
Romeo dan Gisel sudah tampak keluar dari sebuah ruangan dengan wajah berbinar bahagia. Tentu saja keduangan tak dapat menutupi perasaan senang itu, setelah melakukan pemeriksaan terhadap keadaan bayi yang masih dalam kandungan Gisel.
Ini merupakan bulan ke delapan, bayi itu ada di dalam rahimnya. Sehingga hanya butuh waktu sebulan lagi, Romeo benar-benar akan mewujudkan mimpinya selama lima tahun sebagai seorang pria menikah, walau takdir merintangi. Sehingga ia memang akan menjadi seorang ayah walau dari istri yang berbeda.
Tangan Gise mana pernah terlepas dari genggaman Romeo, ia sungguh tak ingin jauh dan selalu ingin melindungi ibu dari calon anaknya tersebut. Permintaan ijin terbang pun telah Romeo dapatkan dari dikter kandungan. Membuat Gisel sempat ternga-nga saat mereka berada di depan dokter yang memeriksanya tadi.
“Sayang … kenapa banyak diam?” tanya Romeo sampai di dalam mobilnya. Dan telah memastikan jika istrinya telah duduk di kursi penumpang dengan rasa nyaman, dan iapun telah berada di balik kemudi sebagai supir untuk Gisel.
“Biasanya juga aku selalu diam.” Jawab Gisel datar.
“Ga … diamnya ga gini Bunda.” Romeo mencium-cium punggung tangan istrinya.
“Kita cepat pulang saja, badanku sudah gerah dan merasa tidak nyaman.” Jawabnya benar-benar datar. Mungkin memang merasa hawa yang cukup panas itu membuatnya meresa risih.
Romeo tak berminat menelisik lagi. Ia tau itu tanda-tanda Gisel sedang tidak baik-baik saja. Menginjak pedal gas, dan memacu laju kendaraan roda empat itu menuju rumahnya merupakan hal yang kini wajib untuk ia lakukan demi mendapatkan senyum istrinya lagi.
Sesampai di rumah, benar saja. Tak perduli penunjuk waktu telah merujuk pada angka 9 malam. Gisel tetap nekad untuk mandi. Suasana di klinik membuatnya tak nyaman, ia seolah kehilangan mood baik, saat berbaur lama dengan orang-orang di sana tadi.
“Mungkin karena kamu adalah anak ayah Romeo ya nak. Sehingga saat kita antri dan sedikit terhirup asap rokok dari orang lain saja. Sudah membuat kita bête.” Ujar Gisel mengusap perutnya dengan sabun. Menciptakan rasa nyaman dan mengembalikan perasaan baiknya pasca melakukan pemeriksaan tadi.
Keadaan klinik itu hari ini memang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Di tambah lagi Romeo memang lupa mereservasi kemabli jadwal kedatangan mereka. Sehingga mereka harus menggunakan jalur antri yang lumayan panjang untuk dapat bertemu dengan dokter langganan mereka.
__ADS_1
Saat handuk sudah terlilit di kepala Gisel agar menyerap basah surainya segera mengering. Baju mandinya terlihat hanya mampu menutup sedikit tubunya. Bentuk kimononya tak beraturan, tak dapat di silang di depan dada, karena sudah kekecilan, akibat perut yang tersembul itu. Romeo terkekeh senang melihat pemandangan sekksi tersebut.
“Sini bunda sayang, ayah bantu keringkan rambutnya. Biar ga masu angin.” Romeo segera menyiapkan alat pengering rambut di depan meja rias di dalam kamar mereka berdua.
Ucapan itu sederhana, sangat biasa bukan. Tapi, bagi wanita yang juga OTW bucin pada suami sirinya itu. Tentu mampu menggetarkan hatinya. Pelan-pelan, Gisel memang merasa kini ia sangat di ratukan oleh pria ini. Semakin manis perlakuan Romeo padanya, semakin ingin menangis batinnya merasa bersalah pada diri sendiri. Mengapa tak menyerah saja untuk membalas cinta itu dengan rasa yang sama. Mengapa tidak memilih percaya saja dengan semua yang Romeo ucapkan padanya, jika tidak semua laki-laki seperti Dandy.
“Maaf … pekerjaan ku banyak hari ini. Bahkan untuk meminta aspriku untuk mereservasi jadwal kunjung kita pun, aku lupa sayang.” Romeo mengira saja, jika istrinya merasa kegerahan dan tak nyaman setelah lama menunggu jadwal masuk ke runag dokter untuk di periksa.
“Tidak apa-apa. Aku juga salah, mengapa tidak melakukannya sendiri.” Jawabnya menatap wajah Romeo dari pantulan kaca. Ia terlihat sedang bersungguh-sungguh melakukan upaya dalam mengeringkan rambut basah istrinya.
“Maaf ya bunda sayang …” Ulang Romeo yang selalu peka dengan perasaan istrinya begitu.
“Sudahlah … itu sudah berlalu.” Jawab Gisel membagikan senyum tipisnya. Pertanda sudah kembali pada mood yang baik dari sebelumnya.
“Mau ku kasih senyum seperti apa lagi … hanya senyum ini yang aku punya.” Gisel mendelik menoleh kea rah pria yang masih sibuk memainkan hairdryer di kepalanya.
Puncak kepala Gisel di ciumnya, semenatar mesin pengering itu sudah ia matikan. Kimono setelah mandi tadi di lepasnya dengan sengaja, membuat penampilan Gisel setengah telanjang di atas kursi rias tadi. Posisi Romeo sudah tidak di belakang kepala Gisel, melainkan berpindah ke depan, dan sudah berjongkok di depan perut buncit Gisel.
“Bunda mu sedang pelit senyum sama ayah, nak. Apa kamu tau selain sedang bête kelamaan antri, ayah ada salah apa sama bunda …?”seolah bayi itu berada di depannya, Romeo dengan setengah bercanda berbicara dengan perut Gisel.
“Ayah mana pernah salah sama bunda. Hanya … permintaan ayah sama dokter tadi yang bikin bunda ga suka.” Gisel memegang kepala Romeo agar terarah kedepan wajahnya.
__ADS_1
Tangan Romeo sudah memutar-mutar saja, kuncian coklat di depan bongkahan besar di depannya. Ia gemas melihat dua benda itu yang makin hari makin besar, jika kadang telah berair jika ia remas. Pertanda ASI Gisel sudah mulai akan berproduksi.
“Memangnya yang mana?” tanya Romeo lagi.
“Kenapa ingin bepergian tanpa persetujuanku …?” barulah Romeo sadar, bukan hanya proses antrian yang membuat Gisel tak suka. Terapi, permintaak n ijin layak terbang tadi yang sesungguhya membuat istri sirinya itu mendadak boring.
“Kita sudah pernah membahas tentang babymoon itu sayang …” Romeo sudah menuntun istrinya ke atas tempat tidur. Tentu saja mengoles minyak hangat pada punggung Gisel adalah, treatment selanjutnya yang akan Gisel terima dari suami manisnya itu.
“Iya … tapi kenapa harus ke Luar Negeri. Itu jauh sekali, Rom.” Jawab Gisel memberi punggungnya.
“Rom … Rom saja terus.” Ucapnya terdengar sedikit marah.
“Maaf … ayah sayang.” Gisel segera menangkap kemanjaan suami yang sebenarnya lebih tua darinya tetapi sangat manja itu.
“Kalo tidak ke Luar Negeri … bunda sayang mau kita liburan kemana …?” tanyanya kembali pada suasana baik lagi.
“Ga liburan boleh ? Karena setiap haripun aku sudah merasa selalu liburan. Mana sudah tidak di ijinkan membuat kue lagi. Itu artinya aku memnga seorang pengangguran sekarang, ayah.” Curhat Gisel pada suaminya tak kalah manja.
“Itu beda kasus sayang. Kamu tidak kami ijinkan membuat kue kering lagi, supaya tiuda kecapekan. Kalo pergi berlibur adalah untuk merefresh otak kita, sebelum anak kita akan segera lahir bulan depan.” Jelas Romeo pada Gisel yang telah berhasil di kungkungnya, sebab tugasnya membalur minyak hangat di punggung Gisel tadi sudah selesai.
Bersambung …
__ADS_1
Maaf beribu maaf pada Reader semua. Author lalai dalam hal update. Maaf beneran ga bisa bagi waktu di sini. Semoga hari ini bisa dobel up untuk menebus dosa beberapa hari yamg lalu yah.
Terima kasih