RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 42 : ISTRI BARU


__ADS_3

Romeo agak geram pada Gisel. Pertama, saat ia lalai mengingatkannya untuk melakukan control bersamanya. Padalah itu adalah ritual yang selalu ingin Romeo saksikan sendiri. Melihat dari layar monitor dan mendengar DJJ calon buah hatinya, baginya bagai irama merdu dan selalu membuatnya rindu ingin segera cepat bertemu.


Kedua, Romeo masih merasa kesal dengan sikap dingin Gisel yang masih menganggap jika mereka berdua adalah orang asing. Masih sebagai Romeo dan Gisel yang terikat dalam sebuah kesepakatan dalam sebuah rekaman paada ponsel masing-masing. Padahal, bukankah mereka telah menikah siri. Maka wajar baginya, jika tak ingin jauh dari istri barunya itu.


“Tidak mau … aku nyaman bersama mama Yuniar di sini.” Jawab Gisel masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamarnya. Memastikan kebersihan tangan dan kakinya, setelah sedikit berolah raga dengan menyiram tanaman bunga di taman samping tadi. Hal itu, Romeo pergunakan untuk mengunci pintu kamar Gisel. Ia selalu suka mengurung Gisel di dalam kamar tamu pada rumah orang tuanya. Senang dengan suasana kamar yang menurut Romeo selalu di penuhi oleh setan-setan cabul yang bahkan berhasil membantu mereka mencetak anak di kamar tersebut.


“Kenapa masih di sini …?” tanya Gisel agak heran melihat lelaki itu sedang duduk di tepi tempat tidurnnya.


“Tenang saja, dua hari lalu aku sudah memeriksa keadaan anakmu ini, bersama calon nenek dan kakeknya. Mereka sudah berkenalan kemarin. Keadaanya baik dan sehat. Jenis kelaminnya laki-laki. Kemarin ia dengan jelas memperlihatnya lewat monitor USG 4 dimensi . Bekas penganiyaan minggu lalu juga tidak mempengaruhi kondisinya. Obat yang harus aku konsumsi untuk kecerdasan otaknya, sudah di tebus. Ketersediaan vitamin untuk aku selalu sehat selama mengandung juga sudah semua di belikan. Aku pun sudah mengkonsumsinya tanpa lalai. Laporan selesai.” Lapor Gisel dengan rinci.


Bukan jawaban dari laporannya yang Gisel dengar, melainkan sergapan bibir Romeo yang membuatnya tercekat. Romeo sungguh tidak permisi bahkan ijin. Telah menerobos bibir mungil yang amat ia rindukan. Nafasnya memburu, tak terkendali hasratnya untuk tidak membelit lidahnya pada rongga mulut Gisel. Kedua tangannya memegang tengkuk Gisel agar tidak membuat jarak. Terasa sedikit memaksa, tangan itu menekan tengkuknya agar Gisel tidak menolak ciumannya yang di awal terasa lembut, namun ke sininya semakin terasa dalam ritme yang makin cepat.


Tangan Romeo sudah tidak lagi menekan tengkuk leher Gisel, sebab ia merasakan penerimaan dari lawan main di depannya. Kini tangannya berada di pinggang Gisel. Melingkar, seerat yang ia bisa rapatkan, sebab kini di antara mereka tentulah ada penghalang, yaitu perut Gisel yang semakin buncit.


Ciuman itu berlangsung beberapa menit. Keduanya saling menikmati. Ditandai dengan pejaman mata Gisel yang sedang merasakan sensasi bibir Romeo yang lembut dan terasa menuntut dan selalu menekannya. Namun, semuanya berakhir. Karena Gisel yang mengakhirinya dengan dorongan pada dada bidang Romeo. Sebab tadi, tangan Romeo hanya mengelus permukaan perutnya. Tetapi kemudian, jari jemari itu demikian lincah sudah nyasar pada gundukan padat berisi, mempermainkan manik kecil kecoklatan yang merupakan pusat kelemahan Gisel.

__ADS_1


“Kenapa berhenti … bukankah kamu pun menikmati ciuman kita …?” parau Romeo seolah menahan sesuatu yang baru saja terbangkitkan.


“Tidak apa-apa.” Jawab Gisel menjauh dan memilih duduk di tepian ranjangnya. Tempat di mana Romeo menunggunya membersihkan diri tadi.


“Aku suamimu …” tuntut Romeo. Merapatkan tubuhnya pada Gisel. Menepis beberapa anak rambut yang terjulur menutupi pengelihatan Gisel.


“Iya … suami siri.” Jawab Gisel lirih.


“Jangankan berciuman. Berhubungan badan pun kita telah halal. Lalu mengapa kamu ingin abai dari kewajibanmu sebagai istri, aku berhak atas tubuhmu sekarang.” Ucap Romeo meletakkan Gisel ke atas pangkuannya. Arah paha mereka sama, mereka kini seperti anak kecil yang sedang bertumpuk berpangkuan.


“Ya … dan kita menikah siri, hanya agar anak ini memiliki ayah yang sah di mata agama. Mari kita berhubungan hanya sebatas demi menyayangi anakmu saja. Bukan demi memuaskan hasratmu.” Ujar Gisel tegas.


“Sentuh saja seadanya, tak perlu menuntut lebih.” Tegas Gisel seolah ia memang tidak meiliki rasa lain pada Romeo. Padahal diam-diam, ia sudah bersorak kegiranngan saat sadar jika kini Romeo telah bercerai dengan Manda. Bahkan sebelum itu mereka berdua telah menikah siri. Bukankah Gisel telah sungguh berhasil menjadi pelakor.


“Tapi … menyentuh perutmu saja tidak akan membuat anak kita bahagia.” Romeo membela diri.

__ADS_1


“Bahagia atau tidaknya dia, itu tergantung dengan suasana hatiku. Jika bagiku, dengan kamu memperhatikan kami dengan perhatian kecil saja sudah membuat kami senang, untuk apa kamu membuang energymu untuk berbuat lebih.” Gisel meyakinkan jika bukan hubungan intim dengan ayah bayinya yang membuat ia senang.


“Baiklah … mulai hari ini aku akan memberikan perhatian kecil pada kalian berdua. Tapi tolong jangan tolak pintaku. Untuk menetaplah di rumahku.” Pinta Romeo dengan lembut, sambil mencium punggung tangan Gisel.


“Maaf … bisakah aku di sini saja ?” tolak Gisel dengan penuh pinta.


“Kamu istriku.Tak baik bukan kita yang sudah menikah harus hidup dalam atap yang berbeda, turunkan egomu. Aku hanya ingin menyayangi kalian berdua dengan caraku.” Pinta Romeo tak kalah mengiba pada Gisel.


“Maaf … rumah itu sempat memberiku kenangan yang tak nyaman. Aku pernah di tampar di sana. Aku tidak mau teringat lagi akan hal itu. Belum lagi, itu adalah rumahmu dengan Manda. Berapa tahun kebersamaan kalian di sana? tentu tak hanya satu kisah manis kalian tercipta di sana, tetapi banyak. Dan aku tidak ingin hanya menjadi pelampiasan naffsumu, yang sesungguhnya belum sadar jika kini istrimu sudah ganti.” Kali ini Gisel lebih tegas lagi mengungkapkan isian dalam hatinya. Gisel harus membersihkan otak Romeo terlebih dahulu dari nama Manda. Ia sungguh ingin hanya namanya yang memenuhi hati seorang Romeo. Bahkan bukan karena anak yang ia kandung.


“Apa kamu mau aku membeli hunian baru, di mana kita akan memulai rumah tangga kita yang baru ?” tanya Romeo memastikan arah pembicaraan Gisel tadi.


“Bukan rumah baru. Tetapi hati yang sungguh bersih dari nama seorang Manda yang kini telah menjadi mantan istrimu.” Jawab Gisel tegas.


“Aku pernah tergila-gila padanya, kebersaman kami bahkan hampir sewindu. Masa dapat terhapus begitu saja dalam beberapa purnama …?” secara tidak langsung Romeo mengakui jika nama Manda masih ada dalam sanubarinya yang terdalam. Dia mengakui akan hal itu.

__ADS_1


“Untuk itu, jangan pernah kau main hati denganku. Sebab aku sudah tak percaya pada hubungan dengan cinta. Terlebih berbagi peluh dengan pria yang menyetubbuhiku namun pikirannya sedang mengembara pada wanita lain. Mari kita bersama dengab sewajarnya, sampai anak ini lahir saja.” Lanjut Gisel mencium pipi Romeo.


Bersambung …


__ADS_2