RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 28 : DOPPING


__ADS_3

“Saudari Manda Juana. Kamu harus kami bawa ke kantor untuk memberi kesaksian perihal kasus penganiyaan terhadap ibu hamil.” Suara orang berjenis kelamin laki-laki bertubuh tinggi dengan pakaian lengkap sebagai aparat pengayom masyarakat, dapat dengan jelas di tangkap indra dengar orang orang di sana.


Langkah Manda dan Romeo terhenti, reflek menoleh ke sumber suara di belakang mereka.


“Ini surat penangkapan anda.” Tampak pria yang berdiri paling tengah sudah membentang sebuah surat perintah penangkapan ke hadapan Manda dan Romeo yang masih melongo tak percaya.


“Mungkin kalian salah orang.” Bantah Romeo tidak yakin akan perkataan yang jelas merujuk pada istrinya.


“Silahkan baca …” Mereka menyerahkan pada Romeo. Sedangkan dua pria lainnya sudah memborgol pergelangan tangan Manda yang tidak dapat berpikir apapun.


“Aku pasti di fitnah … Sayang. Apa salahku ?” Manda memohon pada suaminya agar segera di bantu oleh Romeo.


“Nanti ibu beri penjelasan atau bantahan di kantor saja.” Ucap petugas masyarakat itu dengan tegas.


Manda di masukkan paksa ke mobil aparat. Dapat di bayangkan bagaimana keterkejutannya atas penangkapan yang di saksikan ratusan mata di tempat umum itu.


“Aku akan menyusulmu. Ikutilah dulu prosedurnya, sayang. Percayalah semua kan baik-baik saja.”Romeo menenangkan Manda saat sudah berada di dalam mobil polisi tersebut.


Dalam perjalanannya, Romeo berpikir keras. Siapa yang sudah berani melaporkan istrinya. Memberikan tuduhan pada wanita yang selalu di pujanya tersebut. Apakah warga sekitar tempat tinggal Gisel. Hah … bukankah mereka hanya melihat dengan mata mereka, tanpa bukti. Sampai tiba di Polresta terdekat pun, Romeo masih belum tau siapa pelaku yang melaporkan istrinya. Bahkan sesampainya di sana ia tidak melihat satu orang pun yang ia kenal. Jika ia mengira pelapor adalah salah satu dari orang yang ia temui bersama ketua RT tadi.


Manda sudah duduk di meja penyidik, Dengan raut wajah cemas, takut dan marah juga. Manda menghadap penyidik dengan wajah angkuhnya.


Rentetan pertanyaan runtut kegiatannya sepanjang hari pun sudah mulai di ulas satu persatu. Saat Romeo sudah berada di sisi Manda sebagai pengawalnya. Jawaban Manda berubah-rubah. Mulai dari warna pakaian yang ia gunakan, sampai pukul berapa ia tiba di rumah korban.


Bukan penyidik namanya, jika tidak bisa membuat Manda bingung akan pertanyaan dan pernyataan, yang membuatnya pusing sendiri.


“Sudah selesai dengan karangan fiksinya, bu ?” kekeh penyidik setengah melecehkan Manda. Sementara Romeo tak pernah lepas memegang tangan istrinya. Memberikan efek tenang pada wanita tersebut.

__ADS_1


“Siapa yang sedang mengarang fiksi …” bantah Manda berani.


“Baiklah … dari pada ibu lelah mengkhayal. Kami akan menayangkan sebuah video berdurasi 15 menit yang sudah kami dapatkan dari pelapor.” Jantung Manda hampir copot mendengar pernyataan yang penyidik sampaikan. Sambil berharap jika itu hanyalah sebuah ancaman belaka dari penyidik.


Wajah Romeo merah padam, saat ikut menonton aksi istrinya bagai pemain sinetron ikan terbang yang sudah sangat piawai melakukan aksi kejahatan. Tangan yang tadi terus mengenggam tangan Manda pun terlepas dengan sendirinya. Tak mampu ia terus menjadi pembela wanita yang hampir membunuh darah dagingnya yang masih ia titipkan pada rahim Gisel.


“Silahkan di proses.” Tegas Romeo berdiri dan siap meninggalkan Romeo.


“Sayang …” Kejar Manda pada Romeo yang berusaha untuk menahan diri agar tidak marah pada istrinya.


“Kamu sudah semena-mena dengan Gisel. Dan itu membahayakan calon anakku.” Ucapnya singkat, kemudian sungguh pergi meninggalkan Manda seorang. Bahkan tak sempat bertanya, video itu di dapat dari mana.


Bukti konkrit sudah sangat jelas. Penangkapan Manda tak terelakkan. Status Manda sudah naik sebagai tersangka. Rompi oren pun bertulis TAHANAN di bagian belakanh kini sudah melekat pada tubuhnya. Impian berbulan madu di Milan kini justru berakhir di balik jeruji besi. Mana Roy … pria yang menjadi pengendalinya? Sampai saat ia terkurung pun, pria itu tidak menghubunginya. Bahkan Romeo yang begitu mencintainya pun, memilih pergi dan menyilahkan kasus Manda untuk di proses ke jenjang selanjutnya. (readersku Puas donk)


Sementara Romeo yang masih dalam keterkejutannya, melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Tak sabar rasanya ia mengkonfirmasi kembali akan kejadian yang sesungguhnya pada Gisel.


“Manda sudah berangkat …?” tanya Gisel lagi, sebab Romeo memilih mengambil sebotol air mineral di nakas dekat bed pasien.


“Dia tidak jadi berangkat ke Milan. Tetapi …” Kalimat Romeo tidak berlanjut.


“Tapi apa …?”


“Gisel … kenapa kamu tidak jujur jika Manda sungguh melakukan penganiyaan terhadapmu ?” tanya Romeo menatap lekat Gisel.


“Percuma ku katakan yang sebenarnya. Sebab cintamu padanya sudah menutup semua pemgelihatanmu.” Jawab Gisel seolah tau betapa Romeo selalu ingin membenarkan ulah istrinya.


“Tapi ia sungguh telah membahayakan calon anakku, di sini.” Romeo menunjuk bahkan mengelus perut menonjol itu.

__ADS_1


“Aku cinta istriku. Tapi juga ingin anak ini.” Peluknya tiba-tiba pada tubuh Gisel yang tidak siap menerima pelukan itu.


“Dari mana kamu tau jika Manda yang menganiayaku?” tanya Gisel menepuk punggung Romeo.


“Sekarang Manda di tahan. Ada yang melaporkannya bahkan memiliki video lengkap sejak ia datang mencacimu hingga ia mendobrak dan menginjak pinggangmu dengan keras.” Pelukan Romeo terurai menatap sendu ke arah Gisel. Nampak raut kecewa terpasang di sana.


“Siapa yang sudah merekam video itu …?” tanya Gisel agak heran.


“Hah … aku bahkan belum bertanya siapa yang melaporkannya. Sebenarnya kamu yang berhak melaporkannya, bukan?” tebak Romeo.


“Janganlah kiranya kamu berniat menuduhku dalam hal ini. Sebab seharian ini waktuku hanya ku habiskan untuk memulihkan staminaku saja.” Gisel lebih dahulu menekan kemungkinan yang terjadi, bisa saja saking bucinnya Romeo. Tiba-tiba ia menuduh Gisel sebagai pelapornya.


“Tidak … aku tau kamu di sini sejak tadi. Bahkan aku yang memintamu untuk banyak istrirahat agar anakku sehat.” Ujar Romeo kemudian.


“Terima kasih untuk kepercayaanmu.” Jawab Gisel mulai mengantuk.


“Kamu sudah ingin tidur?”


“Sepertinya efek obat membuatku selalu ingin tidur.” Jawab Gisel dengan cepat.


“Tidurlah … aku akan menjaga kalian sepanjang malam.” Romeo membantu Gisel merebahkan dirinya hingga posisi Gisel nyaman. Tak lupa menyingkap sebentar pakaian di bagian perut Gisel. Mengelus dan mengecup permukaaan menonjol itu dengan lama.


“Maaf membuatmu shock hari ini anakku.” Ucapnya pada permukaan perut Gisel penuh sayang.


“Anakmu baik-baik saja selama aku melindunginya dengan sekuat tenagaku. Hanya kadang, aku pun butuh doping agar selalu dapat menjaga kewarasanku.” Pancing Gisel mengelus kepala Romeo yang masih tertempel di permukaan kulit perutnya.


Entah tebakan Romeo benar atau tidak. Menurutnya itu adalah kode dari Gisel. Agar ia melakukan sesuatu yang dapat menghasilkan enzim bahagia. Maka bibir Romeo sudah tidak tertempel di kulit perut Gisel. Melainkan bibir itu sudah menubruk bibir Gisel, menyasar ke rongga mulut wanita hamil itu, demi memberikan doping agar wanita itu merasa bahagia.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2