
Hari-hari berlalu silih berganti. Dalam sepekan, kadang tiga kali Romeo kerumah ibunya. Sekedar datang untuk bercocok tanam dengan Gisel. Tidak ada penolakan, apalagi bantahan dari Gisel sebab tugasnya, memang hanya untuk di buat hamil oleh Romeo.
Suami Manda itu kadang datang pukul 8 malam , kemudian pulang pukul 10 atau 11. Atau jika ia datang terlalu malam, semakin larut pula ia pulang ke rumah mereka dan Manda. Tak pernah sekalipun ia menginap bersama Gisel. Seandainya ia datang di tengah malam pun, sebelum pagi ia tetap pulang kepelukan Manda istrinya.
“Terima kasih.” Ucap Romeo setiap kali Gisel melayaninya. Hubungan itu memang semacam rutinitas kerja. Dimana keduanya sungguh melakukannya tanpa rasa antara satu dan lainnya. Romeo berusaha sekuat tenaga menyemburkan rahim itu hingga terjadi pembuahan. Dan Gisel semampunya menjaga kondisi tubuh agar selalu fit juga sehat dalam hal menerima sejuta embrio berupa cairan yang terlepas, berharap satu saja membuahkan hasil.
“Apa … orang-orang mu masih belum menemukan anakku …?” tanya Gisel memberanikan diri bertanya saat Romeo akan beranjak membersihkan tubuh setelah penyatuan mereka. Sementara Gisel memilih mengangkat kakinya ke dinding beralas bantal pada pinggulnya. Agar cairan itu sungguh lekas sampai pada rahimnya.
“Terakhir mereka menemukan jejaknya di pelabuhan. Hanya mereka belum menerima informasi yang akurat..” Jawab Romeo jujur.
“Setelah aku melahirkan … apakah aku sungguh mendapatkan sisa uang yang kamu janjikan?” tanya Gisel terpikir, mungkin saja Romeo ingkar.
“Saat aku berjanji memberimu 100 juta pun. Aku berikan 200 juta bukan? Masa aku berbohong jika aku benar telah menggendong bayi kelak.” Jawab Romeo dengan nada datar.
“Hm … ya. Di sini, akulah sesungghnya yang sudah merugikanmu. Manghilangkan uangmu, padahal pekerjaanku belum membuahkan hasil.” Gisel sadar, Romeolah korban sebagai pelunas hutangnya. Sampai ia belum hamil. Dia lah yang berhutang pada Romeo.
“Tolong … jangan memikirkan hal lain yang bisa membuatmu stress. Aku hanya ingin kamu cepat hamil anakku.” Tubuh Romeo sudah hilang di balik pintu kamar mandi dalam kamar yang di humi oleh Giesl.
__ADS_1
Memandang nanar pada langit kamar. Sungguh hatinya berharap agar ia segera hamil, melahirkan. Lalu bebas mencari Gavy anak yang pernah ia lahirkan, empat tahun lalu.
Seiring waktu, Yuniar. Ibunda Romeo semakin simpatik pada gadis bertubuh mungil itu. Banyak cerita yang mereka tukarkan. Bahkan asal usul dan perjanjian nya dengan Romeo pun tidak Gisel tutupi. Gisel di perlakukan baik oleh ibunda Romeo. Sebab hati kecilnya berkata, jika Gisel adalah wanita baik-baik. Dengan berbagai cara Yuniar menghibur Gisel, agar fokus saja untuk hamil. Dan nanti akan ikut membantu dalam urusan pencarian anaknya yang hilang.
Satu purnama berganti. Kabar tentang Gavy yang Gisel nanti pun sudah terdengar. Bahwa, anak dan suaminya itu sungguh telah kabur dengan kapal laut. Dengan tujuan pulau lain, kemudian berlanjut ke Luar Negeri, yang sudah sangat sulit untuk di lacak. Romeo merasa tidak perlu mengerahkan semua energinya untuk itu. Bukankah fokusnya hanya membuat Gisel hamil.
“Bisakah hari ini kamu ke rumah lebih cepat, ada yang ingin ku sampaikan.” Isi pesan singkat Gisel pada Romeo. Gisel jarang bahkan hampir tak pernah meminta Romeo menyambanginya. Sebab Romeo sendiri yang tau kapan saat tepat untuk menyetor bibit premiumnya pada Gisel.
Tapi tidak dengan hari ini. Sebab ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Dan ia tidak ingin Romeo datang hanya di malam hari lalu pulang, setelah mereka bersettubuh. Seperti biasanya.
“Baiklah.” Balas Romeo singkat.
“Ada, apa?” Romeo masuk ke kamar Gisel. Mendapati wanita itu terbalut dengan handuk ungu tua. Rambut sedikit basah, sebab baru selesai mandi. Saraf otak Romeo berkata, ini adalah pemandangan yang membuatnya bergidik dan ingin memeluk tubuh mungil itu erat. Tapi sedapat mungkin di tahannya. Ia masih ingat, Manda istrinya. Dan Gisel hanya ia pinjam rahimnya sebentar.
“Aku sudah terlambat haid tujuh hari. Payyudaraku agak kencang dari biasanya. Di pagi hari, aku kerap merasakan sedikit mual. Bisakah kita ke dokter untuk memastikan, apakah aku sungguh telah hamil.” Jelas Gisel datar. Tak ada ekspresi suka atau sedih di sana. Baginya hamil adalah tujuan kebersamaannya. Tapi, entahlah. Apakah ia bisa menyerahkan buah hatinya ini nanti pada Romeo. Sedangkan ia kehilangan Gavy anaknya.
“Oh … baiklah. Kita berangkat sekarang.” Tanpa pikir panjang Romeo segera bergegas menarik tangan Gisel menuju mobilnya. Sembari meraih gawainya untuk menghubungi seseorang. Untuk mempersiapkan segala sesuatu untuknya.
__ADS_1
Klinik Mom N Kids. Itulah nama tempat yang kini, Gisel dan Romeo tuju. Entah bagaimana prosesnya. Sehingga Gisel dan Romeo tak perlu melakukan antrian panjang seperti pasien lainnya. Gisel sudah berbaring di bed pasien. Untuk di periksa keadaan perutnya. Sedangkan Romeo, duduk melihat kegiatan yang dokter Obgyn itu lakukan pada wanita yang ia harapkan akan memberinya keturunan.
“Selamat Pak. Usia kehamilannya 5 minggu. Keadaanya baik, namun akan tetap saya resepkan vitamin untuk kesehatan ibu dan calon bayi.” Kata-kata itu yang sudah 5 tahun ini di tunggu Romeo. Tapi, tentu saja dari Manda. Namun, ia sungguh teharu. Bahkan berdiri membantu Gisel berdiri dan kembali duduk di sebelahnya. Mengusap perut rata Gisel, dengan rasa yang sulit untuk ia artikan sendiri.
“Terima kasih sudah tumbuh di Rahim ibu mu.” Usap Romeo lagi pada perut rata Gisel. Romeo tak bisa membendung rasa bahagia dan bangganya. Jika kini sungguh ia akan menjadi seorang ayah, seperti impiannya selama ini.
Kabar kehamilan Gisel tak hanya membuat Romeo senang. Yuniar tentu lebih bahagia, akhirnya keturunan mereka pun bisa berlanjut. Sebab Romeo adalah anak tunggal. Siapakah kelak yang akan mewarisi nama besar keluarga mereka. Jika Romeo tak mampu memberi mereka cucu.
Dalam waktu sekejab, rekening Gisel segera membengkak. Transferan 300 juta, sudah tertera dalam notifikasi ponselnya. Hah … adakah gunanya kini. Uang sebesar itu. Saat hatinya hampa, tanpa Gavy.
Gisel menelan salivanya, terkenang lagi teriakan Gavy dengan jelas jika ia saat itu bersama ayah brengsseknya. Untuk apa uang banyak jika tak punya anak? Itu yang ada dalam benak Gisel sekarang,
Kehamilan Gisel terjaga dengan baik. Ia masih berada di rumah ibunda Romeo. Ia diperlakukan bak ratu, di penuhi semua keinginannya, bahkan sebelum ia pinta. Nasib Gisel berubah 180 derajat. Yuniar sungguh tidak membiarkannya lelah. Dalam kamarnya, bahkan ada satu pelayan yang di tugaskan untuk menemaninya. Agar tak satupun keinginannya tidak terpenuhi.
Namun satu hal yang membuat Yuniar bingung. Mengapa sejak Gisel di nyatakan hamil. Romeo tak pernah muncul untuk menyapa Gisel seperti biasanya. Dan itu sudah berlangsung hampir dua bulan terakhir. Pernah 2 kali ia datang, saat akan mengajak Gisel memeriksakan kandungannya saja, selebihnya tidak pernah.
Bersambung ….
__ADS_1