
Romeo sulit menyembunyikan rasa bahagianya, tatkala mendapatkan kepastian jika Rahim Gisel sungguh telah terisi oleh benihnya. Tak bisa ia pungkiri, jika selama ini kerja kerasnya bersama Gisel membuahkan hasil. Namun, dalam hatinya Manda tetaplah wanita yang ia cintai. Wanita yang harus selalu ia puja dan ia jaga kebahagiaannya.
Maka, sejak Gisel di nyatakan hamil. Romeo sungguh tak pernah lagi datang kerumah ibunya. Ia hanya sesekali menelpon Gisel untuk menanyakan tentang kesehatan wanita yang rahimnya ia pakai untuk melanjutkan keturuannnya. Walaupun sejujurnya, Romeo pun kadang terkenang dengan gaya bercintanya dengan Gisel. Yang kadang memang terasa lebih panas di bandingkan dengan Manda, istri yang telah ia nikahi. Wanita yang membuatnya tergila-gila sejak masa kuliah.
Romeo memang bucin terhadap Manda. Bahkan penundaan memperoleh momongan pun, sebenarnya bagian dari permintaan Manda sejak awal pernikahan mereka. Dengan alasan, Romeo yang masih merangkak menjalankan bisnis milik orang tuanya. Dan merasa jika dalam usia 25 tahunnya itu, Manda merasa belum siap menjadi seorang ibu. Ia, merasa batinnya harus ia kuatkan terlebih dahulu, agar kelak tak mengalami baby blush atau apapun, jika buru-buru memiliki anak dalam pernikahan mereka.
“Sayang … bagaimana kalau kita menjenguk Gisel?” ajak Romeo pada Manda yang sore itu terlihat akan bersiap pergi.
“Untuk apa kamu menjenguknya … Cukup Mama memanjakannya. Kamu tidak usah.” Jawabnya dengan nada ketus.
“Tapi aku ayah dari anak itu, Sayang.”
“Heei … jangan bilang kamu jatuh cinta pada wanita penjual Rahim itu. Dia tak lain hanyalah pabrik anak untukmu. Jadi jangan sekali-kali kamu memperlakukannya lebih. Nanti dia besar kepala.” Hardik Manda pada Romeo yang sungguh tak berkutik dengan perkataan istrinya itu.
Romeo tak merasa cinta pada Gisel. Ia yakin, hatinya bulat dan utuh hanya untuk Manda seorang. Tapi, bayangan biji kacang yang kerap ia lihat pada tiap bulan pemeriksaan kehamilan Gisel membuatnya rindu untuk ingin membangun ikatan batin dengan calon anaknya. Ya … kini kehamilan itu akan memasuki usia 3 bulan.
Perut Gisel tak lagi rata, mulai terlihat sedikit menonjol. Menandakan jabang bayi itu memang tumbuh dan berkembang dengan sehat di dalam sana. Kadang Romeo melakukan panggilan videocall dengan Gisel. Sekedar ingin menyapa anaknya lewat benda canggih tersebut. Ingin menemui Gisel secara langsung, tapi ia ingat akan perjanjiannya dengan Gisel. Bahwa setelah positif ia tidak boleh lagi berinteraksi dengan Gisel.
“Gisel … kapan jadwal kalian memeriksakan kandunganmu lagi?” tanya Yuniar pada Gisel yang terlihat segar sore itu.
“Besok Ma.” Jawab Gisel yang memanggil ibu Romeo dengan panggilan yang sama dengan Romeo.
__ADS_1
“Hum.” Dehemnya singkat.
Keesokkan harinya, tanpa di minta dan di kirimi pesan oleh Gisel. Romeo tampak sudah bersemangat mengantar Gisel ke dokter kandungan. Sebab saat itulah ia bisa dengan leluasa memegang perut Gisel setelah di periksa.
“Bagaimana perkembangan janinnya dokter?” tanya Romeo antusias.
“Baik … sangat baik, Pak.” Senyum dokter terkembang menghadap Romeo.
“Syukurlah.” Jawab Romeo membantu Gisel merapikan pakaiannya, lalu mendudukan Gisel di sampingnya. Dan tidak melepas tangan Gisel dari genggamannya.
“Ini foto janin. Usianya 12 minggu, panjangnya 5,6 m. Sepertinya akan tinggi seperti ayahnya. Beratnya ideal ya, 14 gram.” Terang dokter itu membaca hasil USG.
“Bagaimana dengan jenis kelaminnya dokter?” tanya Romeo antusias.
“Baik … baiklah.” Kekeh Romeo senang mendengar keterangan dari dokter.
“Oh iya Pak. Usia kehamilan sudah melewati trimester pertama, janin sudah kuat. Bapak dan ibu sudah boleh kok melakukan hubungan suami istri. Jangan sampai tidak di lakukan, agar menghasilkan hormone endorfin yang sangat baik untuk psikis ibu hamil.” Tambah dokter itu dengan nada agak santai.
“Untuk apa hormone itu, dokter?” polos Romeo bertanya.
“Hormone Endorfin adalah zat kimia yang di hasilkan secara alami oleh tubuh. Berperan sebagai penghilang rasa sakit alami dan bertanggung jawab atas perasaan senang setelah melakukan aktivitas tertentu, yang dapat menghasilkan energy posistif dalam diri seseorang. Saya yakin, bericinta dengan pasangan tentu hal yang dapat menghasilkan hormone tersebut. Ibu hamil bahagia, maka anak yang dalam kandungan akan lebih sehat.” Pesan dokter itu dengan lancar.
__ADS_1
Mendadak wajah Gisel bersemu merah, agak malu ia mendengarkan penjelasan itu. Ia pernah hamil sebelumnya, bahkan tak pernah di jelaskan sedetail itu. Ia dan Dandy adalah pasangan suami istri, yang kapan saja bisa bercinta sebagai rutinitas biasa. Baru kali ini, ia tau. Bahwa hubungan tersebut dapat memberi pengaruh sebaik itu.
Romeo meluntur senyumnya. Menyadari bahkan sudah lebih 2 bulan tidak lagi menggauli wanita pencetak keturunan Keluarga Subagia itu. Apa ia harus mengubah isi perjanjian dan mengingkari janjinya pada Manda istrinya.
“Maafin Dady yang jarang menyapamu ya, Anakku.” Cium Romeo pada perut tak rata itu. Saat mereka berdua sudah di dalam mobil. Mendadak jantung Gisel berdegub kencang. Mengapa ia tiba-tiba salah tingkah, saat bibir Romeo dengan lembut mendarat di permukaan kulit perutnya.
“Huh … mengapa perlakuan ini terasa begitu manis. Bahkan Dandy suamiku dahulu tak pernah berhasil membuat aku terbuai, dan merasakan ribuan kupu-kupu beterbangan memenuhi pengelihatanku. Saat ia menyentuh perutku. Tuhan, jangan bilang aku jatuh cinta dengan patner ranjangku ini. Ia sudah habis uang banyak untukku, jaga hatiku agar tetap professional menghadapi ini. Kuatkan hatiku, bahwa ini hanyalah jual beli, bukan cinta kasih.” Monolog Gisel dalam hati.
“Romeo … duduk dulu.” Suara Yuniar terdengar tegas meminta anaknya duduk menghadapnya.
“Sebentar Ma, aku antar Gisel ke kamarnya dulu.” Jawab Romeo sopan.
Belum, sampai kaki Romeo tiba di ruang tamu. Dimana ibunya sedang menunggunya. Sudah terdengar suara Manda, istrinya di ruang yang sama, rupanya Manda menyusulnya dan kini sedang bersenda gurau dengan mertuanya.
“Kebetulan kalian berdua di sini. Terutama kamu, Manda.” Tegas Yuniar menghadap kedua insan di hadapannya.
Romeo menyempatkan diri untuk mencium pipi Manda, atas pertemuan mereka di rumah ibunya.
“Mama hanya mau bilang. Tolong, bagi waktumu untuk Gisel. Bagaimanapun, sekarang dia sedang hamil anakmu. Sebaiknya, berikan kasih sayang untuk anakmu sejak dalam kandungan. Buat ikatan batin sejak dini, agar ia merasakan betapa ayahnya sangat menginginkan kehadirannya di dunia.” Yuniar menyampaikan dengan nada lembut penuh pinta.
“Tidak perlu, Ma. Gisel hanya pabrik anak. Untuk apa memberi waktu untuknya? Yang ada dia akan jatuh cinta pada suamiku. Dan, aku tidak sudi di madu.” Tegas Manda dengan nada yang tak pantas ia sampaikan pada ibu mertuanya.
__ADS_1
Bersambung ….