RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 73 : TAWARAN MENARIK


__ADS_3

Romeo tidak sungguh rela membiarkan Gisel sendirian pergi ke kamar. Ia sempat memberi kode agar salah satu tim WO menemani istrinya untuk ke kamar di lantai atas mereka berada sekarang. Maka, dengan sedikit rasa tenang Romeo pun bisa dengan leluasa meladeni tamu yang memang masih datang untuk memberikannya ucapan selamat. Hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Pesta itu sungguh berakhir.


Senang, lelah juga puas. Itu yang Romeo rasakan saat ini. Tak ada lagi yang meragukan statusnya sebagai pria yang sudah beristri kembali. Tidak ada tanda tanya besar dan tuduhan memiliki istri simpanan lagi untuk Gisel yang kerap kali menyambanginya ke kantor,walau hanya sekedar mengantar makanan rumah untuk suami tercinta.


“Sayang …” Panggil Romeo lembut. Merasakan kamar hotel yang akan mereka gunakan untuk beristirahat malam ini terasa sepi, bagai tak berpenghuni.


“Yaaaang …?” panggil Romeo kembali saat melihat tempat tidur masih kosong, bahkan tak tersentuh.


“Sayaaaaaang.” Upaya pemanggilan untuk istrinya semakin nyaring ia lakukan. Sambil melepas kancing jasnya. Romeo juga memeriksa sudut kamar mandi. Berharap mungkin istrinya sedang berendam dalam bath up, dan tertidur di sana.


Tetapi nihil.


Romeo panik.


Memastikan notifikasi pada ponselnya pun, tak ia dapatkan pesan satupun dari sang istri. Untuk memberikan keterangan akan posisinya di mana.


Romeo hanya sempat meletakan jasnya di atas tempat tidur. Dengan kancing kemeja yang terbuka dua membuat dadanya sedikit terlihat, Romeo tak perduli. Keluar dan menuju reseptionis untuk meminta petunjuk ruang CCTV adalah tujuan yang wajib ia lihat.


“Astaga … kenapa aku harus mengutamakan tamu dari pada keselamatan anak dan istriku.” Paniknya sambil terus berjalan cepat.


“Maaf pak. Itu privacy hotel kami.”Nampaknya pihak receptionis tidak mau memberikan petunjuk pada Romeo perihal ruang CCTV.


“Astaga … aturan hotel macam apa ini? Istri saya tidak ada di kamar. Dan saya tidak punya petunjuk lain, selain memastikan terakhir ia berada di mana?” gusar Romeo dengan geram.


“Saya bayar loooh di sini. Saya ini raja yang harus di layani. Hotel kalian bisa saya tuntut jika tidak mendahulukan kenyamanan pelanggan.” Hardik Romeo sengit.

__ADS_1


“Ada apa ini …?” tanya seorang wanita yang keluar dari arah berlawanan dari Romeo.


“Saya adalah pelanggan hotel ini. Saya yang baru saja menggelar acara resepsi di ballrom hotel ini. Tadi istri saya lebih dahulu keluar dari tempat acara, menuju kamar. Tapi dia tidak ada di kamar. Tolong. Ijinkan saya melihat keberadaan terakhirnya dengan CCTV di hotel ini.” Ulang Romeo menjelaskan, berharap wanita itu mengerti dengan yang ia inginkan.


“Hani … mengapa kamu tidak mengijinkannya? Mari pak, saya antar.” Ujar wanita itu terlihat marah pada pegawai receptionis itu.


Romeo merasa sedikit lega, sebab ia di ijinkan untuk melacak keberadaan Gisel.


Sementara di salah satu kamar hotel lainnya. Gisel nampak sedang di sekap. Tubuhnya di ikat, bibirnya di tutup kain agar tidak berbicara. Pakaiannya sudah bukan gaun perak mahal nan indah yang ia kenakan tadi. Melaikan hanya pakaian hem kebesaran yang di paksa seseorang untuk ia gunakan.


“Waw … sudah jadi ratu kamu sekarang, hah?” itu kalimat yang sempat Gisel dengar tepat ketika ia berada di dalam sebuah lift. Dan sebelumnya ia memang di antar oleh salah satu Tim WO, namun wanita itu hanya mengantar sampai depan lift. Saat Gisel masuk. Ia tidak ikut masuk.


Dan ternyata di dalam sana sudah ada Dandy. Pria yang sejak tadi memang tak pernah keluar dari kotak persegi yang kadang ke atas, kadang ke bawah mengantar orang-orang yang memiliki kepentingan. Dandy selama ini yang tak pernah pergi jauh. Ia terlalu pandai berkamuflase. Tiap gerak gerik Gisel dan perkembangan Gisel ia tau.


Bahkan kini, saat semua salah satu stasiun TV menayangkan acara akbar resepsi pernikahann kedua Romeo. Dendy sudah menyiapkan segala sesuatunya.


“Cuuh. Sudahlah. Bukankah kamu justru menikmati jika kini kamu sudah menjadi istri orang kaya. Dasar istri durhaka. Tukang selingkuh, p3lacur kamu. Dasar j4lang … !!!” umpat sumpah serapah keluar dari mulut seorang Dendy.


“B0doh. Dasar b4jingan. Tidak tau diri!!!” Gisel meroket emosinya mendapat hinaan dari Dendy.


“Siapa yang tidak tau diri. Apa kata dunia, jika ku viralkan ke media. Jika sesungguhnya kita masih tercatat sebagai suami istri? Ini… buku nikah ini masih denganku. Pernikahan kalian tidak sah.”Ujarnya penuh percaya diri pada Gisel.


“Hah … buku nikah tidak berguna. Di hadapan Tuhan, Negara dan agama aku bahkan sudah resmi menjadi jandamu. Aku sudah mendapatkan akta cerai.” Gisel berusaha melawan.


“Aku tidak pernah merasa menceraikanmu. Kamu masih istriku.” Kecamnnya yangselalu memencet tombo pada dinding itu, agar benda persegi itu tidak berhenti, terus saja membawa mereka turn lalu naik tanpa berhenti.

__ADS_1


“Dasar gilak, bahkan tidak mendapat hal lahir dan batin selama 3 bulan saja dalam agama, kita sudah bercerai. Dasar b0doh.” Cecar Gisel melupakan kelelahannya. Bergantii amarah yang memuncak.


“Pilih mati atau ikuti perintahku.” Ancam Dendy meletakan pisau lipat persis dipermukaan perut buncitnya.


“Heey s3tan. Apa yang kamu inginkan?” teriak Gisel dengan rasa takut dan cemas yang lumayan berlebihan. Bagaimanapun, ia takut benda mati itu sungguh bisa membuat ia mati. Jika tertusuk dalam.


“Tentu saja uang, b0doh. Kenapa bertanya lagi?” Kekeh Dendy dengat sinis.


“Jangan sakiti lagi anakku. Cukup Gavy yang kamu hilangkan dari mukabumi ini. Aku tidak akan tinggal diam kali ini. Aku akan mencebolskanmu ke dalam penjara juga api neraka.” Gisel masih sangat berani menentang Dendy.


Set.


Sedikit darah segar keluar dari leher jenjang Gisel, sengaja di toerh Dendy. Agar Gisel percaya jika ia tidak sedang main-main.


“Oh … berdarah. Artinya ini tajam. Dan itu baru aku gores saj. Tujuan akhirku adalah menancapkan ini tepat di perut buncitmu ini.” Lagi, pisau itu ia letakan tanpa jarak di atas perut Gisel.


“Lepaskan aku, maka uang 1 M akan menjadi milikmu.” Gisel berusaha bernegosiasi.


“Tawaran yang menarik. Tapi aku perlu jaminan.” Ucap Dendy dengan nada berusaha bersahabat.


“Katakan …!!” Ujar Gisel akan menerima tantangan.


“Kamu … kamulah jaminannya.” Ujar Dendy selanjutnya.


“Jangan kamu ragukan aku. Aku sungguh akan memberimu 1M, asalkan kamu tidak lagi menganggu hidupmu dan keluarga baruku.” Pinta Gisel melemah. Berusaha meyakinkan Dendy agar tidak sungguh-sungguh dengan pisau lipat di perutnya.

__ADS_1


Tapi bukan Dendy jika tidak jahat. Ia memang melepaskan pisau itu, tetapi selanjutnya meletakkan sapu tangan yang sudah ia bubuhkan obat bius, lalu ia tempelkan di hidung Gisel hingga mantan istrinya itu pingsan. Tak sadrkan diri.


Bersambung …


__ADS_2