
Rumah kontrakan Gisel itu minimalis, tata letak di dalamnya cukup rapi dan teratur. Juga jarak antara ruang satu dan yang lainnya tak begitu jauh, serta perabotan yang tidak banyak membuat suasana terasa luas. Tadi mereka hanya terlihat sedang saling mengupas buah mangga, tapi bagaimana prosesnya, sehingga mangga yang baru dua biji terkupas bahkan belum semuanya habis termakan. Tetapi sudah tergeletak saja di atas meja, lengkap dengan pisau potong dan peralatan lainnya. Sebab keduanya sudah sama-sama terbuai dengan kegiatan seru dan menggebu, yang sepertinya sama-sama mereka inginkan.
Sesungguhnya, tidak sulit bagi Gisel untuk jatuh cinta pada ayah dari bayi yang kini ia kandung. Romeo tampan, mapan, selalu lembut memperlakukannya, juga peka. Tentu mudah bukan untuk melabuhkan rasa itu pada orang yang tepat.
Tidak.
Tidak semudah itu. Gisel trauma dengan kata dan rasa yang di sebut cinta. Apalagi, ia dapat membaca besarnya rasa itu dari Romeo untuk seorang Manda. Awalnya ia tak memiliki niat untuk mengubah rasa Romeo dari sekedar jual beli dan kesepakatan dengannya. Tetapi, kesininya ia merasa perlu meluruskan jalan hidup Romeo. Bukankah pria itu adalah ayah dari bayinya. Bukankah Romeo seorang pemimpin di sebuah perusahaan. Gisel bersimpatik padanya. Bagai mana nasib anaknya kelak, jika harus hidup bersama ayah yang tak memiliki pendirian dan prinsip hidup sendiri. Mudah terombang ambing, dan bagai masih Labil sebab tak profesional menyaring dan memilah mana cinta mana obsesi.
“Terasa basah … bisakah kamu melihat cairan apa yang keluar itu? Aku takut itu adalah sisa darah kotor kemarin.: Romeo menciut, seketika itu kehilangan rasa yang sejak tadi makin menuntut ingin di tuntaskan. Ia lupa jika belum 24 jam Gisel kembali kerumah, setelah di rawat inapkan di sebuah Rumah Sakit. Namun, jika kelelakiannya tentu resah, saat melihat tampilan Gisel yang di matanta begitu seksi, dengan pakaian mini yang ia kenakan. Belum lagi bibir mungil Gisel itu. Ah … manis. Juga, apa salahnya ia melakukan itu. Bukakah Gisel kini telah halal bagi syah watnya.
“Tidak. Itu bukan sisa kotoran kemarin. Sepertinya kamu pun terbuai dengan ciuman kita tadi.” Jawabnya setelah memastikan jika hanya cairan berwarna putih bening yang keluar dari sana.” Brengssek. Mengapa tubuh Gisel berkhianat dengan hatinya. Bukankah cairan itu menandakan jika ia sangat menikmati ciuman tadi, bahkan tak sengaja tubuhnya menginginkan lebih.
“Oh … mungkin aku sampai terkencing.” Jawab Gisel tersipu. Sembari beranjak beediri sambil merapikan tali dasternya yang memang tidak berada di bahunya.
“Aku sudah menjadi suamimu.” Romeo tak rela Gisel meninggalkannya. Secepat kilat ia berdiri dan memeluk Gisel saat akan berjalan meninggalkannya.
“Ya … suami siri.” Jawab Gisel mematung dalam pelukan posesif Romeo.
“Walau siri, bukankah aku tetap berhak mendapatkan atas tubuhmu …?” pancing Romeo dengan nafas yang kembali memburu. Tubuhnya jekas sangat menginginkan Gisel malam itu.
“Benar. Tapi tujuan kita menikah bukan untuk saling memberi hak dan menjalankan kewajiban agar halal. Tapi lebih untuk menyelamatkan status anak ini, agar tidak menjadi anak haram.” Gisel menurunkan tangan Romeo yang sempat merem as, dadanya tadi. Melainkan menurunkannya kebawah, agar berada di permukaan kulit perut buncitnya.
__ADS_1
“Ingatlah, ada anakmu di sini. Yang harus kamu, eh. Kita jaga itu dia. Dia yang sejak lama kamu inginkan hadir di dunia.” Gisel membalikkan tubuhnya, memastikan wajah mereka berdua saling berpandangan dengan jarak yang dekat.
“Tapi … jika kita berhubungan badan. Kita tidak lagi berbuat dosa.” Romeo membela diri. Hatinya semakin gelisah, ingin menuntut lebih.
“Benar … tapi mengertilah. Bahwa kesehatannya lebih penting ketimbang napssu kita.” Gisel menunjuk perutnya. Kemudian benar-benar pergi ke belakang untuk membersihkan tubuhnya. Juga kemudian mengganti pakaiannya dengan piyama serba panjang saja. Agar penampilannya tidak lagi meresahkan Romeo.
Dan ini adalah kali pertama bagi Romeo, yang berstatus beristri dua, namun menggunakan sabun untuk menuntaskan keinginan yang sempat tersulut tadi. Mestinya, dengan statusnya memiliki dua wanita dalam hidupnya, ia bisa menggilir atau membuat jadwal agar bisa dengan adil membagi waktu bersama siapa untuk menyalurkan hasratnya.
“Apa aku boleh tidur bersama kalian …?” tanya Romeo yang tidak menemukan kamar lain yang layak untuk di tempati untuk ia melepas lelahnya seharian. Sebab kamar satunya memang terkunci, tempat pemilik rumah itu menyimpan perabotan yang akan mereka pakai, setelah kembali nanti.
“Tentu saja boleh. Tapi berjanjilah jika kamu hanya tidur. Jadilah pelindung bagi anakmu.” Gisel memastikan jika hal di sofa tadi tidak terulang.
“Mengapa kamu tidak ingin melayani suamimu …?” tanya Romeo dengan senyum di kulum, sambil melangkah mendekati ranjang yang sudah terlebih dahulu Gisel hinggapi.
“Itu masih sakit …?” tanyanya konyol.
“Memar yang terlihat itu adalah tanda jika segala sesuatu belum kembali seperti semula. Dan beruntung itu bisa terlihat secara kasat mata. Tetapi, bagaimana dengan hatiku yang selalu di tuduh sebagai wanita perebut suami orang. Romeo … tolong jujurlah. Apa kamu merasa aku telah merebutmu dari istrimu ?” Gisel memulai aksinya. Ia ingin memberi edukasi pada Romeo. Membuka cakrawala pikiran Romeo yang sedang gangguan jiwa. Sebab telah terjadi penyimpangan dari caranya mencintai seorang Manda yang cendrung berlebihan.
“Tidak. Kamu tidak merebut apapun dari Manda. Aku tetap suaminya. Dan aku tidak kemana-mana.” Jawabnya memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
“Tidurlah … besok kita harus segera pergi ke kantor polisi, untuk membebaskannya.” Ajak Gisel menarik selimut, bermaksud akan melelapkan tidurnya ke alam bawah sadar.
__ADS_1
“Gisel …”
“Heem …”
“Apa kamu benar akan membebaskannya …?”
“Mengapa kamu menanyakan itu?”
“Pinggangmu bahkan masih memar karena ulahnya, hatimu juga pasti sakit karena di cacinya. Apa kamu sungguh akan membebaskannya untukku?” tanya Romeo seolah tak percaya.
“Aku tidak mau anak yang kulahirkan ini nanti tak memiliki mommy karena sedang berada di dalam penjara. Bukankah dia nanti akan menjadi anak kalian?” tanya Gisel balik bertanya pada Romeo.
“Menurutmu, apakah Manda bisa menjadi ibu yang baik. Sedangkan ternyata, dia tidak sesungguhnya mandul.” Romeo mulai merasa nyaman bertukar kisah dengan Gisel. Ini juga menjadi bagian dari target seorang Gisel. Ia jelas akan melakukan segala cara untuk mengubah pola pikir seorang Romeo.
“Tidak mandul …?” tanya Gisel memastikan yang ia dengar barusan.
"Ya, selama ini Manda mengkonsumsi obat agar tidak bisa hamil.” Jawabnya putus asa.
Mata Gisel melotot, tangannya segera menutup mulutnya yang terbuka besar. Tak percaya dengan sebuah kenyataan yang terjadi.
“Manda menggunakan PIL KB, begitu …?”
__ADS_1
Bersambung …