RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 67 : FITTING


__ADS_3

Pasangan Roeo dan Gisel merupakan pasangan unik. Yang jarang di temukan kesamaannya dari beberapa drama pernikahan pada umumny. Bukankah kebanyakan pasangan menikah adalah berasal dari dua insan yang saling jatuh cinta, kemudian bersepakat untuk melanjutkan hubungan cinta itu kejenjang lebih serius. Dengan mengikat janji suci di hadapan saksi, lalu beranak pinak.


Tapi, lihatlah pasangan ini. Mereka bahkan sudah terlebih dahulu beranak pinak. Bahkan di saat keduanya tak peduli adakah rasa cinta itu tumbuh dalam hati keduanya. Memang kemudian mereka pun mengikrarkan janji suci perkawinan atas dasar telah hamil duluan. Berdalih tidak ingin berbuat dosa akibat hubungan suami istri yang mereka lakukan tidak halal. Namun kesininya, atas seringnya bersama dan seiring waktu. Toh rasa cinta pun tumbuh dengan sendirinya.


Maka Romeo pun mendaftarkan pernikahan mereka secara resmi agar anak mereka mendapatkan akta lahir. Tetapi bagi orang tua Romeo, itu tetap tidaklah afdol. Ia tetap menuntut pernikahan kedua anak dan menantunya itu wajib di ketahui khalayak ramai. Agar orang tau kini, anak mereka sudah tidak menyandang status duda, karena di tinggal istri masuk penjara. Mereka juga ingin orang tau, jika kini mereka telah resmi menjadi nenek dan kakek. Bahwa keturunan Subagia itu telah lahir dan ada di dunia.


Mana Yuniar terima soal alasan Romeo tidak mau melaksanakan resepsi hanya karena kini, Gisel berbadan dua kembali. Romeo yang terlampau sibuk atau memang mereka yang terlalu bersemangat menambah cucu untuk mereka. Bagi Yuniar itu tidak penting. Sebab kini, ia rela menguras tenaganya untuk bersibuk ria mengurus acara resepsi pernikahan kedua anaknya.


“Harus banget ya Ma … resepsi ini di laksanakan?” Gisel mencoba berbicara dari hati-hati dengan ibu mertuanya.


“Iya dong sayang. Kamu mau, Romeo di anggap masih duda? Trus … kamu wara wiri di kantornya… di cap seperti istri simpanan? Sampai kapan pernikahan kalian di tutupi?” Jawab Yuniar sambil menata bunga di pas yang busa airnya baru saja ia ganti.


“Gisel malu, perutku pasti sudah buncit nantinya. Orang-orang akan menertawakan istri kedua Romeo yang sangat jauh berbeda dengan sebelumnya.” Gisel masih saja merasa rendah diri. Padahal ia hanya rendah badan.


“Biasakan jangan terlalu ambil pusing dengan omongan orang. Jalan ke Surga itu ga lewat depan rumah mereka yang nyinyirin tentang perut buncitmu kan? Lagian kamu hamil itu karena punya suami yang sah? Masalahnya di mana?” tanya Yuniar tegas.


“Iya sih.” Gisel menyerah. Tak punya alasan untuk menolak lagi permintaan sang mertua.

__ADS_1


“Jika kamu tidak mau di perkenalkan sebagai istri Romeo. Sama saja dengan kamu memberi kesempatan pada wanita lain untuk mendekati ayah anak mu itu.” Lanjur Yuniar tanpa melihat ke arah Gisel. Ia hanya sedang memberi doktrin pada menantunya yang terlihat masih sangat bimbang. Dan ia merasa wajib membimbingnya ke jalan yang benar.


“Mama rasa, kamu kurang bersyukur bisa menjadi wanita yang Romeo pilih sebagai istrinya. Sebagai ibu dari anak-anaknya. Kamu tidak tau saja, bagaimana para wanita ingin menjadikann Romoe milik mereka sepenuhnya. Ada untungnya juga kamu jarang… eh . Tidak pernah ikut acara ibu-ibu ikatan pengusaha di kota ini. Semuanya bersaing, dari harta benda, jabatan suami sampai gebetan juga mencari calon menantu yang harus dari kalangan berada. Huh … kamu bisa gila. Jika mendengarkan obrolan di dalamnya.” Lanjut Yuniar, tidak bermaksud menakuti. Hanya sedang menyampaikan hal yang sungguh terjadi.


“Maaf Mah.” Jawab Gisel seadanya. Bukan tidak ingin berpanjang lebar untuk menanggapi. Tapi sungguh ia mengakui jika ia memang salah.


Kehamilan Gisel menginjak 3 bulan. Perutnya memang tidak lagi rata. Ada bagian yang membuncit akibat janin yang berkembang dalam rahimnya sungguh tumbuh dengan sehat. Gisel kini sedang berada di sebuah butik langganan Yuniar. Jangan di tanya bagaimana mewah dan elegannya pakaian yang terpampang di butik tersebut. Tentu saja semuanya terbuat dari bahan premium.


“Mama … sudah lah. Ini adalah baju ke lima yang mama minta agar Gisel coba. Dia capek mah.” Agak sedikit menghardik Romeo berucap membela istrinya.


“Heh … suami bucin. Kamu tidak bisa melihat dengan detail pakaian yang benar-benar indah dan cocok dengan bentuk tubuh istrimu ini.” Bela Yuniar yang sedang sibuk memilih pakaian tersempurna untuk menantu kesayanagnnya.


“Wait … wait … wait. Nira, ke sinikan pakaian perak yang menantu saya sempat pasang tadi.” Panggilnya pada pelayan yang sejak tadi melayani mereka.


“Permisi … ijin buk. Yang ini kah?” tanya Nira, pelayan yang masih ingat betul dengan pakaian yang sejak tadi di bongkar pasang Gisel.


“Ini Sel … ?” Yuniar mengangkat satu gaun berwarna perak dengan dua tangannya.

__ADS_1


“Iya mah … boleh?” tanya Gisel berharap mertuanya.


“Huum … oke. Minimalis sih, tapi jika memang itu pilihanmu. Mama Oke.” Ujarnya mengamati gaun itu dengan lebih teliti.


“Nira … sampaikan pada Indah. Tolong ukuranya di fix kan lagi, dan jangan buat ngepas di badan. Lalu mute-mute beningnya semua harus dari bahan kristal. Yang putih susunya juga harus dari bahan mutiara aslu dan premium. Waktu kalian hanya 3 minggu dari sekarang.” Wadidaaau… bu Yuniar memang sangat memanjakan menantunya ini.


“Baik buk, akan saya sampaikan.” Jawab Nira patuh.


“Mama … kenapa tidak pakai yang ini saja? Masih muat kok. Ini tidak terlalu ketat.” Gisel segera meraih gaun yang tadi di pegang oleh Yuniar. Mematut-matutkannya lagi di depan permukaan tubuhnya.


“Sayang … ini tuh Cuma sampel. Juga sudah sangat sering di coba-coba oleh orang lain. Banyak virus di gaun ini.” Yuniar segera merebutnya dari tangan Gisel. Membuatnya Melongo, takterpikirkan olehnya dengan hal yang ibu mertuanya itu sampaikan padanya. Yang tidak salah, namun merasa tindakan itu sedikit berlebihan, karena tanpa tedeng aling-aling menyampaikannya bahkan di hadapan pelayan butik itu.


“Permisi mbak. Boleh saya ukur badannya. Agar kami bisa dengan tepat membuat gaun yang baru.” Pinta Nira dengan nada sopan pada Gisel.


“Oh iya .. sebentar. Saya lepaskan gaun ini dulu.” Pamit Gisel yang saat itu memang belum menggunakan pakaiannya sendiri. Sebab masih ada gaun ke emasan yang melekat menutupi badannya.


“Tante Yuniar … apa kabar?” Suara akrab terdengar menguar, memasuki ruangan yang kini di tempati Yuniar. Masih di antara beberapa deret gaun-gaun cantik di sekitar mereka.

__ADS_1


Yuniar menolah dan memandang takjub pada sosok cantik di hadapannya.


Bersambung …


__ADS_2