RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 27 : TETAP PERGI


__ADS_3

Seujung rambut dan seujung kuku Gisel tak pernah berniat menjadi perebut suami Manda atau suami siapapun. Namun lelah hatinya untuk melawan dan membela diri, bahkan sebuah realita pun jelas terlihat jika kini ia telah mengandung darah daging pria yang bukan suaminya. Berdasarkan kesepakatan dan perjanjian komersial belaka.


Sedapat mungkin melipir ingin terus menepi agar bisa hidup damai menyelesaikan misi hidupnya yang konyol adalah pilihan yang ingin ia jalani. Tapi, apa kabar dengan gerakan sekitar yang memicunya untuk tidak bisa tinggal diam.


Gisel sengaja membiarkan tubuhnya polos tanpa busana saat Romeo memandikannya. Apa yang bisa ia pertahankan dari bentuk tubuh yang sudah buncit di bagian perut, akibat ulah Romeo sendiri. Tiap lekuk dan tiap inchi tubuhnya juga sudah di cicipi Romeo bukan. Lalu persetan dengan rasa malu atau apalah namanya itu.


Sekuat mungkin Romeo menahan rasa inginnya, saat naluri lelakinya di uji dengan sebuah tubuh polos yang sedang ia rawat di hadapannya. Bukankah ia pria normal, sedapat mungkin ia meyakinkan dirinya, jika wanita itu sedang sakit dan tidak bisa di gerayanginya sesuai hasrat syah watnya. Menggosok cepat, lalu menguyur tubuh itu dan segera membalutnya dengan handuk, adalah hal yang harus segera Romeo lakukan pada tubuh mungil yang ternyata juga ia rindukan, akibat lama tidak menyentuhnya dengan intens.


“Maaf membuatmu repot.” Gisel berbasa-basi agar tidak nampak ia memang senang mendapat perlakuan itu dari seorang Romeo.


“Mestinya saat kamu tinggal sendiri, aku tetap memberimu satu asisten rumah tangga untuk menjaga calon anakku.” Tubuh mungil Gisel sudah dalam gendongan Romeo. Untuk ia letakan di atas bed pasien kembali.


“Itu berlebihan.” Jawab Gisel seolah tak enak dan sedikit sungkan.


“Kembalilah tinggal bersama mama. Aku tidak bisa terus memantaumu, jika kamu tinggal sendiri.” Pinta Romeo sambil membantu Gisel memasang pakaiannya.


“Mana celana dan behaku …? Bukankah tadi kamu pulang ke rumahku …?” tanya Gisel sedikit bingung. Tidak menanggapi permintaan Romeo tadi. Lebih fokus pada pakaian yang perawat bawakan, yaitu pakaian khusus pasien tanpa dalaman.


“Aku hanya mengambil tas, dompet dan kunci rumahmu. Mana aku tau di mana pakaian dalam mu.” Ujar Romeo seadanya.


Dengan cekatan Gisel mengambil pakaian pasien lalu memasangnya tanpa dalaman. Yang penting tubuhnya segera tertutup.


“Nanti aku belikan yang baru saja.” Ucapnya menekan ponselnya, mungkin memberi perintah pada sekretarisnya. Gisel diam saja dengan segala pengaturan yang Romeo sampaikan padanya.


“Bagaimana …?” tanya Romeo setelah selesai melakukan panggilan.


“Apa …?”


“Setelah ini, kembalilah tinggal bersama mama.” Pinta Romeo lagi.


“Tidak perlu. Aku akan baik-baik saja menjaga anak ini. Asalkan kamu baik-baik juga menjaga istrimu.” Kode yang cukup keras yang Gisel sampaikan pada Romeo.

__ADS_1


“Jujurlah, memar di pinggangmu itu adalah ulah Manda.” Paksa Romeo pada Gisel.


“Jika ku jawab Ya. Apa yang akan kamu lakukan padanya …? Memarahinya? Menceraikannya? Atau memenjarakannya …?” tantang Gisel pada Romeo. Membuat pria itu gagu. Tak dapat menjawab opsi yang Gisel ajukan padanya.


“Artinya benar, ia telah berbuat jahat padamu …?” tanya Romeo lagi.


“Apa kamu sudah bertanya pada istrimu tentang hal ini?” tanya Gisel dengan cepat.


“Sudah …”


“Apa yang iakatakan …?”


“Ia datang untuk minta maaf, dan tak sengaja mendorong pintu, yang ternyata kamu sudah terjatuh di sana.” Jawab Romeo mengulang penjelasan Manda.


“Ya sudah … jika itu yang ia akui. Silahkan terus percaya pada istri yang kamu cintai itu saja. Tidak perlu kamu membandingkannya dengan jawabanku. Toh, walau bagaimanapun. Yang tercintalah yang paling benar.” Sindir Gisel, kemudian memiringkan tubuhnya untuk menghindari tatapan Romeo. Ia tak pernah ingin menghakimi apalagi mengadu-adu pada Romeo. Sebab Ia tau, jika lawan bicaranya adalah orang buta juga tuli karena cinta. Sekuat apapun kamu menuntutnya, ia lebih percaya tongkat yang ia gunakan sebagai penunjuk jalan bukan. Sekeras apapun kamu berseru, tetap tak akan ia hiraukan.


“Aku pulang dulu, mau mengantar Manda ke Bandara. Setelahnya aku akan kembali ke sini, untuk menemanimu hingga pagi.” Pamit Romeo tanpa di setujui dan larangan dari Gisel yang masih dalam posisi tak ingin melihat lawan bicaranya.


Sementara di rumah, Manda sudah sibuk mengatur skenarionya. Sebab ia sudah terlanjur bilang akan berangkat dengan beberapa ibu-ibu, teman sosialitanya. Tapi, mana mungkin ia bisa mengatur dalam waktu singkat sandiwara yang ia buat sendiri tersebut.


“Oh sayang … aku sungguh tidak fokus dengan perjalanan ini. Ternyata aku sudah tertinggal dari rombongan. Pesawat mereka sudah berangkat pukul 4 sore tadi. Dan hanya sisa aku yang berangkat di penerbangan malam ini.” Bohongnya berlapis kebohongan lainnya.


“Ya sudah lah … bukankah kamu tidak berniat untuk membatalkannya bukan? Aku mandi dulu, lalu akan mengantarmu.” Romeo masuk ke kamar mandi untuk mebersihkan tubuhnya.


“Roy … bagaimana ini. Romeo sebentar lagi akan mengantarku ke Bandara. Padahal aku berharap dia tidak mengantarku.” Ujar Manda mengirim chat pada Roy.


“Tenang saja, aku sudah memiliki rekanan di sana. Kamu akan di ijinkan masuk seolah sungguh berangkat seperti layaknya penumpang.” Balas Roy yang sudah ahli dalam bidang perbohongan itu.


“I lop you.” Balas Manda lega.


“Lop yu more, honey.” Bahkan chat itu hanya sempat ia baca, kemudian harus segera di hapus. Agar tidak menjadi masalah di kemudian hari.

__ADS_1


Mobil Romeo sudah berada di parkiran pengantar penumpang. Namun Romeo tidak langsung turun sebab ponselnya berdering.


Papa, itu nama yang tersemat di sana, sedang melakukan kontak pada ponselnya.


“Iya Pa…”


“Kamu di mana …?”


“Di bandara, mengantar Manda ia akan ke Milan malam ini.”


“Gisel tadi pagi kecelakaan, apa kamu tau …?” tanya Keynan tiba-tiba.


“Iya pa, setelah ini aku akan menemaninya di rumah sakit.” Jawab Romeo cepat.


“Hmm … pukul berapa Manda terbang?” tanya Keynan lagi.


“kurang lebih satu jam lagi.” Jawab Romeo apa adanya.


“Apa kamu terlalu sibuk, sehingga tidak ikut serta bersamanya …?” pancing Keynan pada Romeo.


“Mungkin lain kali, kami akan liburan, sebab kali ini ia pergi bersama teman-temannya.” Jelas Romeo sesuai keterangan dari Manda. Komunikasi itu berakhir. Romeo pun menurunkan koper yang di akan Manda bawa untuk pergi.


Tangan manda bagai terikat dengan lengan Romeo. Ia bangga saat beberapa pasang mata menatap iri pada mereka beruda yang merupakan pasangan serasi, tampan dan cantik terlihat modis pula.


Manda akan menunjukkan ponselnya yang berisi tiket tentunya. Dengan percaya diri Manda mendekati bagian pemeriksaan di depan gerbang. Namun, belum sempat ia melakukan interaksi dengan para penjaga di depannya. Ia sudah mendengar suaranya di sebut oleh beberapa orang lelaki berseragam kecoklatan di belakang mereka.


“Manda Juana. Kamu harus kami bawa ke kantor untuk memberi kesaksian perihal kasus penganiyaan terhadap ibu hamil.” Suara khas laki-laki terdengar dari belakang tubuh Manda dan Romeo.


Bersambung ….


Haaiii readers apa kabar?

__ADS_1


Gimana?


Udah senang belum?


__ADS_2