
Ruang rawat ianap Romeo mendadak berubah suasana, suara alat medis yang sejak tadi terdengar menyeruak seketika sayup, samar bahkan berganti dengan suara decakan dari saliva yang bertukaran di rongga mulut pasangan siri di ruangan itu.
Pertanyaan Gisel tentang siapa yang Romeo rindukan tadi, adalah kalimat yang sangat membuat pasien rawat inap itu berhasil menarik kepala Gisel menuju bibirnya.
“Tentu aku juga sangat merindukan ibu dari bayiku.” Ucap Romoe sebelum menerkam posesif bibir mungil wanita hali itu. Tanpa perlawanan.
“Kamu pasti belum makan.” Gisel berhasil melepas pertautan bibir mereka yang sempat terasa kebas, karena gigitan penuh gelora yang sempat tercipta sesaat tadi.
“Aku bahkan merasa kenyang saat sarapan dengan bibir manis mu tadi.” Ucap Romeo dengan senyum tipis. Ada gurat bahagia di sana, sebab ia dapat merasakan, jika Gisel pun perlahan memiliki rasa rindu yang sama dengannya.
“Aku suapin ya. Aku sudah buatkan bubur untuk ayah bayiku ini.” Lanjut Gisel membelakangi Romeo sembari menyembunyikan rasa malunya setelah berciuman pada lelaki yang telah nyata menjadi suaminya tersebut.
“Apa kamu mengkhawatirkanku …?” tanya Romeo sambil berusaha menelan bubur yang Gisel suapkan untuknya.
“Tentu saja aku mengkhawatirkanmu.” Jawab Gisel tertunduk pura-pura sibuk mengaduk bubur yang akan ia suapkan lagi pada mulut Romeo.
“Apakah itu berarti kamu telah membuka hati untukku …?” pancing Romeo tak ingin mengalihkan pandangannya, selain dari wajah kikuk Gisel.
“Tidak … aku hanya tak mau anak ini tak punya ayah nanti.” Jawabnya datar. Jawaban itu membuat Romeo sedikit kecewa. Tak menemui Gisel selama dua minggu ternyata membuatnya rindu, bahkan jatuh sakit. Berharap mendapat simpatik dari wanita yang sudah mengandung anakknya merupakan hal yang ia inginkan. Namun ternyata wanita ini cukup keras kepala untuk di taklukkan.
“Permisi …” Suara perawat mengatarkan dokter visit untuk memeriksakan keadaan Romeo.
“Silahkan …” Gisel memundurkan posisinya. Agar memberi keleluasaan pada dokter yang akan melakukan pemeriksaan terhadap pasiennya.
Sekilas Gisel menatap dokter yang kini meletakan peralatan medisnya di atas tubuh suaminya. Seolah ia kenal dengan pemilik mata itu. Tapi ia tepis, berharap itu hanya kehaluannnya saja.
“Progresnya baik. Tapi masih harus di pantau. Dan yang pasti pola makan bapak harus di jaga. GRED ini akan berbahaya pak, jika di biarkan dan terjadi berulang. Mungkin butuh satu malam lagi untuk tetap menginap di sini, agar kami mudah memantau kondisi selanjutnya.” Jelas dokter itu mengarah pada Romeo dan mengalihkan pandangannya pada Gisel. Kemudian membuka masker yang ia kenakan untuk menutup hidung dan mulutnya.
__ADS_1
“Gisel … kamu Gisel kan?” Ucap dokter tadi menghadap istri siri Romeo tersebut.
“Ibnu … kamu Ibnu ? hah kamu sudah menjadi dokter sekarang?” Pantas saja Gisel seperti merasa kenal dengan mata yang di miliki dokter yang memeriksa Romeo tadi. Itu Ibnu teman SMAnya dulu.
“Iya Sel. Aku sekarang sudah menjadi dokter sesuai cita-citaku dulu.” Ujarnya menjabat tangan Gisel dengan dua tangannya.
“Oh iya … aku turut berduka cita ya …” Lanjutnya lagi.
“Hah … siapa yang meninggal ? Oh … iya kedua rang tuaku sudah meninggal semasa kita lulus SMA.” Kenang Gisel membuat korelasi pada ucapan duka cita yang Ibnu sampaikan padanya.
“Ah … itu sudah lama sekali. Aku bukan sedang berbela sungkawa untuk mereka. Melainkan untuk anakmu. Gavy anakmu dan Dandy bukan?” ujarnya bertanya.
“Hah …? Gavy …? Dari mana kamu tau itu nama anakku, di mana kamu bertemu dia?” Gisel histeris.
“Apa kamu tidak mengetahuinya?” tanya Ibnu bingung melihat reaksi Gisel yang tiba-tiba sedih bahkan histeris.
“Katakan kamu sedang berbohong, Ibnu. Katakan.” Tangis Gisel menjadi jadi.
“Dokter … bisa tolong ke sinikan istriku.” Pinta Romeo yang merasa belum mampu berjalan ingin meraih tubuh Gisel yang sedang shock.
Ibnu bingung dengan permintaan pasiennya, yang bahkan mengatakan jika Gisel adalah istrinya. Bukankah ia kenal Dandy dan ia juga tau itulah suami Gisel. Namun, ia tetap mengantarkan Gisel pada Romeo. Mandudukan teman SMAnya itu di atas bed pasien.
“Istriku sedang hamil, maaf. Bisakah dokter menunda informasi yang membuatnya stress.” Romeo memeluk tubuh Gisel sebisanya, untuk menjadi pelindung bagi wanita yang sangat ingin ia jaga itu.
“Oh maaf… tidak seharunya saya menyampaikan ini. Di sini. Permisi, saya akan melakukan visite pada pasien laiannya.” Pamit Ibnu merasa bersalah.
“Tunggu … ceritakan saja selengkapnya. Aku siap mendengarkannya.” Ucap Gisel lirih.
__ADS_1
“Sayang … jangan sekarang. Tenangkan dulu emosimu. Jangan buat anak kita ikut stress karena emosimu yang berlebihan.” Elus Romeo pada perut buncit Gisel.
Ibnu dapat memastikan jika pasiennya itu sungguh suami Gisel kini. Apakah benar yang Dandy sampaikan waktu mengantar anak mereka yang sekarat waktu itu. Jika Gisel pergi meninggalkan mereka dan berselingkuh dengan suami orang lain. Apakah Gisel pelakor?
“Tidak … aku. Eh … kami akan baik-baik saja. Tolong ceritakan Ib.” Pinta Gisel kemudian.
“Maaf … setelah ini aku mungkin akan merespkan obat untukmu, jika memang di perlukan.” Ujar Ibnu pelan.
“Cepat ceritakan saja.” Pinta Gisel tak sabar.
“Seperti yang ku sampaikan tadi, waktu itu Dandy datang dengan menggendong anak laki-laki berusia kurang lebih 4 tahun. Dengan keadaan yang sudah parah. Mengalami dehidrasi akut, urinenya sudah berwarna gelap, kulitnya kering, bibirnya juga pecah-pecah. Bahkan sudah mempengaruhi kineja organ vitalnya. Gavy sempat koma dua hari sebelum benar-benar meninggal. Maaf aku harus jujur.” Cerita Ibnu pelan sambil memastikan jika Gisel mencerna dengan keadaan stabil.
“Dandy sungguh telah membunuh anaknya sendiri.”Gumam Gisel dengan nada geram. Tak ada satu alasanpun untuk membela Dandy. Fix Dandy wajib di benci.
“Maaf Gisel … Dandy katakan. Itu terjadi karena kamu yang telah lebih dahulu pergi meninggalkan mereka. Sehingga anak kalian yang menjadi korban kepergianmu.” Ibnu tak tau apakah salah, telah mengatakan sejujur itu pada Gisel.
“Apa Gavy ada mencariku …?” tanya Gisel dengan tatapan kosong.
“Bahkan di saat sebelum koma, hanya mama yang selalu ia panggil.” Gisel mencari dada Romeo untuk menyembunyikan tangisnya. Tak mampu ia menyandang rasa duka yang mendalam menderanya kini.
“Maaf … apakah kami perlu memanggil dokter obgyn untuk memeriksa keadaan istri anda, pak ?” tanya Ibnu pada Romeo yang sedang berusaha menenangkan Gisel.
“Sayang … kamu baik-baik saja?” tanya Romeo lembut pada Gisel. Membuat Ibnu merasa jika Gisel bukanlah seorang yang merusak rumah tangga orang lain seperti yang Dandy sampaikan padanya.
“Cepatlah sembuh untukku. Dan bantu aku mencari pusara Gavy.” Ucapnya lirih masih di balik pelukkan Romeo yang masih berstatus sebagai pasien rawat inap di rumah sakit itu.
Bersambung ….
__ADS_1