RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 38 : AKU TALAK KAMU


__ADS_3

Romeo memang terlihat sedang bersantai membuang waktunya saja di atas sebuah sofa, rumah kontrakan Gisel. Namun sesungguhnya ia tidak sedang bersantai. Dengan berat hati ia terpaksa melakukan penyelidikan terhadap Manda istrinya. Ia sudah mengerahkan beberapa orang suruhan untuk memastikan kepemilikan sebuah apartement atas nama Manda. Ia hanya ingin tau, apakah sungguh wanita bernama Memey yang menempati unit tersebut.


Semalam ia menemukan PIL KB dan setelah di konfirmasikannya pada Manda, benar saja itu memang selalu ia konsumsi agar tidak hamil. Lalu, apa korelasi sertifikat rumah Roy yang ada pada Manda sekarang. Dan mengapa pagi ini, bahkan Roy memberinya peringatan. Apakah mereka memang begitu akrab dan Roy masih menyimpan rasa yang besar pada istrinya.


Romeo oleng bukan karena telah membuat hamil wanita lain. Tetapi ia lebih takut dengan pria masa lalu Manda. Entah mengapa, hatinya terasa terbakar mendengar perkatan Roy tadi. Apalagi menyinggung soal malam pertama mereka. Apakah sungguh istrinya telah lebih dahulu menyerahkan kesucian itu pada Roy. Lalu, di mana cinta yang Manda selalu gemakan padanya tiap hari selama ini.


“Apa hanya aku manusia yang paling bodoh, jika tetap memilih percaya pada Manda?” desisnya di dalam hati.


Sementara di sel tahanan sementara. Nampak Manda sedang memaki Roy akibat perbincangannya pada Romeo tadi.


“Dasar bodoh … kenapa kamu malah mengungkit soal kesucianku yang sudah terlebih dahulu kamu cicipi, bo dooooh.” Teriak Manda menarik rambut Roy dengan brutal.


Door … door … door


“Ini kantor polisi, apa kami perlu melakukan penahanan untuk kalian berdua …?” Polisi wanita itu memberi peringatan pada Manda yang selalu saja berbicara dengan tidak pelan pada siapaun lawan bicaranya.


Manda dan Roy diam sesaat. Lalu kembali berbicara agak pelan.


“Aku tadi hanya menyuruhmu menelponnya untuk memperingatkan agar dia segera membebaskanku dari sini, bukan nostalgia!!” Marah Manda pada Roy lelaki yang ia cintai sepenuh hati itu.


“Sudah … aku sudah memperingatkannya.” Jawab Roy dengan lugunya.


“Itu bukan peringatan tapi mengupas kenangan.” Cicit Manda sungguh geram pada Roy. Tadinya ia hanya ingin Roy membantunya meyakinkan Romeo, jika ia tak membebaskan Manda. Maka, Manda sungguh akan bunuh diri.


Tapi, Roy tidak menemukan korelasi dari jawaban Romeo yang bisa ia kaitkan dengan isi ancaman Manda tadi. Sehingga menceritakan sedikit tentang kebersamaannya pada Manda adalah hal paling benar baginya untuk memberitahu Romeo.


Gisel dan Romeo sungguh telah bergerak menuju kantor ploisi. Ini adalah hari keduanya di tahan di dalam sel sementara di kantor polisi itu. Tentu bukan tempat yang tepat bagi seorang Manda, seperti yang Roy katakan tadi pada Romeo.

__ADS_1


Sesampai di parkiran, mobil Keynan pun baru terlihat tiba di tempat yang sama. Keynan dan Yuniar ingin menjadi saksi akan apa yang akan menjadi keputusan anak dan menantu barunya itu nanti.


“Papa … mama…” Tegur Romeo.


“Heem …”


“Apakah papa akan mencabut laporan itu …?” tanya konyol Romeo pada sang ayah.


“Kita lihat saja nanti, apa yang akan papa lakukan di dalam sana.” Jawab Keynan datar. Menyulitkan Romeo untuk menebak apa arti raut wajah ayahnya tersebut.


Manda belumlah di vonis menjadi narapidana, sehingga jam besuknya memang masih suka-suka. Demikian juga dengan siapapun yang datang ke sana, belum ada larangan. Sebab ini adalah masa di mana tersangka masih memiliki kesempatan untuk di bebaskan atau di proses lebih lanjut.


Romeo berjalan paling depan, dengan tangan kiri masih menggengam jemari Gisel. Bukan karena tak ingin terpisah dengan istri barunya. Melainkan Gisel sempat berbisik padanya.


“Rom … aku takut pada istrimu. Aku trauma jika ia mencaci dan akan menyakiti anak ini lagi.” Tentu saja itu bagian dari alasan Gisel untuk menarik simpatik Romeo. Bukankah dengan alasan trauma, Manda berhasil menipu Romeo. Maka tidak salah bagi Gisel untuk mengadopsi kalimat itu untuk memperkeruh keadaan hati Romeo kini.


Romeo mundur satu langkah, saat melihat kepala Manda yang bersandar pada bahu kiri Roy. Tampak nyaman pada posisi itu. Jangan tanya bagaimana dekatnya dua tubuh itu, mepet. Tidak berjarak sama sekali.


“Sudah ku katakan. Aku akan bertindak jika kamu tidak membebaskan Manda.” Jawab Roy tidak gentar.


Keynan senang melihat perseteruan anaknya. Ia bagaikan melihat sesuatu yang telah lama ingin ia lihat kejadian itu terjadi.


Gisel segera merapatkan tubuhnya pada Yuniar, bukan takut. Hanya ingin terlihat lemah dan dekat dengan mertua barunya. Gisel semakin pintar berakting, bukan.


“Aku suaminya, aku yang berhak dalam melindunnginya …!!” Geram Romeo akan memukul wajah Roy. Dengan sigap, Gisel melompat mendekati Romeo dan menahan tangannya.


“Jangan kotori tanganmu. Tujuan kita ke sini untuk membebaskan istrimu. Fokuslah.” Ujar Gisel membela Manda.

__ADS_1


“Heeeii wanita penjual rahim, segeralah tanda tangani berita acara. Agar aku segera bebas.” Hardik Manda yang tidak suka dengan Gisel yang mampu meredam emosi suaminya.


“Baiklah … mana berita acara yang harus aku tanda tangani.” Jawab Gisel tanpa ragu.


“Penjaga … kalian dengar …? Aku akan segera di bebaskan. Siapkan segala sesuatunya." Perintah Manda kasar pada dua wanita yang sedari tadi menjaganya di dalam ruangan tersebut.


“Ini silahkan di baca, konsep surat perdamaian yang sudah kami buat.” Jawab petugas yang kini sudah berada di depan Gisel yang duduk di kursi sebagai pihak yang akan melakukan pencabutan laporan.


“Apakah ini baku …?” tanya Gisel, setelah dengan cermat membacakan isi surat perjanjian damai tersebut.


“Tidak . Sebab itu hanya di konsep sesuai dengan permintaan terlapor.” Jawab petugas itu pada Gisel.


“Huum … apakah poin ini boleh di tambah. Jika penganiyaan terulang, maka tanpa proses apapun ia segera di masukkan dalam penjara.” Pinta Gisel dengan nada tegas.


“Gisel …?” panggil Romeo terdengar memperingatkan sesuatu. Suasana sekitar tempat itu mendadak hening, juga tegang. Bagaimanapun, peristiwa luar biasa akan terjadi. Pembebasan terhadap tersangka pelaku penganiyayaan, bahkan di lakukan oleh pihak korban. Istimewa bukan.


“Ya … ada apa?” tanya Gisel menoleh ke arah Romeo.


“Maaf merepotkan kalian pak. Kami tidak jadi membebaskan saudara Manda. Silahkan lanjutkan ketahap selanjutnya, sesuai dengan bukti yang ada.” Ujar Romeo tak kalah tegas. Membuat Gisel, Yuniar, dan Keynan melotot ke arahnya.


Bukankah selama ini Romeo yang ingin Manda bebas. Lalu mengapa, saat pembebasan itu di lakukan, Romeo justru lebih tegas untuk meminta Manda di penjara saja.


“Ada apa …?” Gisel berdiri mendekati Romeo. Namun, Romeo justru melangkah mendekati di mana kini Manda berada.


“Manda Juana. Saya talak kamu!” Ujar Romeo dengan satu tarikan nafas. Sama seperti dulu dengan lancar dan tegasnya Romeo menucapkan kalimat Qobul.


“Mulai saat ini kamu bukan istriku lagi!” Lanjutnya lagi.

__ADS_1


“Pernikahan kita selesai sampai di sini.” Romeo mengucapkan hal itu dengan mata berembun. Berat baginya memutuskan hubungannya dengan wanita pujaannya. Tetapi, tekadnya sudah bulat. Kini ia dan Manda telah resmi bercerai.


Bersambung ….


__ADS_2