RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 64 : SUAMI LAPAR


__ADS_3

Binar mata yang tadi sempat terpancar dari bola indah milik Gisel mendadak temaram. Pilu hatinya mengartikan perkataan yang baru saja Romeo ucapkan untuknya. Itulah sebabnya Gisel tak mau mulai mencinta, sebab selalu berakhir luka. Karena bagaimanapun rasa cinta selalu di iringi dengan rasa memiliki yang berlebihan. Gisel tak mau berbagi. Untuk itu ia membebaskan Romeo untuk memilih lagi, sebelum sungguh memintanya mengunci hatinya pada seseorang.


“Oh … maaf. Jika soal mencintaimu. Aku jamin aku akan mampu memberikannya padamu. Tapi untuk berjanji hanya mencintaimu dan mama. Maaf aku tidak bisa janji.” Jawab Romeo tegas.


“Sudah lah jika demikian. Bukankah kamu sendiri telah nyata berkata jika tak bisa berjanji untuk setia. Lalu untuk apa aku kamu paksa untuk mencintaimu. Benar bukan, cinta selalu egois. Memaksa untuk di cinta. Tetapi enggan untuk setia pada satu wanita.” Kesal Gisel. Kembali membalikkan tubuhnya. Memilih melihat kelamnya langit malam yang terbentang di hadapannya. Baginya… warna alngit malam itu serupa dengan warna hatinya yang gelap.


“Aku tidak bisa hanya tetap mencintai mama dan kamu. Tapi aku berharap nanti kamu akan memberikanku seorang putri. Anak perempuan yang semoga tidak hanya satu, mungkin dua, tiga atau… sebanyak mungkin.” Mendadak hati Gisel menghangat mendengar lanjutan kalimat yang Romeo ucapkan sebelumnya.


“Romeo …” Pukul Gisel dengan manja di dada suaminya.


“Kamu sudah terpilih menjadi wanita yang akan aku bahagiakan sampai tutup usia. Sebagai imbalannya, kamu juga wajib memberiku gisel-gisel junior yang cantik hati dan parasnya. Aku tidak sabar rumah kita di penuhi tawa dan tangis bayi-bayi kita selanjutnya.” Romeo sudah menggendong Gisel masuk ke dalam kamar. Dan menutup pintu balkon seadanya dengan kaki satu. Kini mereka berada di atas peraduan yang tentu saja mereka gunakan untuk saling bersalin ilmu kanuragan untuk mendapatkan bayi-bayi perempuan sebanyak mungkin, seperti yang Romeo inginkan.


“Apa sesungguhnya aku memang di nikahi sebagai pabrik anak?” kekeh Gisel tanpa ada rasa tersinggung dan semacamnya.


“Terserah kamu mau mengartikan apa. Yang penting aku sayang kamu, aku cinta kamu, dan aku idak menerima penolakan apapun darimu. Titik. Kamu separuh nyawaku sekarang.” Ya .. cinta Romeo memang seegois itu. Dulu Manda juga sedemikian ia cintai. Sampai istrinya itu selingkuh di belakangnya pun ia tidak peka. Sebab yang ia lakukan hanya melimpahkan kasih sayang secara terus menerus tanpa dan terlalu membebaskan wanita yang di cintainya itu berbuat sesukanya. Dan hasilnya, sempurna bukan. Bahkan Saat wanita itu tidak bersedia hamil untuknya saja, tidak pernah ia permasalahkan.


Hari baru telah tiba, di tandai dengan matahari yang telah bersinar terang. Menyelinap masuk di cela-cela tirai penutup jendela di kamar Gisel dan Romeo. Jangan tanya bagaimana posisi Romeo sekarang. Sudah pasti ia masih bergelung dalam selomut bermotif bunga-bunga cerwarna-warni di atas tempat tidurnya. Ia masih belum mengenakan pakaian apa-apa, hanya selimut yang menyelamatkan tubuh polosnya, saat Gisel sudah dalam keadaan berpakaian lengkap membawa Baby O ke atas tempat tidur itu.


“Ayah bangun … masa kalah oleh Oniel. O sudah makan lhoo, yah.” Gisel meletakkan Oniel di dekat Romeo yang masih meringkuk, malas untuk bangun dan memulai harinya.


“Yah … ayah…” Pabbil Gisel dengan suar yang di buat-buaty seperti anak kecil yang manja.

__ADS_1


“Bangun sayang, tidak ke kantor?” tanya Gisel lembut sambilmencium pipi suaminya yangsebenarnya memang sudah terjaga dari tidurnya, hanya masih ingin memperpanjang waktu untuk memulihkan staminanya sisa pertempuran semalam.


“Hooaaams. Morning baby O. Morning bunda kesayangan, Ayah.” Kiss itu bergantian ia berikan di pipi makhluk hidup yang sedang berusaha membangunkannya tadi.


“Jangan malas ayah … O udah sarapan looh sepagi ini.” Kekeh Gisel memandang Oniel dan Romeo bergantian. Bukan menjawab, tangan Romeo justru masuk kedalam gendongan tempat ASI milik Omiel. Mengeluarkannya satu lalu menghisapnya persis bayi.


“Ayaaaaah …” Hardik Gisel lumayan cukup keras sambil berusaha menutup satu tempat minuman di dadanya yang sudah sempat di hisap oleh suaminya.


“Kan Oniel sudah sarapan itu, gantian. Ayah juga mau, suka malah.” Kekeh Romeo bahagia sepagi ini sudah bisa membuat gaduh suasana kamar mereka.


“Ga boleh gitu, di lihat anakumu.” Gisel mengembalikan tempat minum Oniel ke wadahnya semula. Mana ia tau, jika kata-katanya justru membangkitkan ke isengan sang suami.


“Dia masih kecil, sangat kecil. Mana di ngerti sayang.”


“Ya sudah kembalikan dia ke kamarnya. Huh… baru isap sebantar, sudah mau lagi ini.” Romeo membawa satu tangan Gisel ke tempat yang ia maksudkan. Ke tempat senjata yang semalam baru saja di gunakan untuk membuat adik-adik Oniel.


“Ayaaah … ga cape? Kerja dulu sana. Nanti malam lagi.” Pinta Gisel dengan lembut pada suaminya.


“Maunya sekarang.”


“Pulang kerja aja.”

__ADS_1


“Atau di tempat kerja seperti kemarin?” tawar Romeo lagi.


“Ga … nanti aku minta supir saja yang mengantar makan siangmu.” Jawab Gisel menghindar akan di ajak bercinta lagi di dalam ruangan Romeo.


“Oh … mau kasih cela untuk suami jajan sembarangan?” Pancing Romeo sengaja membuat Gisel tak punya pilihan.


“Hidup dan pernikahan bukan hanya seek, ayah.” Ujar Gisel sepertinya seius.


“Iya .. itu memang bukan segala-galanya. Tapi siapa yang mau menyalahkan jika aku candu dengan tubuh istriku sendiri.”


“candu boleh, tapi tau waktu dan tempat juga.” Rengut Gisel agak kesal.


“Aku tidak merasa inginmelakukannya di tempat terbuka. Ini memang tempat bercintaa sayang.” Romeo bahkan membuka selimutnya dan memang terlihat jelas di sana, benda itu sudah berdiri tegak mengeras, siap untuk menerkam lawannya.


“Kamu antar O sekarang kekamarnya, atau aku dengan begini yang menagntarnya ke pengasuh?” ancam Romeo yang kesininya agak sengklek. Sudah berdiri degan tubuh polosnya. Dan bersiap menggendong Oniel yang tidak tau apa yang kedua orang dewasa itu bicarakan.


“Stop. Tetap berdiri di situ. Biar aku yang mengantar baby O. dan mengambil sarapanmu di bawah.” Jawab Gisel yang tidak berniat melayani suaminya. Sebab bukankah baru beberapa jam yang lalu mereka berhenti melakukan itu.


“Hanya mengantarkan baby ke kamar sebelah. Untuk sarapanku, cukup kamu saja. Bukan makanan di dapur.” Teriak Romeo yang berjalan ke kamar mandi untuk memabasuh wajahnya dan bersikat gigi.


Romeo tau, Gisel tidak akam mau berlama-lama berciuman dengannya jika baru bangun tidur. Dan memang saraf otaknyapun berkata jika aroma liur basi itu dapat mengurangi hasratnya untuk bercumbu lebih lama.

__ADS_1


Romeo sudah berdiri di balik pintu masih dalm keadaan tanpa busana sehalipun, demi ingin menyergap istrinya yang nanti akan masuk lewat pintu itu.


Bersambung …


__ADS_2