
“Aku sayang kamu …” Hanya kalimat itu yang sempat terdengar dari mulut Romeo. Sebab pagi itu dia sudah tak tahan lagi untuk tidak melakukan hal yang lebih dari sekedar berciuman. Ia tidak lagi beralasan menyentuh perut Gisel karena ingin menyapa anaknya. Kali ini ia sungguh buas. Meminta dengan sangat mengiba. Memohon agar haknya sebagai suami bisa ia tuntaskan.
“Pliis … mari kita sama-sama menghapus masa lalu kita. Lupakan Dandy yang hanya menorah derita dalam pikiranmu. Pun aku, telah berjuang menghapus Manda dari dalam hatiku. Kita punya ini sayang … kita sudah punya dia, buah hati yang harus lahir dari ibu yang sangat menginginkannya sehat dan bahagia.” Rayu Romeo setelah meletakkan Gisel di atas kasur empuk bahkan sudah dengan cepat melucuti pakaian istri sirinya itu.
“Berjanjilah kau tidak akan menyakitiku seperti Dandy yang telah merampas kepercayaannku.” Ucap Gisel di antara rasa yang bergelenyar aneh di buku-buku hatinya. Bohong saja ia tak berdesir-desir saat tangan Romeo sudah meremas bagian-bagian yang membuatnya merasa nyaman bahkan nikmat pagi itu.
“Aku bahkan tak punya niat untuk meninggalkanmu. Kamu tidak hanya ibu dari calon anakku. Tapi kamu adalah istri tersempurna yang pernah aku temui. Bahkan tak akan pernah rela untuk aku lepaskan.” Romeo sudah mengungkung tubuh berperut besar di hadapannya. Ulah tangannya segera membuat lembab, lembah di bawah sana. Gisel wanita normal, sedang hamil pula. Hormom kehamilannya pun perlu asupan dan membutuhkan banyak penyaluran hasrat yang selama ini ia pendam.
“Tanam kan dalam pikiranmu. Akulah kini suamimu satu-satunya.” Ucap Romeo sebelum semua maneuver ia lakukan. Dengan segenap rasa rindu yang menggebu, Romeo bagai musafir kehausan menemukan sumber mata air. Bagai bocah yang baru belajar puasa, mendengarkan bedug berbuka. Semua hidangan ingin ia santap dalam waktu singkat. Tak peduli jika mugbang datang nanti, mungkin akan membuatnya sakit. Baginya, dapat meluluhkan Gisel untuk memberikan haknya sebagai seorang suami adalah kesempatan yang tak bisa di tunda lagi.
“Kamu sedemikian mencintai Manda pun bisa bercerai, berakhir bahkan dengan demikian tragis. Apa jadinya aku nanti. Yang menikah denganmu hanya karena demi melindungi anak ini.” Lirih Gisel saat penyatuan mereka sudah selesai, sungguh takutnya belum lah hilang. Dan kini, Gisel sedang rebah berbantal dada bidang telanjang Romeo.
“Aku yang dapat merasakan semuanya. Mungkin aku belum sepenuhnya mencintaimu. Tetapi aku dapat pastikan bahwa aku sayang kamu. Kamu tau … cinta datang dan pergi sesuaka hati. Bahkan cinta dapat dengan cepat berubah menjadi benci. Tapi tidak dengan rasa sayang. Rasa itu lebih permanen, walau mungkin tak sedahyat cinta. Namun ia lebih lama bertahan di sini.” Tunjuk Romeo pada dada istri sirinya.
“Tolong … ubah pikiranmu tentang cinta. Aku tulus sayang kamu, dan sangat membutuhkanmu selalu menjadi pendamping hidupku selamanya. Kita rawat anak kita bersama. Cukup satu kali aku menjadi duda, jangan sampai aku menjadi duda beranak satu oleh mu, Gisel.” Rayu Romeo menenangkan Gisel.
“Aku tak percaya dengan jalan hidupku. Saat semua orang belum banyak menerima perihal poligami, aku sekarang justru sedang menjalankan sebuah hubungan poliandri. Tidakkah kamu jijik padaku …?” Gisel bagai mengumpat dirinya sendiri.
__ADS_1
“Stt … kamu adalah wanita terbaik untuk bibit premiumku, sayang.” Romeo bahkan sudah mengubah panggilannya menjadi sayang pada wanita hamil itu.
“Kamu terlalu berlebihan. Aku tak lebih dari seorang jallang saja. Menjual diri demi uang, bahkan benar aku sudah menjadi pelakor. Banyak-banyaklah berdoa, agar semua kebusukanku tak mendatangkan karma di kemudian hari.” Harap Gisel pada keturunannya.
Sejak persetubbuhan itu terjadi, atmosfir rumah tangga siri itu mengalami perubahan. Berangsur-angsur hubungan mereka lebih harmonis bahkan manis. Gisel tidak lagi tinggal di rumah mertuanya. Ia sudah berhasil di ajak pulang oleh Romeo ke rumahnya dengan Manda dahulu. Dengan tata ruang yang berbeda. Sebab, selama Gisel tak berada di rumah itu. Romeo telah merenovasinya. Membuat denah baru dalam rumah tersebut, sungguh membabak habis segala bentuk kenangannya bersama Manda. Ada dua ruang yang ia siapkan untuk anak-anaknya kelak. Entah, Romeo sangat yakin. Jika ia tak hanya ingin memiliki satu anak bersama Gisel nanti.
“Heii … ada apa dengan nasi goreng buatanku pagi ini …? Apa rasanya tak enak ?” tanya Gisel yang setelah menyiapkan sarapan untuk Romeo tadi kemudian masuk ke kamar untuk mandi membrsihkan dirinya dari sisa mereka bercinta tadi malam.
Romeo hanya diam, memandang takjub pada penampilan istrinya yang datang dengan rambut yang masih tergerai basah.
“Uuummmch … sekksi sekali istriku pagi ini …?” Pujinya berdiri langsung memeluk dan mencium kening Gisel.
“Tetapi dengan kamu sebagai pemimpin permainan tadi, rasanya sangat luar biasa sayang. Apa hari ini aku mengambil cuti saja, agar bisa bersama kalian seharian.” Goda Romeo pada Gisel absurd.
“Tidak ada cuti untuk begituan. Itu hanya alasan konyol, makanlah keburu dingin nasi goreng itu.” Perintah Gisel pada Romeo dengan nada datar.
“Suapin sayang …” rengek Romeo manja, sungguh super manja. Ia sungguh seperti menemukan tempat untuk mengekspresikan jiwanya sebagai anak tunggal yang serba di layani. Manja tepatnya
__ADS_1
“Kenapa sebelum melahirkan anak ini, aku merasa seperti punya bayi besar, haaah?” senyum Gisel terkembang sambil mengadik nasi goreng buatannya dan siap akan menyuapi suaminya itu.
“Memang aku adalah bayimu sekarang. Dan ini adalah sumber kehidupanku sekarang.” Tanpa permisi dan tanpa rasa malu, tangan Romeo sudah nemplok saja di dada Gisel yang sudah mulai berair itu.
“Roooom … ini di dapur. Di lihat para pelayan bagaimana. Punya suami kok mesum begini.” Rutu Gisel seolah sedang benar-benar marah dan tak suka Romeo memperlakukannya di tempat yang mungkin akan di lalui orang di luar prediksi mereka.
“Bisakah sayangku, tidak menggunakan panggilan nama padaku …?” tanyanya persis anak anak.
“Mau di panggil apa ? Roma …?” kekeh Gisel merasa lucu.
“Tidak Rikaaah.” Jawab Romeo meladeni keusilan istrinya. Membuat Gisel terkikik dengan canda gurau mereka pagi itu di meja makan.
“Aku suamimu. Tak pantas kamu masih Ram, Rom saja memanggilku. Aku ini ayah dari anak ini, tanamkan kebiasaan baik dari sekarang, Mom.” Usapnya pada perut yang sebulan lagi melahirkan anaknya tersebut.
“Dad … kamu mau ku panggil begitu?” tanya Gisel dengan alis mata yang di buat turun naik berkali kali.
“Aaaah … panggilan itu sungguh membuatku ingin mengurungmu lagi di dalam kamar, Mom.” Romeo benar-benar telah terlepas dari jeratan cintanya pada Manda. Semua ruang luka, ruang kecewa akan pengkhianatan Manda telah terganti dengan Gisel. Gisel dan Gisel saja. Sayangnya, hanya Romeo yang memiliki surat resmi perceraiannya dengan Manda. Tapi tidak dengan Gisel. Bagaimanapun, Gisel masih terikat secara hukum dengan pria bernama Dandy.
__ADS_1
Bersambung ...