
Segala rasa duka nestapa, mengisi ruang sisi hati seorang Gisel kini. Entah Ibnu patut di salahkan dalam hal menyampaikan kabar itu, atau memang itulah yang terbaik, yang memang harus Gisel ketahui sekarang.
“Apa kamu perlu perawatan intensif untuk menenangkan hatimu …?” tanya Romeo lembut pada Gisel, masih dalam pengelihatan dokter Ibnu dan beberapa perawat di dalam ruangan itu, yang seperti sedang menonton drama kemesraan pasangan suami istri tersebut.
Gisel menggeleng pelan, menatap sayu pada Romeo yang begitu mengkhawatirkannya. Bukankah seharusnya Romeo yang butuh sokongan, saat semalam sudah menjadi pasien rawat inap di rumah sakit itu. Tapi kenyataan justru terbalik, sebagai suami Gisel, ia harus tetap lebih kuat untuk menjadi pelindung wanita yang mengandung anaknya.
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." Jawab Gisel pelan, lalu mengalihkan pandangannya pada dokter visite suaminya tadi.
"Ibnu … terima kasih informasimu. Dan bisakah aku minta tolong lagi padamu?” tanya Gisel yang sudah berkali-kali menarik nafas lalu membuangnya demi mendapatkan ketenangan untuk jiwanya.
“Apa yang bisa aku bantu …?” tanya Ibnu pelan.
“Apakah aku bisa mendapatkan informasi seputar alamat Dandy sekarang?” tanya Gisel menatap Ibnu penuh harap.
“Maaf .. Jika pertanyaanku sedikit lancang. Apa kalian sungguh telah berpisah …?” tanya Ibnu pada Gisel.
“Mungkin di lain waktu, aku akan bercerita padamu. Yang aku butuhkan sekarang adalah segera menemukan pusara anakku, Gavy.” Tangkis Gisel cepat.
“Itu bukan bagianku. Tapi … nanti salah satu dari perawat ini mungkin bisa membantumu ke bagian administrasi perihal informasi Dandy yang sebagai penjamin Gavy kemarin.” Jawab Ibnu segera.
“Lakukan lah untukku, aku mohon.” Pinta Gisel dengan sungguh, dengan tangan yang tak pernah lepas dari genggaman Romeo.
“Baiklah … aku pasti membantumu. Kami permisi …” Pamit Ibnu mengakhiri visite yang memakan waktu lama tersebut. Berharap tidak mendapat cemberutan pasien lainnya yang mungkin tak sabar menanti kunjungan dokter itu.
“Kamu sungguh baik-baik saja ?” tanya Romeo menarik kepala Gisel agar memandang ke arahnya.
“Ibu mana yang akan baik-baik saja, saat mendengar kabar kematian anaknya, Rom?” tanya Gisel pelan.
__ADS_1
“Heii apa yang kalian berdua lakukan di atas bed pasien itu ?” kalimat tanya itu mirip sebuah hardikan. Bersumber dari arah pintu yang baru saja terbuka. Itu adalah Yuniar. Yang melihat Gisel duduk di atas ranjang Romeo. Dan Tangan Romeo sedang memegang kepala Gisel dengan ke dua tangannya. Tentu saja Yuniar hanya pura-pura marah, ia mengira jika anak dan menantunya itu pasti akan hendak berciuman.
“Mama … “ ucap Romeo dan Gisel hampir bersamaan ke arah asal suara tadi.
Yuniar di buat kaget saat melihat rupa Gisel dengan mata sembab, tentu itu karena ia banyak mengeluarkan air mata. Sesedih itu kah Gisel saat tau Romeo sakit. Itu yang ada dalam pikiran Yuniar saat itu.
“Mama … Gavy Ma …” Gisel beranjak dari posisi duduknya. Dan melangkah menuju ibu mertuanya.
“Ada apa dengan anakmu …?” tanya Yuniar yang sudah memeluk Gisel erat.
“Ma …. Gavy ku. Ma …” Tangis Gisel pecah lagi, nafasnya tersendat-sendat. Tiba-tiba lututnya lemas. Dan ambruk dalam pelukan Yuniar. Beruntung tubuh Gisel mungil, dan Yuniar termasuk wanita paruh baya yang masih kuat lagi bugar. Sehingga ia bisa menopang tubuh Gisel dan gagal melorot ke lantai.
“Gisel … Gisel. Kamu kenapa nak ?” Yuniar kaget bukan kepalang. Bingung dengan yang terjadi di depannya.
“Rom … panggil perawat. Ada apa dengan istrimu ini?” bingung Yuniar setengah berteriak. Pun Romeo reflek menekan tombol darurat agar perawat segera ke ruangan tempat Romeo dirawat.
Dalam hitungan menit perawat pun datang menuju ruang rawat inap Romeo.
“Tolong … ini tolong. Menantu saya pingsan.” Ucap Yuniar ke arah pearwat yang datang.
Perawat dengan cekatan membopong tubuh Gisel ke sofa terdekat agar dapat di rebahkan untuk di periksa.
“Menantu saya sedang hamil, Sus.” Ujar Yuniar memberi keterangan pada perawat tanpa di minta.
“Iya …” jawab perawat sambil memeriksa keadaan Gisel. Salah satu dari mereka keluar ruangan. Mungkin untuk menghubungi dokter yang lebih kompeten di bidangnya. Sebab Gisel sedang hamil, tentu saja harus dokter kandungan yang menanganinya.
Lagi lagi dokter Ibnu yang masuk ke ruang rawat Romeo.
__ADS_1
“Ada apa dengan Gisel …?” tanya Ibnu terperanjat dan segera memeriksa kondisi Gisel. Membuat Yuniar bingung melihat pria ber jas putih itu mengkhawatirkan Gisel bahkan menyebut nama Gisel dengan akrab.
“Sepertinya dia shock … “ Jawab Romeo merespon pertanyaan Ibnu.
“Sebaiknya kita infus saja, agar keadaanya tidak makin parah. Sebentar saya konsulkan dengan dokter obgyn setempat.” Ujar Ibnu setelah mengecek keadaan Gisel yang masih pingsan.
“Lakukan yang terbaik untuk menantu saya, dokter.” Pinta Yuniar terdengar sangat cemas.
“Baik bu … akan kami lakukan.” Jawab Ibnu sopan.
Selanjutnya perawat berseliweran menyiapkan ini dan itunya. Mungkin karena Ibnu adalah dokter di rumah sakit itu. Sehinga untuk proses dan apapun yang menyangkut soal penanganan, perawatan dan obat-obatat untuk Gisel dapat di layani dengan cepat. Bahkan kini, sudah ada dokter Arini yaitu dokter spesialis kandungan yang ikut masuk untuk memberi layanan untuk Gisel.
“Sebaiknya kita rawat inapkan juga pasien ini, untuk mempercepat proses kesembuhannya.” Simpul dokter Arini kepada Ibnu.
“Maaf dokter. Apa boleh istri saya di rawat dalam ruangan yang sama dengan saya, agar kami tidak saling berjauhan.” Pinta Romeo pada dua dokter yang ada di dalam kamarnya.
“Tidak masalah … nanti kita aturkan pak.” Jawab Ibnu cepat. Dan jawaban itu cukup melegakan Romeo yang tentu sangat khawatir akan keadaan Gisel terlebih bayi yang di kandung oleh Gisel sekarang.
“Ada apa sebenarnya yang terjadi, Rom?” tanya Yuniar saat perawat dan dokter tadi sudah pergi dan akan menyiapkan bed untuk Gisel di rawat nanti.
“Gavy … anak Gisel sudah meninggal dunia Ma.” Jawab Romeo pelan.
“Apa …? Dari mana kalian mengetahuinya?” tanya Yuniar terkejut.
“Dokter tadi adalah teman Gisel sewaktu sekolah. Dan katanya dua bulan lalu Gavy sempat di rawat di rumah sakit ini. Terkena dehidrasi akut, lalu meninggal dunia.” Sambung Romeo memberi informasi pada ibunya.
“Ya Tuhan … sungguh berat penderitaan mu Gisel. Wajar saja kamu sangat trauma dengan laki-laki juga cinta. Sebab pria yang bahkan suamimu sendiri, telah tega menculik juga tak bisa menjaga amanah yang di titipkan pada keluarga kalian. Rom … Gisel wanita yang baik. Segera cari keberadaan suaminya terdahulu, agar mereka segera bercerai. Dan jadikan dia wanita terbahagia saat menjadi istri sah mu. Gisel terlalu sering menderita.” Yuniar mengusap peluh yang keluar dari pori-pori kulitnya.
__ADS_1
“Iya ma … Romeo akan pastikan Gisel akan menjadi satu-satunya istri Romeo dan ibu dari anak-anak kami kelak.” Ucap Romeo setengah berjanji pada dirinya sendiri.
Bersambung ...