RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 24 : PERUBAHAN GISEL


__ADS_3

Gisel memang bukan siapa-siapanya Romeo. Kandungan rasa cintanya terlampau pekat untuk istri lucknantnya alias si Manda itu. Tapi, bohong saja ia tidak khawatir pada keadaan Gisel yang sekarang sedang mengandung darah dagingnya. Sisi kecil kebaikannya secara manusia tentulah ada menempatkan nama Gisel Maryam di sanubarinya, di antara penuhnya nama Manda yang begitu mendominasi.


Romeo memeluk percaya pada tangisan pilu istrinya yang seolah cemas dengan keadaan Gisel yang belum bisa di jenguk. Memilih duduk dengan terus menggenggam tangan Manda sambil mencium-ciumnya, untuk memberikan rasa tenang pada hati istrinya yang tampak sangat bersedih.


“Sayang … bagaimana kalau terjadi hal buruk pada bayi itu …?” tanyanya seolah sungguh khawatir. Padahal Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, tentu ia sangat menginginkan kematian pada janin yang ada dalam rahim Gisel. Dan selanjutnya, mungkin ia memang harus mengalah pada permintaan Roy, untuk memberanikan diri untuk hamil. Entah anaknya dengan Roy atau Romeo. Cukup gila bukan.


“Keluarga pasien atas nama Gisel Maryam …” suara perawat yang baru saja keluar dari ruang UGD tadi.


“Iya saya …” Romeo ingin mengaku sebagai suami, tapi ingat antara dia dan Gisel memang tanpa ikatan. Juga menjaga perasaan istrinya yang ikut berjakan di belakangnya, penasaran dengan keadaan Gisel. Sehingga kata selanjutnya hanya menggantung. Namun, menyisakan tatapan bingung dari perawat yang bertanya tadi.


“Saya ayah dari bayi yang ia kandung. Bagaimana keadaan mereka …?” lanjutnya terpaksa mengakui hubungannya dengan Gisel.


“Pak … Selamat, sebab pasien segera di bawa ke rumah sakit ini dalam durasi waktu yang sangat cepat dan tepat. Sehingga ibu dan calon bayi sudah melewati masa kritis. bersyukur perkembangan bayi yang pasien kandung kuat. Kondisinya sangat baik, Sehingga kecelakaan tadi tidak mempengaruhi janin. Hanya sebaiknya pasien di rawat inapkan dulu, untuk mengurangi shock, juga agar dapat terus kami pantau keadaanya hingga benar-benar sehat. Secara fisik mudah di prediksi namun dari segi emosi pasien, tidak mudah untuk di terka. Mungkin pasien memiliki trauma tersendiri.” Jelas pria berjas putih, yang baru saja memastikan keadaan Gisel yang tampak masih tidur.


“Oh .. baik. Baiklah dokter. Aturkan saja untuk ruangan rawat inapnya.” Jawab Romeo mendekati Gisel lalu mengusap perut wanita itu dengan lembut. Jangan tanya bagaimana murkanya hari seorang Manda melihat hal itu. Ia sungguh menyesal sudah membawa Gisel dengan cepat menuju rumah sakit terdekat.


“Siap. Perawat kami akan mempersiapkan segala sesuatunya, permisi.” Pamit dokter itu dengan ramah, sebab akan melanjutkan aktivitas yang tentu banyak dan menunggunya.


“Ah … tunggu. Mengapa dia tampak tidak sadar …?” tanya Romeo yang tidak melihat pergerakan Gisel saat ia mengelus perut wanita itu.

__ADS_1


“Dia hanya tidur. Efek obat yang kami berikan.” Jawab Dokter menyempatkan untuk menjawab pertanyaan Romeo.


“Oh syukurlah jika dia dan bayinya baik-baik saja.” Gumam Manda pelan, tentu dengan segala sandiwara yang harus ia terus lakoni dengan sempurna.


Cup. Romeo mencium kening Manda dengan sayang.


“Terima kasih sudah mengkhawatirkan mereka.” Puji Romeo pada istri liciknya itu.


“Apa aku boleh pulang …? Aku bahkan belum sempat mempersiapkan diri untuk penerbangan besok.” Pamit Manda yang ternyata tidak lupa dengan jadwal penerbangannya. Entahlah dia sungguh ingin liburan atau sekalian kabur dari masalah yang sedang ia buat sendiri.


“Oh… iya. Maaf merepotkanmu, sayang. Banyak istirahat ya … Nanti aku menyusul setelah Gisel sudah boleh pindah ke ruang inap.” Pelukan di pinggang Manda pun terlepas dengan rasa terpaksa.


Gisel sudah bangun dan sudah berada di ruang rawat inap. Ia sudah ingat dengan semua yang baru saja Manda lakukan padanya. Manda yang mendorong pintu, bahkan sempat menginjak pinggangnya saat ia berusaha melindungi perutnya. Gisel juga ingat dengan segala tuduhan yang dua hari berturut-turut di rujuk padanya. Bukankah kesabaran ada batasnya. Gisel sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Terlalu banyak pergumulan hidup yang menderanya akhir-akhir ini. Apa yang bisa ia lakukan untuk mempertahankan diri, agar tetap menjadi manusia baik-baik. Ia bahkan telah merasa betapa kotor dan hina dirinya. Tanpa sadar sudah menyamakan dirinya bagai wanita murahan.


“Kamu sudah bangun …?” Romeo bergegas mendekati ranjang pesakitan saat ia melihat Gisel menyunggar ramburnya sendiri.


“Hmm … mengapa aku di sini.” Gisel tidak tau benar siapa yang sudah berbaik hati membawanya keruang serba putih bersih, yang membuat tangannya kini tertanam jarum dan selang infus kembali.


“Terima kasih tetap kuat untuk mempertahankan anakku.” Romeosungguh sempat gundah. Bagaimanamun 5 tahun bukan waktu yang sebentar untuknya menunggu kehadiran buah hati.

__ADS_1


“Siapa yang membawaku ke sini …?” tanya Gisel berusaha mengingat. Tapi sungguh tidak tau, sebab ia memang pingsan setelah kaki Manda berada di atas pinggangnya.


“Manda … istriku yang menolongmu.” Darah Gisel berdesir-desir. Ia sungguh semakin sadar jika istri dari Romeo itu adalah wanita ular.


Sebentar … bukankah sejak kemarin ia di cap pelakor oleh Manda. Padahal jelas-jelas hal itu tak pernah terniatkan dalam hari dan pikirannya. Apa masih ada hal yang membuat Gisel takut pada dosa? Toh, sejak ia menyerahkan tubuhnya uintuk di jual demi melunasi hutang dan mendapatkan anaknya Gavy. Iapun sudah terperosok dalam lembah hitam.


Lalu untuk apa ia berusaha menjadi putih, sedangkan semesta mendorongnya untuk selalu berada dalam curamnya kehidupan. Gisel menatap lekat Romeo yang sedang mengelus perutnya dengan sangat lembut.


“Terima kasih, untuk tetap kuat dalam rahim ibumu, Nak.” Ucap Romeo pada janin bernyawa dalam rahim Gisel itu.


“Hai … jabang bayi. Tetaplah sehat dan kuat. Daddymu sangat menginginkankehadiranmu.” Gisel ikut meraba perut buncitnya. Seakan ikut meminta agar cabang bayi itu sungguh merasa sangat di rindukan untuk hadir ke dunia.


Gisel lelah mengalah. Ia berusaha baikpun, jelas tak mungkin di percaya. Terutama di mata seorang Manda. Maka, Gisel mulai berpikir ‘Kamu jual, aku beli.’ Gisel sudah tidak mau di fitnah. Ia ingin membenarkan saja segala yang di tuduhkan padanya. Ia ingat betul, bagaimana Manda memperlakukannya tadi, dan itu pun di hadapan banyak saksi.


“Bisakah aku meminta tolong padamu Tuan Romeo …?” tanya Gisel dengan tatapan sayu penuh hormat serta mengiba.


“Katakan… apa yang bisa ku bantu.” Jawab lugas Romeo.


“Sepertinya, aku di bawa ke sini dalam keadaan darurat. Dan aku tak mempunyai pakaian ganti dan sebagainya. Bisakah Tuan atau siapapun membawakannya untukku ke sini ?” Gisel sengaja meminta Romeo ke rumahnya. Dan berharap tetangga barunya akan mengatakan hal sebenarnya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2