
Gisel masih duduk di sebuah kursi tanpa bisa melakukan pergerakan yang banyak. Sebab tangannya di buat kebelakang kursu terikat dengan erat. Lalu tubuhnya juha di ikat agar tidak berpindah dari kursi yang ia duduki. Hanya sumpalan mulutnya saja yang di buka oleh Dendy. Sehingga memang Gisel bisa terbebas pada bagian verbalnya saja.
Adu mulut jelas selalu terjadi antara Dendy dan Gisel. Sungguh sesuatu yang sangat berbeda memang. Saat beberapa tahun Gisel masih menjadi istri Dendy. Gisel seorang wanita yang tak banyak bicara, dan misalkan berbicara pun, yang ia tuturkan adalah hal yang sopan, santun dan penuh hormat terhadap suaminya tersebut.
Namun, bukan karena kini Dendy bukan suaminya lagi. Hanya, Dendy memang wajar mendapatkan ujaran kebencian dari seorang Gisel. Walaupun Gisel hanya manusia biasa, tetapi memang wajarlah alamiahnya seorang manusia yang tentu memiliki rasa marah dan kesabaran yang juga memiliki batas, perasaan yang bisa berubah menyesuaikan perlakuan dan sikap seseorang terhadapnya.
“Kapan kamu akan memberikan alamat kita sekarang pada Romeo …?” tanya Gisel dengan nada angkuh. Sebab ia dapat melihat dengan cermat. Jika sejak sambungan telepon itu di tutup, Dendy sama sekali tidak memegang ponselnya. Jangankan untuk mengetik sesuatu. Menjamahnya pun tidak lagi. Ia hanya memilih untuk melemparkan tubuhnya dan terlihat berusaha memejamkan matanya, untukberistirahat.
“Nanti saja, tunggu uangku hampir habis. Aku masih ingin menikmati hari-hari terakhir bersamamu. Bersama istriku.” Ujarnya menjawab asal, tanpa memandangke arah Gisel.
“Sudah ku katakan. Aku bukan istrimu lagi.”Tegas Gisel.
“Itu hanya keinginanmu. Hanya kamu yang terlalu cepat menyebut dirimu sebagai jandaku. Bahkan kamu terlalu cepat untuk menikah lagi. Tak ku sangka kamu adalah wanita yang tidak setia. Tidak sanggup hidup lama dalam kesendirian.” Lanjutnya seolah mencurahkan isi hatinya. Seolah dia frustasi di tinggal kawin oleh Gisel.
“Kurang ajar. Apa maksudmu menyebutku tidak setia. Mulut kotormu tidak pantas bicara soal kesetiaan. Kata itu terlalu suci dan tak cocok kamu ucapkan. Kamu tidak mengerti konsep sebuah kesetiaan yang sesungguhnya. Menjijikan.” Gisel masih sangat di kuasai amarah. Tak lagi ada sisi putih Dendy di matanya. Bukankah wajar dia telah mati rasa terhadap pria yang bahkan sudah 5 tahun hidup bersamanya.
__ADS_1
“Siapa yang menjijikan? Siapa yang berkhianat lebih dahulu atas pernikahan kita? Kamu yang dengan sadar menjual diri pada lelaki kaya. Oh … Gisel. Betapa pendeknya pikiranmu. Bahkan kamu tidak kuat menghadapi ujian hidup dan rumah tangga kita. Padahal jika kamu bersabar, rumah tangga kita bisa selamat. Dan Gavy bisa kita rawat bersama. Tapi lihatlah kesombonganmu, sampai Gavy meninggalpun. Tidak ada kamu di sisinya. Gavy mati penasaran. Penasaran ingin bertemu ibu yang telah melahirkannya. Tapi, malang nasibnya. Hidup dalam kesia-siaan. Karena sang ibu memilih hidup dengan cara yang praktis. Jual diri.” Astaga, mengapa Dendy sangat pandai memutar balik fakta.
Gisel beberapa kali menarik nafasnya. Demi mendapatkan ketenangan batinnya. Ia sudah terlalu lama dalam rasa bersalah yang mendalam. Tetapi mengapa kali ini ia kembali di ingatkan bahkan di buat seolah ia yang salah atas kematian Gavy. Bukankah Dendy yang membuatnya terpisah dari sang anak. Dunia memang masih kejam pada Gisel.
“Tapi … wajar saja kamu segera bersikap dan memutuskan menikah bahkan merebut suami orang itu. Lihatlah. Aku minta 500 juta, pria bodoh itu bahkan berani memberiku 1 M. Luar biasa.” Dendy terlihat puas dengan hasil negosiasinya dengan Romeo tadi. Dan Setelahnya, suasana kamar sungguh menjadi hening. Karena Dendy tampak di dera rasa kantuk yang sangat dahsyat. Ia pun terlelap dalam tidurnya.
Sementar itu, Gisel memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa kabur dari tempat yang ia sendiri tidak tau sedang berada di mana. Bagaimana caranya ia melepas ikatan yang di buat Dendy untuknya. Setidaknya ia bisa bergeser tanpa menimbulkan suara saja, baginya sudah cukup. Agar tidak mengusik tidur Dendy.
Kondisi tubuh Gisel tidaklah kuat, setelah di bius, juga dalam kondisi hamil. Membuatnya sulit untuk bergerak sesuakanya. Mencoba berdiri bersama kursi yang terikat dengan tubuhnya sungguh menyiksanya.
Ponsel Dendy memang lebih mudah di jangkau, ia pun ingin menggunakan itu. Untuk menelpon Romeo kembali. Hanya, sandi telepon itu tidak lagi ia ketahui. Maka, bergerak pelan menuju telepon di ruangan itu adalah tujuan Gisel selanjutnya.
Peluh Gisel sebesar biji jagung, walau berada di dalam ruangan ber AC dengan suhu dingin. Sungguh susah payah ia membuat posisinya bisa dekat dengan pojokan yang ia tuju. Lalu, bagaimana ini? Saat pesawat telepon itu, sudah di dekatnya. Tetapi… bukankah tangannya terikat di belakang. Lalu bagaimana caranya memencet nomor yang ia ingin hubungkan.
Gisel memutar tubuhnya, ingin memencet satu nomor. Tapi lupa angka berapa yang harus ia tekan. Saat ia tau angka yang akan ia pencet, ia lupa lagi susunan angka yang ada pada alat komunikasi tersebut. Cukup memakan waktu yang lama bukan, hanya untuk membuat sebuah komunikasi yang Gisel sendiri tak tau, akan membuahkan hasil atau tidak.
__ADS_1
Sebelumnya Gisel sudah menghafal, angka berapa yang harusn ia tekan untuk menyambungkannya dengan petugas reseptionis. Kemudian menghafal posisi tangan dengan rotasi terbalik, agar tepat sasaran.
“Resetionis, ada yang bisa kami bantu …?” sapa suara dari seberang pesawat telepon itu. Gisel menahan nafasnya, mendengar suara itu. Ia ingin bersuara. Tetapi juga khawatir, suaranya akan membangunkan Dendy yang tidur di sebelahnya, bahkan dengan posisi menghadap tubuhnya.
“Hallo …” ulang suara wanita di seberang alat komunikasi tersebut.
“Eh …” Gisel hanya sedikit bersuara, seolah mengerang saja. Itu pun dengan suara sangat kecil dan pelan sekali. Bahkan lebihnyaring deru nafasnya dari suara yang ia keluarkan.
“Hallo … maaf. Ini masih sangat pagi jika anda hanya ingin bermain-main dengan telepon hotel.” Tentu saja pihak reseptionis hotel itu merasa sedang di permainkan. Waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi. Bisa saja, mereka harus terjaga dari tidur nyamannya, dan terusik karena deringan telepon di dekat kepalanya. Namun saat di angkat, ia tak mendengar suara apa apa. Bukankah, semua deringan telepon msetinya berisi suatu hal yang penting. Tetapi kenapa dengan panggilan ini, yang hanya senyap.
“Maaf saya tutup.” Gusarnya akan memutuskan sambungan telepon yang mungkin iseng.
“Tolong sa... ” tut tut tut.
Bersambung …
__ADS_1