
Keinginan Gisel untuk bertemu Gavy selama ini terjawab sudah. Walau hanya bertemu lewat nisan. Setidaknya ia merasa puas, saat sungguh melihat nama anaknya teriukir bpada batu nisan itu. Satu perkara sudah selesai, sisa satu lagi masalah terbesarnya. Yaitu, masih belum dapat menemukan keberadaan Dandy suami brenggsek itu.
Hari berlalu, minggu berganti, bahkan bulan secara perlahan pun kini telah semakin mengantarkan usia kandungan Gisel lebih besar lagi. Kini Gisel sudah memasuki masa trimester terakhir. Kandungannya sudah menginjak bulan ke tujuh. Jangan di tanya bagaimana semakin terpesonanya Romeo pada perut yang semakin besar itu.
Menggosok punggung Gisel sebelum tidur dengan minyak hangat adalah ritual wajibnya sekarang. Meminum susu yang Romeo buat juga sudah menjadi agenda rutinnya sekarang. Pun Gisel, kehamilannya ini bukanlah suatu alasan baginya tidak melayani suaminya. Melayani dalam artian memperhatikan pakaian juga makanan yang di konsumsi oleh Romeo secara teratur. Sembari berjuang melawan rasa sedihnya pasca kehilangan Gavy.
Pelayan di rumah Yuniar tentu tidak hanya satu. Tetapi sejak Gisel memutuskan untuk tetap tinggal di rumah itu, semua peraturan berubah. Ia ingin menjalankan perannya sebagai seorang istri dengan baik.
“Selamat pagi ibu dari anakku …” Kecup Romeo pada kening Gisel, saat wanita itu sedang membuatkan kopi untuk menemani roti panggang yang sudah teronggok di atas meja makan, untuk suaminya.
“Selamat pagi ayahnya anak ini …”kekeh Gisel mencium pipi Romeo dengan lembut.
“Kenapa memasangkannya sendiri … setelah ini aku akan ke kamar untuk membantumu memasangkan hingga rapi.” Rutu Gisel segera merapikan dasi yang sengaja Romeo pasang dengan asal. Bukankah selama menikah dengan Manda ia mandiri. Mampu melakukannya sendiri tanpa bantuan apalagi layanan seperti yang Gisel lakukan untuknya.
“Percuma saja kamu melakukannya di kamar, sebab hanya dasi yang kamu rapikan untukku. Tapi tidak yang lainnya.” Omel Romeo padanya.
“Apa yang ingin ku rapikan lebih dari ini untukmu …?” tanya Gisel mengibaskan sedikit debu di dada Romeo dengan tepukan halus dan lembut.
__ADS_1
“Anak-anak rambut di sini …” Romeo mengantarkan tangan mungil Gisel pada benda pusakanya yang selama ini memang mampu Gisel tahan untuk tidak ia sentuh, apalagi menikmatinya. Wajah Gisel memerah, iapun kadang berhasrat untuk melakukan hubungan intim bersama suami sirinya tersebut. Tapi sedapat mungkin ia tahan. Ia tetap ingin menunggu, jika Romeo jatuh cinta padanya bukan karena anak yang ia kandung saja. Sehingga ia yakin. Jika pria itu sungguh telah dapat menguasai dirinya sendiri.
“Isssh … tidak sopan.” Ujar Gisel tersipu dengan arah pembicaraan yang di ucapkan Romeo padanya.
“Ekheem … duh pengantin baru. Bisa ga sih, mesumnya di kamar saja.” Ledek Yuniar yang melihat dengan jelas dimana posisi tangan Gisel sedang nemplok tadi. Gisel ingin menghilang saja dari muka bumi. Betapa malunya dia, saat ibu mertuanya melihat tangannya yang sedang berada di area milik suaminya tersebut.
“Maaf ma … ini terpaksa di lakukan di luar kamar. Sebab di dalam Gisel selalu menolak untuk berhubungan lebih dari ciuman.” Gisel melotot dan sedikit berjingkit membekap mulut suaminya. Semakin malu lah dia, jika mertuanya tau jika selama ini, Romeo berpuasa. Tidak mendapatkan haknya sebagai seorang suami, layaknya hubungan suami dan istri pada umumnya.
“Hah … itu urusan rumah tangga kalian.” Jawab Yuniar dengan tertawa senang.
“Rom … ambillah cuti bekerja. Pergilah berlibur. Ajak Gisel berbaby moon. Sebab, setelah melahirkan nanti. Ia bahkan tak punya waktu untuk sekedar menyisir rambutnya, karena akan repot mengurus anak kalian.” Yuniar duduk di kuris pada meja makan di mana kini Romeo dan Giselpun duduk.
“Apa kamu masih menganggap hubunganmu dengan Romeo itu sesuai dengan isi perjanjian gila kalian itu ...?” tanya Yuniar sambil mengoleskan selai pada roti yang tersedia di atas meja.
“Kira-kira begitu.” Jawab Gisel melakukan hal yang sama, kemudian menyodorkan pada Romeo raoti yang sudah ia taburkan ceres.
“Lalu … jika itu terjadi. Nanti kamu akan pergi setelah melahirkan? Siapa yang kamu percaya menjaga dan merawat bayi yang kamu lahirkan itu? Nenek tua ini …?” tanya Yuniar sengaja menyebut dirinya nenek tua.
__ADS_1
“Mungkin Romeo akan mencari pengasuhn untuk anaknya.” Jawab Gisel datar.
Romeo tidak bisa mengunyah roti yang hanya selapis itu. Ia berdiri dari kursinya, lalu menarik tangan Gisel menuju kamar mereka. Memastikan mereka berdua sudah berada di dalam kamar kedap suara itu, lalu menguncinya.
“Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kita bisa membatalkan perjanjian kita di malam itu.” Ujar Romeo menangkup kepala Gisel, bahkan saat mereka berdua hanya masih berada di balik pintu saja.
“Aku pun tidak tau.” Jawab Gisel dingin.
“Apa yang kamu pikirkan tentang anakku yang ada padamu. Bukankah kamu sudah kehilangan Gavy anakmu. Move on, Sel. Jangan sampai anak ini kehilangan ibu. Cukup kamu kehilangan Gavy … jangan kamu balaskan untuk anakku. Aku suamimu, aku ayah dari bayimu dan aku tak ingin jauh darimu, bukan hanya karena anak ini. Kamu telah menjadi bagian dari hidupku. Katakan dengan jelas, apa yang bisa aku lakukan agar kamu percaya, jika dalam hatiku hanya kamu dan calon buah hatiku.” Romeo menyampaikan itu bahkan di hadapan Gisel dengan berjongkok, kepalanya sejajar dengan lutut Gisel.
Gisel terenyuh melihat pemandangan itu. Ia tak bermaksud membuat lelaki itu terlihat konyol di hadapannya. Pun ketidak percayaannya selama ini terhadap rasa cinta juga sedikit demi sedikit sirna, karena kebaikan yang Romeo lakukan padanya. Bukankah selama ini, Romeo selalu menuruti pintanya. Walau Gisel tau, Romeo hanya sedang tabah menjalani hukumannya. Gisel tau, jika kini Romeo sungguh telah mampu mengusir Manda dari dalam hatinya. Walau tak secara total menghilang.
“Maafkan aku … dan tolong jangan begini.” Gisel menarik Romeo agar berdiri dan memeluk tubuhnya.
“Maaf … bukan aku tidak menghargai perasaan yang baru saja kamu sampaikan padaku. Hanya tolong bantu aku keluar dari rasa traumaku. Yakinkan aku, bahwa pernikahan dan cinta adalah sebuah hunbugan yang sangat indah.” Ucap Gisel lirih dalam pelukan Romeo.
“Kita berdua telah sama-sama gagal dalam pernikahan sebelumnya. Maka, bukan hanya kamu yang trauma. Aku pun butuh pertolongan untuk bangkit dari segala rasa yang pernah ada dalam ikatan sebelumnya. Bukalah hatimu untuk menerimaku. Terlebih untuk anak kita yang sebentar lagi akan lahir dan hidup bersama kita.” Romeo memegang pipi Gisel dengan dua tangannya. Memastikan wajah itu memandang lurus ke arahnya.
__ADS_1
“Aku sayang kamu, Gisel.”
Bersambung …