
Demikianlah rumah tangga Gisel dan Romeo yang semakin hari semakin di tumbuhi rasa cinta yang mendalam satu sama lain. Gisel yang setelah mengakui perasannya pun, sungguh telah merubah prilakunya. Tak ada lagi rasa canggung untuk memulai keintimannya dengan Romeo. Sepertinya ia sungguh telah sadar dan menerima Romeo sesuai takaran yang seharusnya ia berikan sejak awal menjadi wanita yang Romeo pilih. Baik sebagai wanita yang hanya di pakai rahimnya saja untuk memberinya keturunan atau setelah menajdi istri sirinya.
Tak tetasa 3 bulan berlalu. Waktu terasa cepat berotasi. Saat rutinitas Romeo ia isi sebagai seorang pengusaha yang lumayan sukses. Yang kadang pulang cepat, pulang malam. Atau sesekali keluar kota. Sehingga tidak selalu yang ada dalam pikirannya tentang membuat adik bagi Oniel. Toh, itu hanya menjadi sesuatu yang ia lakukan di saat senggang juga rindu pada pelukan sang istri.
Pun Gisel, akhir-akhir ini juga sudah mulai di sibukkan dengan panggilan sidang gugatan cerainya.
Proses itu memang terbilang hemat waktu, sebab pihak tergugat tidak pernah hadir di persidangan. Baik itu pada pangilan satu, dua apalagi meditasi. Hal itu tentu sangat mempercepat Gisel mendapatkan Akta Cerainya.
Jika dari banyaknya kasus perceraian adalah sesuatu yang menyedihkan dan di landa rasa gamang, cemas bahkan kadang bimbang. Sebab bagaimanapun menyandang status janda cerai hidup bagai momok menakutkan bagi beberapa wanita. Tak ada satu wanita di dunia menginginkan predikat itu di sandang pada usia muda. Hal itu tentu berbeda dengan yang Gisel rasakan sekarang.
Sebab Akta cerai itu, kini sudah dalam genggamannya. Ada senyum puas terpias pada raut wajahnya. Karena Gisel sungguh telah mendambakan menjadi janda bersurat resmi.
Tentu saja itu adalah hal yang membuatnya lega. Wanita mana yang masih ingin terikat dengan pria penipu dan secara tidak langsung menjadi pembunuh anaknya sendiri. Pria yang dengan tidak sengaja membuat istrinya menjasdi serong pelacur dengan versi berbeda namun tetap masuk dalam kategori menjual diri.
Wanita mana pula yang mampu ingkar, jika pesona laki-laki kedua yang datang padanya ialah sosok sempurna yang telah berhasil menguasai jiwa dan raganya. Di tambah lagi, kini mereka telah memiliki buah hati. Apa Gisel masih punya alasan untuk tidak menerimanya? Sampai mana Gisel tetap mau berada dalam rasa trauma konyolnya, yang tak percaya akan cinta, dan takut untuk mencinta dan di cinta. Bukankah ia hanya sedang membuang-buang waktunya sendiri.
Roda kehidupan itu berputar, kadang ke atas, kadang di bawah. Tidak selamanya bukan, yang di bawah selalu berada di bawah. Dan tak ada yang abadi, mereka yang berada di atas selalu di posisi itu.
Nasib manusia tiada yang tau, juga cara perubahan dan pembagian kapan itu berotasi atau berpindah. Persis Gisel, yang tak mengira jika takdir kini justru mengantarkannya pada kehidupan yang berbanding terbalik dengan hidupnya di masa yang telah berlalu.
Gisel yang dulu hanya seorang Ibu Rumah Tangga dari seorang suami biasa, yang harus pintar mengelola keuangan agar tetap bisa bertahan hidup. Tetapi kiniu, ia bahkan jarang menggunakan otaknya untuk sekedar berpikir makan apa hari ini. Sebab semua telah tersedia. Semua telah tercukupi oleh Romeo Subagia suami keduanya.
“Terima kasih bantuannya.” Ucap Gisel pada Romeo saat mereka sudah tiba di rumah. Setelah beberapa menit sebelumnya Gisel sudah melepas kerinduannya memeluk dan menggendong Baby O yang ia tinggal sejak siang hingga kini hampir petang.
“Untuk apa …?”
__ADS_1
“Ini … akhirnya aku resmi menjadi janda.” Gisel menunjuk Akta Cerainya dengan bangga.
“Cieee jadi janda.” Ledek Romeo memeluk Gisel dengan senyum terkembang.
“Sukaaa …” Balas Gisel ikut tertawa.
“Maaf. Baru sekarang aku punya waktu mengantarmu mengurus itu. Mestinya sejak kita baru menikah. Hal itu sudah aku lakukan.” Jawab Romeo meraih tubuh mungil istrinya dan memangkunya di atas pahanya.
“Aku sunggh tidak tau jika Surat Nikah itu boleh di duplikasikan. Sehingga memang tak pernah terpikir olehku untuk menggugat cerai Dandy terlebih dahulu.” Terdengar pengakuan itu sangat jujur sekali. Gisel sungguh tidak mengira hal itu dapat di lakukan, bahkann dengan mudah menurutnya.
Iya … tentu saja mudah. Sebab dokumen lain bukan dia yang siapkan. Melainkan itu menjadi urusan Romeo. Bukti kejahatan Dandy juga sudah semua di tangannya. Hanya manusia bernama Dandy itu saja yang belum berani muncul kepermukaan.
“Sekali lagi terima kasih ayah O.” Bisik Gisel dekat telinga Romeo.
“Terima kasih saja …?”
“Terima kasih sama si banget …?”
“Terima kasih suamiku sayaaaang.” Gisel menempelkan lama bibirnya di dahi Romeo sebagai wujud rasa senangnya.
“Honeymoon yook, sayang.” Rengek Romeo. Ya … begitulah Romeo selalu Romantis. Dan bertingkah manis pada wanita yang sudah ia jadikan ratu dalam rumahnya.
“Kemana …?”
“Bulan … planet atau matahari?” ledek Romeo bercanda.
__ADS_1
“Di rumah saja.” Jawab Gisel mengerling pada sang suami.
“Hah … jangan merendahkan kemampuan suamimu. Aku bahkan mampu membawamu keliling dunia dengan uangku. Asal itu adalah permintaanmu.” Jawab Romeo dengan tatapan serius kali ini.
Gisel menggeleng.
“Aku tak suka travelling.” Jawabnya singkat.
“Ayolah … baby O sudah makin besar. Usianya hampir 9 bulan. Lagi pula, kamu sudah resmi menjanda. Surat Nikah kita akan terbit. Setidaknya kita bisa merayakanny, bukan.”
“Harus, kita rayakan dengan honeymoon ke luar negeri atau luar pulau?” tanya Gisel memastikan.
“Tidak juga. Yang pasti di luar kebiasaan kita bercinta seperti biasanya.’ Kekeh Romeo.
“Huh … pikiran ayah O selalu begitu. Ada ada saja alasannya. Yang ujung-ujungnya selalu kesana.”
“Ayolah sayang, aku mau tujuh hari tujuh malam hanya berguling-gulingan denganmu. Tanpa memikirkan pekerjaan dan segalanya. Hanya berduaan denganmu. Sampai usaha kita membuahkan hasil. Baru aku tidak mengganggumu.” Ujarnya dengan mengangkat dua jari pertanda janji pada sang istri.
“Ulang …” pinta Gisel manja.
“Yang mana …?” Romeo bicara tadi sudah dalam posisi berselonjoran di atas sofa di kamar mereka. Ingin sekedar melihat televisi walau dia sendiri tidak tau harus menonton apa, sebab kesininya berita makin mirip acara sinetron kejar tayang yang hanya panjang dan berdurasi lama, isinya mirip acara gosip. Dan acra gosip justru lebih update seperti sebuah berita terhangat. Ya .. itulah kenyataan.
“Yang terakhir…” Jawab Gisel berjalan menjauh posisi suaminya.
“Yang tidak akan mengganggumu …?” Ulang Romeo menoleh ke arah Gisel yang terlihat melangkah kembali mendekatinya.
__ADS_1
“Huum … ayah O yakin tidak akan sering mengganggu tidur malamku?” tanya Gisel memastikan. Kemudian memilih duduk di ujung kaki Romeo dan memberikan sesuatu yang membuat Romeo tak jadi tidur dengan tenang atau sekedar melihat televisi di dalam kamar mereka.
Bersambung …