
Apa yang diaturkan Keynan, sungguh tak terbantahkan. Sekuat tenaga Romeo berkelitpun. Ia akhirnya tak berkutik. Ingin menolak pernikahannya dengah Gisel, tapi sisi lainnya tak ingin istrinya bunuh diri di dalam sel tahanan. Jika tak segera di bebaskan. Pun Gisel, ingin menolak dengan segala alasan. Tetapi sungguh ia sendiri yang bersedia membebaskan Manda bukan? Maka Pernikahan secara agamapun tak terhindarkan. Dengan pakaian seadanya, juga wali hakim. Pernikahan secara siri, itu terjadi dalam ruang rawat inap tersebut.
Tidak ada rona bahagia, tak ada pula binar ceria dalam manik mata kedua pasangan suami istri yang baru saja resmi secara agama menjadi suami istri. Yang ada, keduanya hanya melongo, saat di jari manis mereka bahkan sudah tersemat cincin emas 24k, yang entah bagaimana cara Budi menyiapkannya sedemikian sempurna dalam tempo sesingkat-singkatnya itu. Mirip proklamasi.
“Sekarang terserah kamu … mau bawa istrimu tinggal di rumahmu atau di rumah papa, atau di rumah kontrakkan Gisel. Papa mengijinkan semuanya. Asalkan kalian tidak saling berjauhan. Pastikan keselamatan cucu papa dan menantu baru kami.” Ucap Keynan bangga karena sudah berhasil menikah paksakan anaknya.
“Kamu mau tinggal di mana?” tanya Romeo pada Gisel dengan nada dingin.
“Ke kontrakkan saja.” Jawab Gisel cepat. Lelah otaknya berseteru dengan segala yang telah terjadi.
“Baiklah. Ma … Pa. Kami pulang duluan.” Pamit Romeo pada kedua orang tuanya.
“Ya hati-hati di jalan. Oh iya … malam pertama kalian di tunda dulu, sebab Gisel belum pulih benar.” Kekeh Keynan dengan senyum sumringah. Mengoda Romeo dan Gisel.
“Malam pertama …?” tanya Romeo dengan tawa yang sangat kecut menanggapi gurauan ayahnya.
“Ya … malam pertama setelah kalian SAH. Selamat ya, papa doakan rumah tangga kalian langgeng, beranak cucu yang banyak, hingga maut memisahkan.” Doa tulus Keynan haturkan untuk pernikahan kedua anak dan Gisel yang kini sungguh sudah jadi menantunya.
Sesampainya di rumah kontrakan, Romeo canggung. Ia ingin masuk ke dalam kamar Gisel, sebab merasa sudah sah menjadi suami Gisel. Tapi bayangan Manda masih melekat dalam otaknya. Bagaimanapun cintanya masih besar untuk Manda.
Berbeda dengan Gisel. Ia memang trauma dengan pernikahan, dan illfeel dengan kata cinta. Tapi ia juga tidak lupa dengan cita-citanya merebut Romeo dari Manda. Ia ingin membuat Romeo jatuh cinta padanya. Tidak dengan kecantikan, sebab Manda sekelas model dunia, tentu tidak sebanding dengannya. Tidak melulu dengan bayi yang ada dalam perutnya, sebab itu sudah memiliki poin tersendiri di mata Romeo. Ia akan dengan pelan-pelan membuat Romeo candu untuk mendapatkan perhatiannya sebagai seorang istri. Huh … mengapa Gisel merasa geli dengan statusnya sekarang yang tiba-tiba menjadi seorang istri seorang Romeo Subagia.
Gisel ibu rumah tangga. Dalam lemari pendinginnya tentu sudah di penuhi dengan bahan makanan yang bisa ia olah menjadi makanan lezat dan bergizi. Belum lagi, belanjaannya dengan Romeo yang walau gagal tempo hari, tetap di antar untuknya kerumah. Sehingga ia dapat memanfaatkan itu semua untuk memanjakan perut Romeo.
__ADS_1
“Kamu tidak ke kantor polisi …?” tanya Gisel menemui Romeo di ruang tamu.
“Apa kamu sudah siap menandatangai berita acara perdamaian …?” Romeo balik bertanya.
“Aku belum siap sekarang. Bahkan memar di punggung tanganku bekas jarum infus belum hilang. Mungkin besok atau lusa saja.” Jawabnya santai, seolah menunda dengan sengaja perdamaian dan pembebasan itu.
“Gisel … dengan kamu menunda kedatanganmu ke kantor polisi. Itu artinya kamu juga memperlama Manda tinggal di tahanan sana.” Ucap Romeo seolah marah mendengar Gisel mengulur waktu.
“Ya sudah … minta papamu saja mencabut laporannya. Kan dia yang melapor.” Jawab Gisel dengan santai. Benar, sebab sesungguhnya yang bisa membuat Manda keluar itu hanya Keynan, sebagai pelapor. Atau Gisel sebagi korban yang tidak ingin menuntut tersangka.
“Bercanda kamu. Mana mungkin papa mau membebaskan Manda.” Jawab Romeo menyunggingkan senyumnya.
“Bisa temani kami makan …?” Gisel mengalihkan topic pembicaraan mereka, sambil mengelus perut buncitnya. Tentu saja itu bagian dari trik Gisel untuk pelan-pelan merayu Romeo.
Gisel sudah memasak alakadarnya, masakan sederhana. Ada ayam goreng, sup ayam dan perkedel jagung. Masakan rumahan pada umumnya. Yang jauh dari kesan mewah apalagi berkelas.
“Ke kantor polisi kamu tidak mau. Tapi kamu malah sempat memasak semua ini. Bukankah kamu belum pulih …?” Romeo mulai mengunyah makanan yang asing namun enak di nilai indra pengecapnya.
“Bukankah kamu yang memintaku untuk selalu membuat anak ini sehat …?” Gisel membalik pertanyaan pada Romeo. Membuatnya hanya terdiam, membenarkan perkataan Gisel tersebut.
“Apa setelah ini, aku boleh pulang ke rumah. Untuk mengambil beberapa pakaianku?” tanya Romeo agak canggung pada Gisel.
“Mengapa harus bertanya padaku …?” tanya Gisel seolah jual mahal.
__ADS_1
“Karena sekarang kamu sudah menjadi istriku.” Jrejeeet … hati Gisel konslet sebentar. Seeer seran rasanya aliran darahnya mendengar kata istriku di ucapkan oleh Romeo. Bodoh … Hatinya tidak bisa di bawa berkompromi. Kenapa harus cenat cenut. Ia bahkan belum banyak melakukan apa-apa agar Romeo berpaling dari Manda ke arahnya, tetapi mengapa ia yang mungkin akan terjerumus pada permainannya sendiri.
”Hah … kita hanya nikah siri. Bukan suami istri sebenarnya. Kita hanya menghindar gelar anak yang anak aku lahirkan nanti, jangan sampai di sebut anak haram.” Gisel sudah berhasil menenangkan hatinya, bahkan mematahkan tujuan obrolan lawan bicaranya.
“Bagaimana jika aku pergi ketahanan Manda malam ini …?” pancing Romeo lagi pada Gisel.
“Itu pun sudah menjadi kewajibanmu. Yang harus melindungi dan menyayangi istri sahmu. Apalah kami.” Usap Gisel pada perutnya.
“Iyakan sayang … Jangan lupa. Nanti kamu harus hormat pada mommymu. Namanya Manda.” Gisel menunduk dan berbicara sendiri pada perutnya. Membuat Romeo tersindir akan perkataan Gisel di depannya.
Romeo tidak berminat untuk melanjutkan obrolan, pertanyaan atau apapun pada Gisel. Merasa tersudut terus dirinya. Sepertinya Gisel sungguh tak menginginkan menjadi istrinya.
Romeo pun berlalu pergi, melesatkan kendaraan roda empatnya. Meleburkan dirinya dengan para pengemudi jalan lainnya. Menuju kediamannya yang terasa semakin sepi.
Merendamkan tubuh gagah perkasanya dalam bath up, mencari ketenangan di dalam rendaman air beraroma terapi di sana. Untuk merenungi dengan cermat. Apa menikahi Gisel adalah salah satu bentuk pengkhianatan. Romeo tak penah berniat sekalipun untuk mengingkari janji sucinya pada Manda istri tercintanya.
Lama Romeo habiskan waktunya duduk saja di tepian ranjang. Memandang lekat tempat yang biasa ia dan Manda gunakan untuk bercinta. Tapi, kenapa semakin ia ingin melihat bayangan Manda. Ia justru terngiang dengan ucapan Gisel saat mengelus perutnya. ‘Apalah kami.’ Dua kata itu sangat mengiris hatinya.
Bergegas Romeo bangkit dari posisinya, ia tak mau menyesal. Perut buncit itu sungguh sedang membutuhkan perlindungannya. Persetan dengan cinta yang selama ini ia gaungkan. Toh, benar. Wanita itu tega mencelakai calon buah hatinya.
Praaaank…
Sebuah botol kecil terlempar saat Romeo menarik beberapa pakaian dari dalam lemarinya dan Manda.
__ADS_1
Bersambung ….