RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 58 : LEBIH SEGAR


__ADS_3

Entah apa tujuan pegawai itu menunjukan picture kebersamaannya pada Gisel siang itu. Apakah sengaja atau tidak bermaksud apa-apa. Namun, hal itu cukup mengacaukan susunan sel-sel di otak Gisel. Walaupun ia tidak mengaku perasaan cintanya pada Romeo, ayah dari anak keduanya tersebut. Tapi kini ia berstatus istri Romeo satu-satunya bukan. Dan kini mereka sudah punya Oniel. Aank yang lahir dari rahimnya, setelah di sirami oleh Romeo.


Tidakkah Gisel hanya sedang tidak mengakui perasaannya saja pada Romeo. Ia hanya mengakui jika hanya raganya yang di miliki oleh Romeo, dan tidak mau mengakui jika jiwanya pun sesungguhnya telah teruntuk Romeo. Hanya waktu yang mampu menunjukkan semua ini, segala tentang rasa yang Gisel miliki untuk Romeo


“Di pic itu, tangan kalian saling bertumpuk. Apakah kalian memiliki hubungan khusus dan akrab sebelumnya?” Gisel mencoba untuk mengorek tampilan di layar pipih itu.


“Menurut mbak …? Apakah semua orang yang tidak memiliki hubugan special akan melakukan kontak fisik sedekat itu?” Suara itu terdengar datar dan terkesan angkuh.


“Oh … mbak mau bilang jika antara mbak dan suami saya ada hubungan special?” simpul Gisel menyembunyikan letupan kecil pada hatinya, yang timbul tanpa permisi. Bahkan ia sendir tak mengerti mengapa itu terjadi di luar perkiraannya. Apa Gisel cemburu ? Hah. Itu hanya di miliki oleh orang yang memiliki cinta yang berlebihan bukan?


“Rupanya mbak memiliki otak yang cerdas juga. Jadi saya tidak harus menjelaskan apa-apa tentang hububgan saya dan Pak Romeo.” Lanjutnya penuh percaya diri.


“Lalu mengapa hubungan kalian menjadi vacum. 8 bulan itu waktu yang lama lho untuk ukuran hubungan yang special.” Timpal Gisel menohok Pegawai itu.


“Tidak masalah kami lama vacum. Intinya suami anda bukanlah termasuk pria setia.” Tuduhnya lebih yakinlagi.


“Tidak masalah. Sebab saya pun tidak pernah jamin, bahwa hati saya akan selamanya setia padanya.” Jawaban Gisel sungguh membuat pegawai itu bingung.


Maksudnya jelas. Ia ingin Gisel cemburu, marah dan mungkin mengamuk saat tau jika suaminya adalah pria tak setia. Pria yang berani memegang tangan wanita selain istrinya. Tapi respon Gisel tidak sesuai ekspektasinya. Dan itu membuatnya mati langkah.


Senyum manis Farah merekah, saat melihat Gisel sudah menyelesaikan rangkaian perawatan yang hampir mirip dengan treatment orang yang akan menikah. Kinclong, wangi dan tentu lebih segar dari saat ia baru tiba tadi.


“Waaw … kecantikan istri Romeo ini alami sekali. Khas Indonesia banget.” Pujinya puas melihat tampilan wajah Gisel yang sederhana namun menawan. Gisel memang tak memiliki body sesempurna Manda juga Farah. Tapi, wajah sangat menunjukkan jiwa lembut dan keibuannya yang sangat terlihat bersahaja.


“Mbak berlebihan.” Akhirnya Gisel bersuara, menanggapi pujian Farah yang entah hanya basa-basi atau serius.


“Lhoo kok di kira aku yang lebay. Sungguh, kamu cantik kok.” Farah terus saja membela diri.


“Mbak … boleh tau nama pegawai yang tadi melayani saya?” tanya Gisel ingin tau nama pegawai tadi, tentu akan untuk ia konfirmasikan pada suaminya, ketika mereka berjumpa nanti di rumah.

__ADS_1


“Kenapa …? Apa dia melakukan kesalahan?” tanya Farah curiga.


“Tidak … saya hanya merasa puas dan cocok di layaninya.” Bohong Gisel. Ia tentu tidak mau Farah tau apa sesungguhnya yang terjadi di bilik perawatan tadi, saat hanya berdua dengan pegawai Farah.


“Heeem … namanya Gladys. Dia pegawai baru. Jadi maaf jika dia belum professional. Dan jangan sungkan bila pegawaiku melaukan hal yang tidak nyaman. Agar segera kita tindak lanjuti. Sebab kenyamanan cust ku lebih penting dari segalanya.” Jawab Farah pada Gisel.


“Oh … maaf boleh titip tips untuknya?” Gisel menyerahkan dua lembar pecahan merah dari dalam dompetnya. Dan hal itu membuat Farah takjub. Pegawainya memang boleh mendapat tips dari custumernya. Tapi tidak pernah sebanyak ini juga.


“Itu terlalu banyak.” Tolak Farah tidak mau menerima sodoran Gisel.


“Saya puas dengan layanannya.” Tegas Gisel meyakinkan Farah.


“Hmmm …. Manantu mama yang ini tidak pelit seperti yang sebelumnya.” Jawabnya terpaksa meraih uang dari tangan Gisel dengan wajah terlihat tak nyaman.


“Anak mama tidak salah pilih istri kedua kan, Farah.” Kekeh Yuniar mengakhiri obrolan mereka. Sebab kemudian merekapun berpamitan untuk kembali pulang ke rumah.


“Tidak.”


“Tapi yang Farah katakana tadi benar. Tips tadi terlalu besar untuk seorang pegawai baru.” Komen Yuniar dengan suara datar, namun tidak menyalahkan.


“Tidak besar jika itu adalah tips pertama dan terakhir.” Jawab Gisel tak kalah datar.


“Ada apa …?”


“Tidak ada apa-apa.”


“Kamu tidak suka di layaninya?”


“Bukan hanya dia. Tapi Gisel tak suka perawatan seperti tadi.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Terlalu lama meninggalkan O itu meresahkan, Oma.” Jawab Gisel meyakinkan mertuanya.


“Hah … lain kali jangan ambil yang komplit. Ambil satu-satu, supaya tidak lama.” Saran Yuniar yang tidak di tanggapi oleh Gisel. Ia hanya melemparkan tatapannya keluar jendela. Ini adalah untuk pertama kalinya, ia meninggalkan O dalam durasi waktu yang sangat lama. Dari pukul 10 pagi, mereka ke mall, singgah malam siang. Kemudian lanjut perawatan yang kini bahkan sudah melewati masa senja. Ya, saat matahari benat-benar telah pulang , hampir berganti dengan bulan.


“Jangan selalu memeluk O. Ayahnya lebih ingin memeluk mamanya yang makin hari makin canti ini.” Romeo sudah menggendong baby O, dan akan ia antarkan pada pengasuh di kamar sebelah.


“Aku masih sangat merindukannya.” Jawab Gisel menyusul suami yang mengantar anak mereka tadi.


Romeo mana pernah peduli dengan tolakan Gisel. Ia sudah dengan cepat berbalik, untuk menggendong Gisel masuk dalam kamar mereka. Romeo tau kelemahan Gisel. Yang hanya bibirnya berkata tidak, tetapi tak bisa berbuat apa-apa jika Romeo sudah menggendong dan tak lama lagi akan mengungkungnya di atas peraduan mereka di dalam kamar.


“Boleh icip-icip istri yang baru pulang perawatan?” tanya Romeo sarat godaan dan gemas melihat wajah Gisel yang polo situ.


“Icip … ikan kali, Yah.” Elak Gisel berusaha melepas pelukan posesif Romeo yang terasa makin mendesaknya.


“Hari ini segeran lhoo, sayank.” Romeo mencium-cium pipi dan area mana saja yang ia ingin sentuh dengan bibir lembutnya.


“Kemarin-kemarin ga seger?” tanya Gisel masih berusaha meronta dari serangan ciuman itu.


“Segar selalu, dan sekarang lebih segar lagi.” Kali ini leher Gisel yang jadi tempatnya berhenti agak lama, memberi warna di bagian jenjang yang sangat ia sukai tersebut.


“Ayah … pernah kenal dengan wanita bernama Gladys?”


Bersambung …


Semoga tak lupa alur, saking lamanya tak muncul🤭


Happy Reading yaah

__ADS_1


__ADS_2