
Gisel menatap ke arah sumber suara yang memanggil namanya. Apakah ia seterkenal itu. Bahkan di Kota yang telah lama tak ia kunjungi itupun, ia masih di kenali orang, entah siapa.
“Mi … Mika …?” Gisel agak sulit memgingat nama itu.
“Iya kak … aku Mika.” Ujarnya mendekati Gisel berjabat tangan, bahkan terlihat ingin memeluk tubuh wanita hamil itu. Tetapi urung ia lakukan. Melihat tangan Romeo yang sangat jelas melintang di depan perut wanita yang baru ia panggil namanya tadi.
“Mengapa kamu di sini ?” tanya Gisel memandang Mika dari ujung rambut sampai ujung kaki wanita itu.
”Aku bekerja di sini kak. Aku tidak punya pilihan lain untuk membiayai pendidikan kedua anakku.” Ujarnya sambil menunjukkan seragam khas petugas kebersihan di Bandara tersebut.
“Oh … Apa kabar mereka sekarang. Tentu sudah besar semua.” Lanjut Gisel melempar pandangannya pada peralatan yang Mika pegang.
“Iya … Ani sudah kelas tujuh, dan Nino kelas lima, Kak.” Jawabnya dengan wajah serius.
“Huum … apa kabar ibu?” tanya Gisel lagi.
Mika menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Sedikit melotot melihat wajah datar Gisel.
“Apa Kak Dandy tidak menceritakan perihal penyakit yang kemudian membawanya ke peristirahatannya yang terakhir?” tanya Mika. Gisel menggeleng. Bagaimana ia tau tentang ibu mertuanya, sedangkan secara tidak langsung ia telah berganti mertua.
“Kami seharunya juga harus sangat berterima kasih pada kak Gisel. Berkat uang kalian ibu, bisa mendapatkan perawatan yang memakan biaya tidak sedikit. Namun, takdir berkata lain. Ibu sudah menyelesaikan pertandingannya di dunia.” Kenang Mika dengan tatapan sedih. Gisel cukup bingung dengan yang Mika sampaikan perihal kematian ibu Dandy, juga soal keuangan yang Mika sampaikan padanya.
“Mana kak Dandy …?” Mika baru ingat bertanya tentang kakaknya pada Gisel. Sejak tadi ia bingung, melihat Gisel yang berperut buncit, namun tidak terlihat bersama kakaknya.
__ADS_1
“Justru kami ke sini ingin mencari Dandy, kakakmu itu.” Jawab Gisel menatap wajah bingung Mika.
“Bukankah kalian terlalu sibuk mencari uang untuk pengobatan ibu, sampai pemakaman pun. Kalian tak punya waktu untuk menghadirinya.” Jawab Mika, menanbah keyakinan Romeo dan Gisel, jika Dandy sungguh tak berada di Kota ini.
“Oh … Maaf jika tidak menghadiri pemakaman, sebab aku memang tak tau menau soal penyakit ibu.” Jawab Gisel seadanya.
“Oh … ya.” Mika menatap berganti-ganti antara Romeo dan Gisel. Sedikit bingung otaknya memindai, siapa pria yang sejak tadi mengenggam tangan kakak iparnya tersebut.S
“Aku dan kakakmu, Dandy sudah berpisah. Dan ini Romeo, suamiku sekarang.” Gisel memutuskan untuk memperkenalkan Romeo pada adik mantan suaminya tersbeut. Sebab guratan penuh tanda tanya itu sangat jelas tercetak di raut lusuh Mika.
Romeo hanya melempar senyum dan menganggukkan kepalanya sebentar pada Mika. Dengan tatapan mata yang tidak bersahabat juga terkesan terpaksa melakukan perkenalan itu.
“Sayang … kita sudah terlalu lama berdiri di sini. Dan aku merasa perutku sudah keroncongan.” Bisik Romeo pada Gisel yang juga tidak terlihat ingin berlama-lama ngobrol dengan lawan bicaranya tersebut.
“Oh … I … iya. Maaf menyita waktu kalian. Silahkan.”Dengan tangan kanan yang di julirkan lebih rendah dari tangan kirinya, Mika mempersilahkan dengan sopan kedua insan yang baru ia sapa tadi. Walau masih sangat ingin bercengkrama, namun keduanya terlihat sedang tak ingin berbicara banyak dengannya.
“Mika itu adik Dandy. Usianya lebih muda dariku. Tetapi selepas SMA sudah menikah dan berkeluarga, sehingga kini anaknya sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama.” Jelas Gisel tanpa di tanya oleh Romeo.
“Lalu yang dia katakan ibu tadi, adalah mertuamu?” tanya Romeo setelah memastikan menu makan siang yang akan segera mengganjal perut mereka.
“Ya … dan ternyata beliau sudah tiada.” Ucap Gisel datar, memandang nanar sekitar tanpa berniat memandang lawan bicaranya yang sebenarnya sedang ingin menatap bola matanya. Mencari gurat kecewa atau rindu pada iris mata di hadapannya.
“Mika … Mika tadi juga sempat menceritakan tentang uang untuk pengobatan ibu mereka. Apakah itu artinya hutang Dandy selamaini, di gunakan untuk membiayai pengobatan ibunya.” Telisik Romeo pada Gisel yang masih terlihat memandang kaku ponselnya saja.
__ADS_1
“Apapun keperluan dan di gunakan untuk apa semua uang itu, bukankah sebagai suami istri. Ia wajib memberitahukannya padaku? Apalagi jumlahnya tidak sedikit.” Gisel membuang nafas merasa sedikit gusar jika mengenang masalah rumah tangganya dengan Dandy.
“Jangan marah, kamu terlihat sangat kecewa dengan rumah tanggamu sebelumnya. Dan itu menyiratkan betapa kamu masih mencintai pria itu, sayang.” Romeo mengusap punggung tangan istrinya dengan pelan, memberikan ketenangan pada batin yang kembali terusik pilu.
“Ini bukan masalah aku maencintai Dandy atau tidak.” Bantah Gisel cepat.
“Tetapi rasa kecewamu padanya, sangat menyiratkan lukamu terhadap perjalanan rumah tanggamu dengannya.” Tuduh Romeo tak beralasan.
“Pernikahan tidak memulu soal cinta atau saling mencintai. Di dalamnya tentu juga ada luka. Bagiku, pernikahan adalah komitmen. Sebuah janji yang pernah di ucapkan di hadapan saksi untuk berjuang untuk selalu bersama sehidup, semati. Banyak tawa juga airmata selama hal itu terjadi. Dan itu tidak hanya terjadi dalam rumah tanggaku, melainkan semua rumah tangga pun demikian.”
“Dan selama bersamanya, kamu pernah berkomitmen untuk menghabiskan waktu selama mungkin dengannya.” Tebak Romeo mengira-ngira.
“Benar. Itu betul sekali. Dan sepertinya aku harus merevisi semua prinsip itu. Semuanya kini tak lagi bermanfaat. Saat takdir menuntunku kejalan yang tak semua orang lewati. Apakah sebuah komitmen harus terus di jalankan saat semuanya tak sesuai tujuan awal. Tapi, setidaknya aku sudah menjalankan peranku dengan benar di awal.” Gisel mengaduk-aduk segelas jeruk hangat yang tersaji untuknya.
“Mengapa hanya di awal …?” cecar Romeo masih ingin memastikan perasaan Gisel terhadap Dandy.
“Katakan padaku bagaimana aku mempertahankan komitmen pada seorang penipu bahkan pembunuh. Walaupun akhirnya, akulah yang juga melakukan kejahatan yang sama pada pernikahan kami. Di sini, jelas akulah yang ternyata tidak bisa setia, aku lah pengkhianat yang sesungguhnya.” Ucap Gisel dengan senyum tersungging, menyadari kesalahannya.
“Kamu bukan pengkhianat, sayang.” Hibur Romeo pada istri sirinya.
“Jangan lupa, di sini akulah yang telah hamil dengan orang lain. Saat masih terikat pernikahan. Bukankah aku yang lebih dahulu menodai ikatan dan janji suci itu.” Ujar Gisel melempar tatapan ke arah luar, menghindar tatapan suaminya.
“Okey … pernikahan adalah sebuah komitmen. Aku setuju itu. Tapi jika kamu mengklaim dirimu sebagai pengkhianat rumah tanggamu, aku tidak sepaham. Kamu tidak sedang berkhianat. Sebab kamu sesuangguhnya hanya sedang ingin berusaha mempertahankan rumah tanggakalian itu sendiri.” Simpul Romeo tak ingin melepas tangan Gisel yang sejak tadi masih di elusnya lembut.
__ADS_1
Bersambung …