Makanya buru-buru aku membawanya ke rumah sakit. Aku takut terjadi hal buruk pada calon anak kita.” Manis … manis sekali mulut ulat betina ini bukan.
“Oh … terima kasih sayang. Kamu sudah berhati besar dan mau menyelamatkan anak kita. Semoga bayi kita selamat ya sayang.” Peluk Romeo erat pada istri yang teramat di cintainya tersebut.
Romeo bersyukur, jika Manda sudah menyadari kekeliruannya. Memamg sebaiuknya Manda tidak perlu membenci Gisel. Sebab ialah nanti yang akan merawat nak yang sedang Gisel kandung.
Bersambung …
Aneh juga ya …
makin reader geregetan. Semakin suka lho authornya.
Sabar ya … satu-satu nanti kita ulik kejahatan Manda.
__ADS_1