RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 48 : BERTEMU GAVY


__ADS_3

Ruang rawat inap yang awalnya hanya terisi oleh satu pasien, kini tidak lagi. Sebab Giselpun kini sudah berubah status dari penjenguk hingga jadi pasien sungguhan.


Selang infus sudah terpasang di tangan kanannya, saluran oksigen juga tertancap di lubang hidungnya. Keadaan Gisel kali ini terlihat parah dari saat ia di aniyaya oleh Manda bulan lalu. Sebab ini tidak melukai fisiknya, melainkan hatinya.


Bagaimana tidak. Gavy putra kesayangannya. Yang telah ia kandung dan rawat dengan penuh kasih sayang. Belum puas raganya menyanyangi balita itu, mengapa demikian kejam cara Tuhan memintanya kembali pada penciptanya. Hati itu bagai tertoreh sembilu, pilu. Hingga hanya perkataan yang terdengar ia baik-baik saja, tetapi tidak dengan tubuhnya.


Romeo hanya dapat memandang lekat wanita yang kini rebah berjejer dengan ranjang pesakitan yang ia tempati. Keadaan mereka kurang lebih sama, menjadi pasien rawat inap. Tersisa Yuniar yang terlihat paling sibuk mengurus anak dan menantunya yang kini sudah berstatus pasien tersebut.


“Hah … aku kenapa ?” rintih Gisel saat sudah mulai bangun dan tersadar dari pingsannya.


“Jangan banyak bergerak dulu, Sayang. Ingat kehamilanmu.” Yuniar segera mendekati tubuh yang di penuhi alat medis itu. Gisel menoleh sebentar ke arah Romeo juga ibunya. Lalu memandang lekat langit kamar serba putih di depan matanya. Pikirannya sedang berusaha mengingat apa saja yang baru terjadi.


“Gavy … anakku. Mama … Gavy ku telah tiada Ma …” Gisel sudah ingat dengan kabar terkini anaknya.


“Iya … sayang ikhlaskan saja. Dia sudah tenang di alam sana.” Hibur Yuniar mengelus kepala Gisel lembut.


“Gavy … kenapa tidak pergi dengan mama saja ke sana. Mama rindu kamu naaaak.” Lirihnya mengandaikan, jika saja ia bisa ikut mati bersama anak kesayangannya tersebut.


“Sayaaang … jangan bicara seperti itu. Ingat, di sini ada adik Gavy yang masih perlu kamu perjuangkan. Cepatlah sehat, agar kita bersama-sama pergi kemakamnya untuk mengantar doa untuknya.” Rayu Yuniar tak mau mengalah dengan keadaan Gisel yang memang sangat terpukul.


“Dandy … mengapa tidak kamu saja yang mati. Aku tidak rela kamu hidup, kamu lah pembunuh anakku. Suami brenggsek …!!!” Gisel kembali histeris. Tidak dapat ia menguasai emosinya sendiri. Sedangka Romeo hanya bisa menekan bel kembali, agar perawat segera menangani Gisel yang kembali marah.

__ADS_1


Terpaksa dokter kandungan meresepkan obat yang mengadung penenang dengan dosis sesuai ibu hamil. Untuk membuatnya bisa terlelap dan lebih tenang. Romeo tidak bisa melarang, sebab dokter lebih tau apa yang terbaik untuk pasiennya. Berdoa dan bermohon pada sang pencipta saja, agar Gisel segera sembuh terlebih janin yang ada pada wanita itu, agar tidak merasakan efek dari obat-obata yang masuk dalam tubuh istrinya.


Esok pagi datang seolah sewindu bagi Romeo. Mendapatkan keterangan sehat dan tidak lagi terikat dengan jarum infus di tubuhya adalah hal yang sangat ia inginkan. Agar dapat dengan leluasa mendekati dan melayani Gisel dengan kebaikkannya. Pun Romeo tak ingin berlama-lama menyusahkan ibunya yang tidak muda lagi.


Tiga hari berlalu, Gisel sudah di nyatakan sehat dan baik-baiksaja. Tidak hanya dokter kandungan, psikiater pun di datangkan untuk menenangkan jiwanya. Agar dapat menerima kenyataan tentang kematian Gavy. Bukan perkara mudah untuk melakukan hal itu dalam waktu singkat, beruntung Romeo pun selalu ada untuk Gisel, yang senantiasa sabar memberikan dukungan agar ia merasa masih du butuhkan untuk hidup.


Sebab tak sekali, Gisel berusaha untuk ingin menghilangkan nyawanya saja, demi ingin bertemu dengan anaknya tersebut.


“Rom … sungguh kamu sudah menemukan alamat di mana gavy di makamkan?” tanya Gisel saat mobil yang membawanya keluar dari halaman rumah sakit itu telah berbaur pada jalan raya.


“Iya … aku sudah memeriksa kebenaranya. Lewat ketua RT juga penjaga makam setempat. Sungguh di sana ada nama Gavy Bin Dandy.” Jelas Romeo sambil tak lepas menatap manik mata Gisel.


“Janji dulu kamu tidak akan histeris dan emosi berlebihan jika melihatnya di sana.”


“Iya … aku berjanji.”


“Baiklah … besok kita akan ke sana.”


“Kenapa harus besok …?”


“Sebab anakmu akan sedih saat melihat plester bekas infus itu masih tertancap di punggung tanganmu ini.” Gisel memperhatikan punggung tangannya yang bahkan masih biru juga memar sedikit.

__ADS_1


“Percayalah … ia sudah tenang di sana. Jangan kamu rusak kebahagiaannya dengan airmatamu. Tanggal keergiannya adalah tanggal yang sama, saat kita tau jika di perutmu sudah ada anak kita ini. Tidakkah kamu merasakan jika Tuhan sangat baik. Mengambil milikmu yang berharga lalu memberi lagi yang lebih berharga untukmu?” Romeo mengelus punggung tangan Gisel dengan lembut. Lalu meletakkan kepala Gisel ke dadanya, memberi rasa aman dan merasa di lindungi oleh ayah dari bayinya itu.


Gisel hanya mengelus pelan perut yang mulai buncit itu.


“Maaf …” Jawabnya pelan. Entah di tujukan pada siapa. Pada Romeo kah atau pada anak yang ia kandung kah, hanya Gisel yang tau kemana permintaan maaf itu bertujuan.


Gisel semakin merasa nyaman berada di rumah Yuniar. Tidur malamnya kali ini sangat nyenyak di bandingkan di rumah sakit. Suasana kamar itu yang selalu membuatnya merasa aman, pun pelukan dari suami sirinya, tentu membuatnya semakin lupa daratan. Juga sedikit mengikis rasa kehilangannya yang mendalam terhadap anak dari suami sebeleumnya.


Romeo menatap lekat raut wajah wanita yang terlihat letih juga lelah. Kini berbantal pada lengannya. Romeo tau itu akan terasa kebas hingga pagi datang. Namun baginya, itu tidak akan tertandingin dengan lelahnya Gisel mengandung anaknya.


Anak rambut yang jatuh menutupi dahi dan sekitaran wajah Gisel pun, ia serpih. Demi mendapatkan pemandangan lebih jelas akan kecantikan alami yang terpancar dari wajah wanita hamil itu.


“Kamu tidak hanya cantik Gisel, tapi sangat amat cantik. Mengapa Pria seperti Dandy tak bisa bersyukur saat memilikimu. Hatimu baik, bahkan terlalu baik untuk di sakiti. Kamu hanya pura-pura tegar selama ini. Padahal sangat butuh sandaran. Mulai sekarang, aku tidak akan mengijinkan sekecil apapun sakit di hatimu. Aku ingin menjadi satu-satunya tempatmu pulang dan merasa nyaman. Aku mencintaimu.” Romeo mengucapkan itu dalambentuk gumaman, bahkan hanya di dalam hatinya. Lebih kepada janji hati yang hanya ingin ia ungkap namun belum waktunya terucap.


“Selamat pagi Gavy … ini mama nak. Akhirnya mama datang menemuimu. Maaf … mama lama baru menemukanmu, sayanng. Maafkan mama …?” Kalimatnya patah-patah. Menahan segala gejolak rasa yang berkecambuk dalam dadanya. Dengan serudung putih dan pakaian serba putih, Gisel akhirnya hanya dapat mengelus nisan yang menorehkan nama anaknya.


Pilu … ras itu jelas tersampir pada wajah Gisel. Tangan Romeo tak pernah mau lepas dari lengan Gisel, sungguh. Pria yang sudah menjadi suami sirinya itu tak ingin Gisel merasa sakit secara fisik dan mentalnya lagi.


Sementara di kejauhan, di antara sela sela nisan para pendahulunya, dan entah itu makam siapa. Ada sepansang mata yang memandang geram, pada pasangan yang sedang khusuk membacakan doa pada pusara Gavy.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2