
Tak ada pancaran lelah di wajah Gisel saat menunggu proses pembuatan duplikasi Surat Nikahnya di buat. Ia tampak berdebar-debar menunggu surat itu selesai. Romeo dengan setia duduk di sebelahnya. Kadang mengelus, kadang juga meremas punggung tangan istri sirinya tersebut.
Hingga tiba nama Gisel di panggil dan di serahkan salinan Sirat Nikah itu. Keduanya pun lega sebab syarat utama secara administrasi telah mereka miliki.
“Kita langsung pulang …?” tanya Gisel pada Romeo yang tak pernah lepas memegang tangannya, seraya berdiri akan meninggalkan tempat mereka sejak tadi.
“Belum … kita harus mendaftar gugatan cerai mu terlebih dahulu.” Jawab Romeo pasti.
Romeo tentu sudah memiliki pengalaman saat telah berhasil menggugat cerai Manda. Mana ia mengira nasibnya sebegini. Pernah menggugat cerai istri sendiri, dan kini harus menemani istri sirinya menggugat cerai suaminya. Hidup sebercanda ini pada seorang Romeo Subagia.
Gisel cemberut saat melihat daftar apa saja yang harus ia lengkapi sebagai syarat cerai. Surat ini surat itu, bukti ini, bukti itu. Huh. Semuanya bukan kesedihan akan retaknya rumah tangganya bersama Dandy. Tetapi, justru bayangan Gavy yang tak bisa pergi dari ingatannya.
Serpanjang perjalanan pulang, Gisel habiskan hanya untuk memandang keluar jendela. Sekedar memanjakan matanya untuk menikmati pemandangan di luar, untuk mengalihkan pikirannya yang kembali terkungkung pada masa kebersamaannya dengan Gavy. Tak heran mengapa kini air matanya jatuh tanpa henti. Namun, ia tetap tidak bersuara.
Romeo tidak mengganggu Gisel. Ia tau pipi Gisel basah, tapi ia tak mau mengganggu istrinya yang sedang mengekspresikan rasa yang tengah bergejolak di dalam hati Gisel.
Sesampai di rumah, Gisel segera mandi. Membersihkan tubuhnya dari segala bakteri jahat yang mungkin menempel di seluruh permukaan kulitnya. Ia harus mendinginkan otaknya, ia harus segera kembali pada kehidupan yang sesungguhnya. Gisel harus segera move on. Dan fokus pada Oniel yang sudah ia lahirkan dan pasti menjanjikan masa depan yang tentu lebih baik.
__ADS_1
“Terima kasih memberikanku jalan keluar untuk segera menggugat Cerai Dandy.” Ujar Gisel saat mereka berdua akan segera tidur. Saat semua aktivitas sore mereka terlewati seperti biasa.
“Aku harusnya sudah lebih dulu mengajakmu membuat itu dan menggugat cerai lebih awal.” Romeo mengambil kepala Gisel, untuk ia letakan di lengannya. Agar berbantal dengan nyaman di sana, juga agar ia lebih mudah mencium pucuk kepala Gisel, kesayangannya kini.
“Huh. Tapi, persayarat cerai itu banyak sekali. Aku bahkan hanya memiliki KK dan duplikat Surat Nikah saja.” Keluh Gisel seolah putus asa.
“Sudahlah. Perjuanganmu hanya sampai hari ini. Selanjutnya biarkan aku yang berjuang untukmu. Sampai kamu sungguh mendapatkan Akta Cerai. Percayakan semuanya padaku. Agar hatimu yakin, jika aku sungguh ingin segera meresmikan pernikahan kita.” Kenapa kata-kata Romeo malam ini membuat jantung Gisel berdegub lebih kencang. Apa Gisel sungguh telah keluar dari rasa trauma konyonya tentang cinta.
“Aku tak pantas di perjuangkan. Pernikahan kita hanya siri. Walau pun kita sudah di karuniai seorang anak. Aku tidak keberatan jika kamu memiliki keinginan untuk mencari wanita selain aku. Carilah yang lebih sepadan denganmu. Yang masih single. Yang berpendidikan tinggi, cantik pokoknya sefrekuensi dengan keluarga kalian.” Hah … saran konyol dari mana lagi itu? Bukankah di luar sana banyak wanita mati-matian ingin memiliki suami sesempurna Romeo. Lalu kenapa saat ia sudah dapat menggenggam Romeo, Gisel seolah ingin melepasnya.
“Tidurlah. Kamu mungkin terlalu lelah hari ini. Sampai-sampai sel otakmu tidak berfungsi dengan baik.”Romeo meletakkan kembali kepala Gisel di atas bantal di sebelahnya. Lalu memilih membalik tubuhnya. Agar tidak berhadapan dengan sang istri.
“Apa aku salah bicara …?” Akhirnya Gisel tidak bisa bergelung dalam diamnya. Pertanyaan itu ia lontarkan, sambil melingkarkan tangannya pada perut Romeo dari belakang.
“Tidak. Mungkin hanya aku yang salah dengar.” Romeo menepuk-nepuk tangan kecil yang ada di atas perutnya.
“Maaf …” lirih Gisel entah minta maaf untuk apa. Yang otaknya bilang, jika ucapannya tadi sungguh sudah menyakiti hati suaminya.
__ADS_1
“Maaf juga.” Jawab Romeo cepat.
“Ayah Oniel. Jangan begini …” Entah … hati Gisel terasa sakit saat punggung suaminya tak kembali menghadapnya. Ternyata ia lebih suka di peluk oleh lelaki yang telah menjadi ayah anaknya tersebut.
“Jika masa lalumu terlampau indah, maka ku ijinkan kamu pelan-pelan menghapusnya sampai waktu yang kamu perlu. Jika dalam hatimu memang masih terisi oleh orang-orang sebelumnya. Aku juga memilih sabar untuk menunggu. Tapi jangan minta aku pergi meninggalkanmu. Aku lelah mencari sandaran hati. Dan aku sudah memilih berhenti di kamu. Kamu … hanya kamu yang ku inginkan untuk menemaniku merawat anak kita dan menua bersama.” Romeo masih dengan posisi membelakangi Gisel.
“Maaf. Aku hanya merasa tak pantas untukmu.” Jawab Gisel mengeratkan pelukannya.
“Bukan kamu yang menentukan standar untuku. Tetapi aku sendiri yang dapat menilai, kemana hatiku layak bermukim. Aku hanya minta kamu berikan akses, agar aku segera bisa menjadi satu-satunya dalam hatimu.” Romeo merasa punggungnya basah. Dan ia tau, asal kelembaban itu dari sumber mata air yang sedang tertempel di punggungnya. Tapi kali ini Romeo tak mau mengalah. Ia memilih membiarkan Gisel menyadari kesalahannya.
Kesalah Gisel selama ini yang selalu ia biarkan. Romeo memang terlalu lemah dan mengalah pada Gisel yang selalu merasa tak layak bahkan tak bisa mencintainya. Bukan, bukan tak cinta. Hanya tak mengaku telah mencinta. Romeo sudah dengan segala cara menunjukkan perasaannya. Ia sudah berjuang melapas Manda dalam hatinya. Bukankah Manda adalah cinta pertamanya dan semua yang mereka lalui adalah hal yang manis. Lalu, mengapa Gisel masih terlihat memanjakan hatinya untuk selalu berada dalam circel ketakutannya akan cinta.
Gisel boleh merasa takut, cemas juga jera pada cinta. Hanya mestinya ia harus lebih peka lagi dengan sekitarnya. Bahkan yang ada di depannya kini adalah sesuatu yang sangat wajar untuk ia terima.
“Maaf jika keadaanku sekarang pun, masih kamu anggap tak layak menggantikan Dandy. Mantan suamimu itu.” Romeo tak tahan dengan rasa basah yang justru membuat belakangnya dingin. Ia memilih berdiri meninggalkan Gisel di atas tempat tidur. Kemudian berjalan keluar, menuju balkom kamar. Membiarkan angin malam menemaninya dalam hening. Pun merasa perlu untuk menyendiri dan berpikir.
“Bukan kamu tak layak menggantikan Dandy. Hanya aku yang merasa bukan apa-apa di bandingkan Manda.” Gisel memilih paha Romeo untuknya bergabung di balkon kamar meraka.
__ADS_1
Bersambung ….