RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 53 : GANTI ISTRI


__ADS_3

Gisel wanita sederhana dan mandiri. Selama menikah dengan Dandy iahanya seorang ibu rumah tangga biasa yang kesehariannya memang banyak di habiskan untuk mengurug rumah dan anaknya Gavy. Untuk kebutuhan sehari-hari, Dandy kerap memerikan nafkah yang cukup. Tak pernah berlebihan juga tidak masuk dalam kategori kurang. Sehingga Gisel memang terbiasa dengan hidup bersahaja yang jauh dari kata mewah.


Hal itu membuatnya merasa tidak bisa cepat beradaptasi dengan keadaannya sekarang yang berubah 180 derajat. Apalagi setelah ia di nyatakan hamil. Semua perlakuan di sekitarnya sangat membuatnya seolah seperti ratu. Di karenakan kemampuan keluarga Romeo yang memang sangat mapan juga keluarga itu semunya penyayang dan perhatian.


Romeo dan Dandy adalah dua sisi yang tidak layak untuk di bandingkan. Hal ini makin terasa saat Gisel mengadung. Hormonnya tentu sangat berbeda merespon semua perlakuan itu padanya. Perhatian Romeo sekeluarga bahkan masuk dalam kategori lebay dalam hal memperlakukannya. Gisel merasa semakin bersalah, jika tak bisa meruntuhkan hatinya sendiri untuk segera menyerah saja dengan cinta dan kasih yang Romeo limpahkan untuknya.


“Kita harus melakukan perjalanan walau sudah hamil besar ini …?” tanya Gisel melihat mata sendu Romeo seolah tak ingin di bantah.


“Sebenarnya tidak harus. Hanya … kesempatan ini tak datang berkali-kali. Aku ingin anakku kelak melihat betapa aku, kita sangat menginginkannya bahkan sejak ia masih dalam perutmu, sayang .” Jawabnya dengan tekanan suara yang du buat manja untuk meyakinkan Gisel.


“Jika memang maunya begitu, apa boleh kita tidak pergi ke Luar Negeri ?” tanya Gisel pelan.


“Boleh donk. Bilang saja, bunda kesayangan ayah mau di ajak liburan kemana?” tanya Romeo antusias.


“Janji jangan marah ya … jika ku sebut nama kota dan alasanku memilih untuk pergi ke sana.” Gisel menatap lekat manik mata pria yang telah menikahinya secara siri tersebut.


“Memangnya … istriku mau pergi kemana ?” Romeo merasa tertarik ingin tau kota yang akan Gisel sebutkan.


“Aku mau ke kota kelahiran Dandy.” Jawab Gisel datar. Tanpa melihat wajah lawan bicaranya, melainkan beranjak, mendekatkan tubuhnya pada kaca jendela kamarnya. Tempat favoritnya berdiri.


“Ada apa dengan kota itu …? Apa kamu masih sangat ingin mengenang pria itu?” dengan nada sedikit cemburu jelas tertangkap pada suara khas Romeo, merespon permintaan istrinya.


“Maaf … jika sejak awal tidak ingin membawa perasaan dalam hubungan kita.” Ucap Gisel Lirih, bahkan terdengar pelan dan samar.


“Aku sudah tidak punya Gavy. Tidak ada tujuan hidupku selanjutnya, jika harapan terakhirku adalah Gavy. Tapi, sekarang aku punya ini, aku punya kalian sebagai alasanku untuk tetap melangsungkan hidupku seterusnya.” Lanjutnya membuat kening Romeo berkerut tak mengerti kemana arah pembicaraan Gisel yang sedari tadi mengusap perutnya sendiri.

__ADS_1


“Gavy telah tenang. Dandy juga sudah jadi bagian dari masa lalumu. Tolong, tutup saja celah kecilpun untuk pria itu. Sebab, aku akan jadi pria pencemburu walau dengan masa lalumu.” Romeo terdengar sangat posesif dalam hal mencintai Gisel. Kini tubuhnya sudah bagai selimut, menutupi tubuh mungil wanita hamil itu dari belakang.


“Maaf jika aku salah. Tapi entah kepercayaan dari mana. Aku merasa jika kamu sudah terlu banyak memberi perasaan untukku. Katakanlah jika kini kamu memamg telah menyayangiku …”


“Itu reel … bukan hanya perasaanmu saja. Aku sungguh sayang kamu.” Romeo segera memotong pembicaraan Gisel, yang belum selesai. Sambil mengeratkan pelukannya dari belakang tubuh Gisel.


“Aku tau … dan itu membuatku malu.”


“Kenapa …?”


“Aku masih berstatus istri orang yang tak punya akta cerai.”


“Itu hanya soal kertas, yang penting kita memiliki rasa dan tujuan yang sama sekarang. Yaitu mendidik dan merawat anak kita dengan baik nanti.” Ungkap Romeo memastikan.


“Itu memang hanya soal kertas. Tapi justru karena kertas itu nanti yang akan menghambat proses ke patenan anak ini.” Jawab Gisel berbalik menghadap tepat kea rah Romeo.


“Aku ingin ke kota kelahiran Dandy, bukan karena masih ingin bertemu atau kembali padanya. Justru karena besar harapanku menemukannya di sana, agar masalah kita segera selesai dengannya.” Lanjut Gisel memperjelas maksudnya.


“Ya …. Walau kemungkinan itu sangat kecil. Tapi, tidak ada salahnya kita mencoba untuk mencarinya ke sana.” Romeo mengalah pada permintaan Gisel, yang menurutnya sedikit masuk akal. Walau tak merasa yakin.


“Pak Romeo … “ Sapa seorang pria yang saat itu sedang berada di deretan penjemputan penumpang yang baru saja mendarat di bagian timur Indonesia itu.


“Pak Charles apa kabar …?” antusias Romeo menjabat tangan lawan bicaranya yang lebih dahulu menyapanya tadi.


“Waah … saya kira. Bapak sudah lupa dengan saya.” Jawab pria itu berbasa-basi.

__ADS_1


“Mana mungkin saya bisa melupakan klien terbaik seperti bapak.” Kekeh Romeo memuji pria bernama Charles di depannya.


“Ah … bapak berlebihan. Apakah ada proyek baru di Kota kami pak. Sehingga bapak kembali ke Kota ini?” tanya Charles lancar ingin tau tujuan kedatangan Romeo bersama seorang wanita mungil, berperut besar, yang sedari tadi, tangannya tak pernah lepas dari pegangannya.


“Oh … bukan proyek perusahaan. Hanya sedang ingin mengajak istri saya berlibur saja, sebelum nanti kami akan di sibukkan dengan aktivitas mengurus bayi.” Jawab Romeo melepas pertautan tangannya, lalu meletakan tanganya ke atas bahu Gisel agar tubuh istrinya semakin rapat dan menenpel dengan tubuhnya.


“Hah … istri ?” tanya Charles agak heran. Bukankah ia belum menderita amnesia atau pikun dini dan semacamnya. Seingatnya, istri Romeo dulu memiliki perawakan tinggi. Sekelas model internasional, super cantik pokoknya. Tapi, mengapa yang kini di hadapannya adalah wanita pendek, yang jauh dari kata modis.


“Iya … sayang. Perkenalkan, ini Charles. Dulu perusahaan kamo pernah menjalin kerja sama. Dan dia memang menetap di Kota ini.” Terang Romeo menjelaskan pada Gisel yang sejak tadi pun m,enyimak obrolan suaminya.


“Gisel …” hanya itu yang keluar dari mulut Gisel untuk menerangkan dirinya.


“Ah … mungkin terlalu banyak orang yang saya temui pak. Sehingga saya agak bermasalah dalam hal mengingat istri teman sendiri.” Kekeh Charles menggaruk kepalnya yang tidaki gatal.


“Kenapa …?” tanya Romeo kaku.


“Seingat saya … istri Pak Romeo tinggi. Ah … mungkin memang saya yang salah ingat.” Ujarnya pelan.


“Tidak Pak, Charles. Dulu nama istri saya Manda Juana. Sekarang Gisel Maryam.” Tepuk Romeo pada bahu Charles sambil terkekeh.


“Hah …?” Kejut Chales.


“Santai saja Pak. Biasa lah kehidupan seperti roda berputar. Jangankan pakaian, istri pun boleh-boleh sajakan berganti-ganti.” Jawab Romeo memberi pengertian pada Charles.


“Oh … I …iya juga.” Jawab Charles terbata.

__ADS_1


“Kak Gisel …?” suara perempuan menyapa Gisel dari kejauhan yang sepertinya mengenal Gisel. Saat mereka masih berada di Bandar Udara di Kota kelahiran Dandy


Bersambung …


__ADS_2