
Mudah bukan? Gise hanya tinggal mengkambing hitamkan anakdalam kandungannya. Untuk mendapatkan perhatian dan pengertian dari Romeo. Terbukti, malam itu mereka bahkan hampir kehilangan oksigen akibat pertautan dan perbelitan lidah yang seolah saling merindu itu. Hanya karena tangan Gisel yang mendorong dada Romeo, membuatnya sadar jika yang ia sesap adalah bibir wanita yang tidak halal untuknya.
“Maaf … aku ke bablasan.” Romeo merenggangkan ciumannya.
“Terima kasih.” Ucap Gisel datar, tanpa eksperesi. Seolah ia hanya seperti baru selesai mengerjakan sebuah tugas saja. Bukankah ia sudah di bayar untuk melakukan hal itu. Menjadi hamil. Kemudian berjuang menjaga kehamilan itu agar berhasil melahirkan dengan selamat.
Prilaku datar Gisel sesungguhnya yang membuat Romeo agak sedikit canggung untuk bertindak lebih dari sekedar berciuman. Romeo hanya sedang ingkar dengan perasaanya sendiri. Tidak mungkin ia bisa melakukan hubung badan berkali-kali tanpa ada rasa. Mustahil jika yang mereka lakukan hanya berazaskan jual beli dan perjanjian semata. Di dalam perut wanita yang ia gauli itu ada anaknya, ada darah dagingnya. Yang kesininya selalu ia tautkan dalam tiap bait lantunanpintanya pada sang pencipta. Tentu saja bukan hanya doa untuk calon buah hatinya. Kepada pemilik rahim itu sendiri tentu selalu ia sebut namanya, agar selalu berada dalam naungan dan lindungan Tuhan.
Pagi datang, terlihat dari intipan sinaran mentari yang menerobos masuk melalui celah-celah kain penutup fentilasi di ruang rawat inap Gisel. Romeo semalam berjanji akan menjaga Gisel sampai pagi. Tapi mengapa justru pria itu yang terlihat tidur dengan nyeyaknya di atas sofa pada ruangan itu. Sedangkan Gisel yang berperan sebagai pasien sudah tampak lebih segar bugar. Setelah menyantap sarapannya sendiri, mengkonsumsi obat, juga kini. Gisel sudah terlihat mengunakan pakaian lebih rapi. Ia melakukannya dengan di bantu perawat, setelah infusnya sudah di lepas karena keadannya sudah jauh lebih baik. Dan Romeo tidak bangun sebab ternyenyak tidur.
“Selamat pagi Gisel …” Sapa suara wanita saat pintu terbuka. Itu adalah Yuniar dan Keynan yang tentu saja sangat mengkhawatirkann keadaan Gisel dan calon cucu mereka.
“Pagi Nyonya,pagi tuan.” Jawab Gisel dengan sopan dan penuh hormat.
“Jangan panggil mama begitu Sel. Di perut mu ada cucu kami.” Peluknya pada Gisel.
“Maaf.” Hanya itu yang mampu Gisel ucapkan.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Keynan dengan nada datar tapi sesungguhnya sangat mengkhawatirkan ibu dari calon cucunya.
“Baik. Setelah dokter visite, kemungkinan kami sudah di ijinkan pulang. Sebab selang infus juga sudah tidak terpasang.” Jawabnya ceria menunjukkan tangan yang hanya meninggalkan plester bekas cucukan infus kemarin.
“Apa yang kamu lakukan di sini, Hah? Hanya sedang memindahkan tempatmu tidur saja.” Hardik Keynan pada Romeo yang terkejut melihat kedatangan kedua orang tuanya ke rumah sakit tersebut.
“Mama … papa …?” Romeo berseru sambil mengerjabkan matanya. Demi mengumpulkan nyawa yang sempat berserakan entah kemana di alam bawah sadarnya.
“Kenapa … bingung mengapa kami bisa tau di mana Gisel berada?” tanya Keynan duduk di sofa ruangan tadi setelah Romeo pun duduk.
Gisel beranjak dari bed pesakitannya. Mengambil sekerangjang buah yang di antarkan sekretaris Romeo kemarin bersama pakaian dalam untuknya.
Membawa buahan itu ke arah Romeo dan ayahnya berada, dengan membawa pisau potong.
“Mau di bawa kemana …?” tanya Yuniar bingung.
“Maaf … tidak ada yang bisa di suguhkan di sini. Jadi kita makan buahan saja.” Ucap Gisel sopan. Memberi kesan ramah dan perhatian pada calon kakek dan nenek anak yang sedang ia kandung.
__ADS_1
“Sini … biar mama saja. Kamu masih belum pulih benar.” Yuniar mengambil alih buahan yang di bawa Gisel.
“Hei … kapan infus itu lepas ?” Romeo baru sadar jika Gisel sudah tidak seperti pasien. Ia sungguh tidur seperti kebo. Sampai tidak tau, sejak tadi perawat hilir mudik mengurus Gisel.
“Hah … katanya akan menjaga Gisel. Tapi, selang infus itu di lepaspun kamu tidak tau kapan.” Sindir Keynan dengan nada datar.
“Huumm … aku benar-benar lelah Pa.” Jawab Romeo memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya pada punggung sofa.
“Kenapa … lelah memikirkan Manda yang sekarang sudah menjadi tahanan?” tanya Keynan menyeringai.
“Papa tau …?” tanya Romeo sedikit bingung melihat wajah sang ayah penuh rahasia itu.
“Tentu saja papa tau. Bahkan video itu papa yang serahkan dari hasil rekaman CCTV yang terpasang di rumah Gisel.” Jawabnya sambil mengambil buah apel yang sudah istrinya kupas dan potong untuknya.
“Jadi papa yang melaporkan Manda, mengapa papa tega sekali …?” pertanyaan konyol dari seorang Romeo.
“Tega mana dengan Manda yang sudah berusaha melakukan pencobaan pembunuhan terhadap calon anakmu …?” tanya Keynan gusar.
“Tapi kita bisa bisa menengurnya dengan baik-baik dan dengan cara kekeluargaan Pa…” Oh … Romeo masih bodoh gaaaiish.
“Permisi ….” Suara tim medis melakukan visite pada Gisel.
“Wah … pasiennya yang mana niih?” goda dokter itu dengan suara akrab. Sambil berganti-ganti menatap 4 orang di dalam ruang rawat inap itu. Sebab bed pasien memang kosong.
“He … he … saya dokter.” Jawab Gisep tersipu manis.
Dokterpun melakukan pemeriksaan di sofa tempat Gisel berada saja. Namun, tetap dengan teliti dan cermat.
“Ada rasa keram di perut …?”
“Tidak dokter.”
“Nyeri …?”
“Tidak.”
__ADS_1
“Pendarahan …? Bersih ya … “ Ucap dokter sambil membaca hasil laporan perawat pada riwayat pasien.
“Baik … aman. Sudah mau pulang ya ?” tanya dokter pada Gisel.
“Sudah boleh …?” tanya Gisel pada dokter yang memeriksanya. Dengan senyum alami yang terpancar dari kebaikan hatinya.
“Boleh. Asal obatnya di habiskan sampai tuntas. Jangan kerja terlalu berat dulu, dan yang paling penting jangan stress. Ya kan Pak … tolong nanti di bantu istrinya. Ingatkan untuk mengkonsumsi obat dan tidak terlalu capek dulu.” Dokter segera mengalihkan pandangan, merujuk ke arah Romeo.
“I .. iya dokter siap.” Jawab Romeo dengan segera. Tersentil hatinya. Saat dokter menyimpulkan jika wnaita yang sedang di periksa itu adalah istrinya.
“Baiklah … selesaikan administrasi. Setelah makan siang sudah boleh rawat jalan.” Dokter itu memberi instruksi.
“Baik terima kasih dokter.” Jawab Romeo bersemangat.
“Pokoknya mama tidak mau terima penolakan. Gisel harus pulang ke rumah mama.” Lama Yuniar menunggu dokter itu keluar, demi ingin di dengar permintaannya.
“Jangan … aku tidak mau.” Bantah Gisel tegas.
“Kamu ingin kecelakaan kemarin terulang lagi …?” hardik Yuniar pada Gisel.
“Aku janji, akan lebih berhati-hati.” Jawab Gisel dengan nada datar. Tanpa ada nada yang terdengar menyakinkan pendengarnya.
“Berhati-hati yang bagaimana yang kamu maksudkan? Yang diam saja saat Manda menghinamu ?” tanya Keynan masih datar tapi penuh perhatian.
“Kemarin saya memang telah mengijinkan Gisel pergi dari rumah untuk memberikannya ruang untuk sendiri. Tapi, bukan kenyamanan yang ia dapatkan, melainkan sebuah musibah. Untuk itu, saya setuju saja Gisel kembali tinggal di rumah. Tapi kalian harus segera menikah.” Jawab Keynan terdengar sangat tegas dan menohok. Dan tidak menanggapi pertanyaan Romeo.
“Tidak bisa pa. Manda masih istriku.” Tolak Romeo yang masih terlihat ingin mempertahankan rumah tangganya.
“Saya pun tidak bersedia. Sebab statusku pun adalah wanita yang masih terikat dalam sebuah ikatan penikahan dengan orang lain.” Tegas Gisel mantap.
Bukan Gisel masih ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Dandy. Tapi ia tak ingin terkesan terlalu menginginkan Romeo. Di lain sisi, Gisel sudah tidak percaya dengan sebuah ikatan dalam sebuah pernikahan.
Yang beralasan cinta pun bisa kandas, apalagi tanpa cinta. Baginya ikatan pernikahan itu bagai takayul saja. Hal yang di saksikan oleh sesama manusia, pun belum tentu di restui oleh sang pencipta. Begitulah Gisel, yangm terlanjur kecewa dengan jalan hidupnya.
Bersambung …
__ADS_1