
Awalnya Gisel membiarkan Romeo memangkunya saat suaminya di atas tempat tidur. Tapi karena Gisel beranjak. Romeo pun ikut berpindah tempat ke sofa yang masih di area kamar mereka. Dan saat Romeo terlihat sudah dalam posisi nyaman, Gisel malah mendekati suaminya dengan memamerkan suatu benda yang mengejutkan suaminya.
“Huum … ayah O yakin tidak akan sering mengganggu tidur malamku?” tanya Gisel memastikan respon suaminya setelah melihat benda yang ia tunjukkan. Kemudian memilih duduk di ujung kaki Romeo dan memberikan sesuatu yang membuat Romeo tak jadi tidur dengan tenang atau sekedar melihat televisi di dalam kamar mereka.
“Apa ini …? Kamu hamil sayang …?” Romeo melotot melihat benda putih pipih kecil, bergaris dua merah di dalamnya.
“Kenapa kayak ga percaya gitu sih …? Atau ga ngerasa sering buatnya?” tanya Gisel dengan nada bercanda.
“Sayang bilang ini ga bohong kan?” Romeo memegang dua bahu Gisel dengan tatapan tak percaya.
“Iya serius aku hamil.” Jelas Gisel dengan kalimat terjelas yang bisa ia ucapkan.
“Ini bukan tespack tahun lalu, milik Oniel kan?” ada apa dengan Romeo yang sulit percaya dengan kehamilan Gisel kali ini.
“Sini in. Kalo ga percaya. Ga guna tau ga bohongin suami.” Lama-lama Gisel dongkol juga. Berharap mendapat senyum sumringah sang suami. Tapi iam justri diberondongh dengan kalimat-kalimat yang meragukan kehamilannya.
“Ga gitu sayang. Aku beneran bahagia. Memangnya sudah telat berapa bulan sih …?” tanyanya lagi memegangi kedua pipi Gisel dan mengosok-gosok hidung mereka berdua, beradu.
“Sudah dua bulan aku tidak mendapatkan haid. Ayah O.” Jawab Gisel dengan wajah cemberut.
“Astaga … mungkin karena sibuk dan ada beberapa kali keluar kota aku sampai lupa jadwal haidmu. Juga tidak memperhatikan pembalut di kamar mandi ga berkurang ya, bun.” Romeo mencium-cium sekitaran wajah Gisel tanpa henti.
“Terima kasih sayangku. Dan maaf … lagi-lagi kamu hamil sebelum kita resepsi.”
__ADS_1
“Huum… apa ku bilang. Ga usah resepsi yang penting kita udahl resmi. Ga usah honeymoon juga, udah di bikin hamil terus akunya.” Gisel mengganti tampilam merengutnya dengan senyum tipis, pertanda hatinya sudah kembali baik-baik saja.
“Huum … kira-kira adik O, laki-laki atau perempuan ya. Mestinya kita progmil sayang. Biar dapat anak cewek.” Romeo berandai-andai.
“Memangnya itu barang bisa di ajak kompromi dan taat dengan segala ketentuan saat di lakukan promil?” suara Gisel sedikit meninggi, seolah menyepelekan suaminya.
“Memangnya kalo promil di atur-atur juga cara buatnya?” polos Romeo pada sang istri.
“Ya kali. Kapam masa subur itu pasti. Makanan juga. Tapi kan ayah O, mana tau jadwal. Orang lelah aja masih di seruduk.” Omel Gisel dengan wajah sungguh.
“Oh … yes. Aku tau nih. Fix, adik O jelas cewek. Ayah yakin kamu putri ayah Nak. Welcome di perut bunda.” Elus Romeo sembari menciuminya berkali-kali.
“Pe De …” Tukas Gisel pendek dengan bibir bawah yang sengaja ia cebikkan.
“Jangan mendahului Tuhan. Yang penting kami sehat selama berdua, hingga masa persalinan tiba.” Doa Gisel mengingatkan suaminya.
“Iya sayang … doaku selalu untuk kalian. Selamat menikmati kehamilan kedua, Ny. Romeo Subagia. Aku merasa lebih sempurna menjadi seorang suami dan ayah dari anak-anak kita.” Romeo tak kuasa mengungkapkan perasaan senangnya. Ya… ternyata benar saja. Jika selama waktu kurang lebih 5 tahun, ia hanya membuang percuma bibit-bibit premiumnya. Sebab, cetakan yang terdahulu yang memang tidak memberikan wadah yang siap untuk di buahi. Buktinya, usia Oniel bahkan belum satu tahun ia harus memiliki adik. Romeo bangga dengan pencapaiannya kali ini.
Bukan hal aneh, jika suatu berita sebesar itu segera sampai ke telinga Keynan dan Yuniar. Kedua orang tua Romeo yang kini sudah resmi di panggil kakek dan nenek itupun sangat bahagia mendengar kabar kehamilan kedua Gisel.
“Pokoknya mama ga terima penolakan. Sebelum cucu kedua mama lahir, resepsi pernikahan kalian harus di gelar besar-besaran. Mama ga mau ya seolah punya cucu dari pernikahan yang tidak sah. Apalagi sampai dua.” Pinta Yuniar.
“Tapi Ma … Gisel jangan capek dulu. Dia masih hamil muda.” Tolak Romeo yang tau istrinya tidak mau ada pesta meriah untuknya.
__ADS_1
“Ga bakalan capek. Kita pake jasa WO. Kalian pokoknya Cuma tau duduk saja di pelaminan. Titik.” Taukan bagaimana kerasnya hati Yuniar, mertua Gisel. Jika dia bilang A ya A. Selamanya akan begitu, tidak akan bisa di bantah, apalagi berubah.
“Pa … bilangin mama donk.” Pinta Romeo pada sang ayah, agar mengurungkan niat sang mama.
“Mama kamu benar. Cukup Oniel seolah lahir di bawah tangan. Tapi tidak dengan adik-adiknya.” Jawab Keynan lugas.
“Tapi pernikahan kami sudah terdaftar secara resmi Pa. Tidak ada lagi pernikahan siri atau di bawah tangan.” Romeo terus membela diri.
“Melaksanakan resepsi tidak hanya untuk memastikan anak-anak kalian adalah dari hasil hubungan resmi. Tapi lebih kepada hubungan pernikahan kalian itu sendiri. Bagaimanapun, orang pernah tau kamu menikahi Mandas. Bukan Gisel. Selama ini, orang hanya tau kamu adalah seorang duda. Karena tak pernah beredar kabar tentang pernikahan keduamu. Selama ini, kamu bahkan tidak bisa membendung rumor tentang Gisel yang kadang datang ke kantormu mengantar makan siangmu itu, sebagai siapamu? Pernahkah kamu perkenalkan dia sebagai menantu sah papa?” Keynan kalo bicara bahkan lebih tegas dari Yuniar kan. Tentu saja, Romeo tidak bisa punya alasan lagi untuk menolak.
“Tapi sekarang Gisel sedang hamil muda. Masih di trimester pertama.” Masih saja Romeo mencoba membujuk orang tuanya untuk tidak melaksanakan acara tersebut.
“Ya kita tunggu sampai dia di trimester kedua. Bisa di usia kandungannya empat bulan atau lima bulan.” Jawan Yuniar masih ikut nimbrung.
“Tapi perut Gisel makin besar Ma…” Gisel akhirnya ikut bicara. Bukan masalah lelahnya nanti saat berbadan dua harus mengadakan pesta. Tapi lebih ke malu saja, pengantin kok perutnya buncit.
“Ya kan isi. Wajarlah besar.” Jawab Yuniar seperti menghardik.
“Malu mah… pengantin kok ga langsing.” Cicitnya yang masih bisa di dengar oleh mertuanya.
“Siapa yang mewajibkan semua pengantin wanita itu langsing? Dimana peraturannya? Emang wanita gendut ga boleh kawin? Lagian kamu udah isi, saat hamil juga karena hasil perbuatan dengan suami sendiri. Kalian sudah dewasa, bukan seperti ngawini anak SMA yang bablas dan menikah karena hamil duluan kan.” Skakmatt. Romeo dan Gisel tidak bisa beralasan apapun lagi.
Bersambung ….
__ADS_1