
Mendadak suasana di rumah orang tua Romeo memanas, setelah Manda menyusul suaminya ke rumah mertuanya. Ia juga sesungguhnya penasaran, bagaimana tampang dan rupa wanita yang sudah suaminya beli rahimnya tersebut,
“Hei … apa maksudmu mengatakan bahwa Gisel adalah pabrik anak? Dia itu manusia. Yang ia kandung itu janin manusia. Enak saja kamu mengatakan dia seperti itu, seolah mesin.” Hardik Yuniar tak terima jika Gisel di katakana sebagai pabrik anak.
“Pokoknya aku tidak suka kalau Romeo dekat-dekat dengannya …!!” Pekik Manda tak perduli jika lawan bicaranya adalah mertuanya sendiri.
“Romeo …!!! pokoknya, Mama tidak tau urusan. Mulai sekarang Gisel harus selalu kau jaga dan temani. Sayangi anakmu sejak dini. Ciptakan komunikasi yang baik dengannya, bawa dia ke rumahmu. Rawat calon ibu dari anakmu itu sebaik mungkin. Dan kamu Manda … jika kamu tidak setuju Gisel di bawa kerumah kalian, maka kamu lah yang harus pergi dari rumah itu.” Mengapa perintah itu terdengar seperti sebuah kalimat usiran pada menantunya sendiri.
“Mama … beri kami waktu untuk bicara terlebih dahulu.” Romeo menengahi pembicaraan kedua wanita yang sama-sama ia cintai itu.
“Untuk apa bicara lagi …? Dia hanya bisa mencuci otakmu. Bukankah dia yang melarangmu berkomunikasi dengan Gisel selama ini? Romeo, yang akan Gisel lahirkan itu seorang anakmu darah dagingmu. Jangan sampai ia tak mengenal ayahnya sendiri.” Berang Yuniar tak suka dengan Romeo yang selalu mengalah dengan istri yang sejak awal tidak di sukai Yuniar itu.
“Mama … pikirkan penyakit hypertensi mu. Jangan marah-marah. Ini sudah malam. Besok saja ku jemput Gisel untuk tinggal bersama kami di rumah. Juga, kamarnya belum kami siapkan.” Jawab Romeo yang sungguh menaruh hormat pada sang ibu.
“Tidak usah kamu jemput. Mama sendiri yang besok akan mengantar dia ke rumah kalian.” Ucapnya tak terbantahkan. Lalu pergi meninggalkan pasangan suami istri tersebut.
“Jadi, sungguh mulai besok kita akan memelihara wanita pabrik anak itu, di rumah kita?” tanya Manda saat mereka sudah berada di rumah mereka, tepatnya di kamar yang menjadi saksi kebersamaan mereka selama 5 tahun berumah tangga.
“Manda, berhenti menyebutnya sebagai pabrik anak. Itu tidak enak di dengar.” Jawab Romeo pelan.
__ADS_1
“Oh … kamu juga membelanya seperti Mama ? Jangan-jangan setelah ia lahir sungguh aku yang tersingkir. Bukan dia …?” Bentaknya pada Romeo.
“Sayang … aku cinta padamu.” Hanya dengan kalimat itu Romeo bisa menenangkan hati istrinya yang sedang marah.
“Sayang … jangan kalian kira aku senang dengan kemandulan ini. Aku tidak bisa merubah takdirku. Aku tidak bisa menukar rahimku dengan wanita itu.” Tangis Manda pecah mengasihani rahimnya yang kering, dan tidak dapat menghasilkan keturunan seperti wanita lainnya.
“Manda sayangku, istriku tercinta. Sampai kapanpun, aku selalu mencintaimu. Jangan pernah berpikir seperti itu. Aku mencintaimu utuh. Bisa atau tidak kamu berikan aku keturunan, aku hanya cinta kamu, sayang.” Romeo begitu mengiba, sungguh besar cintanya pada wanita cantik jelita itu. Sulit baginya berpaling, namun meneruskan keturunan pun ia anggap penting untuk keberlangsungan masa depan keluarga mereka.
“Sabarlah Sayang. Hanya butuh enam bulan lagi. Kamar ini akan di hiasi tangis bayi. Kamu akan menjadi seorang ibu, seperti istri-istri pada umumnya. Aku mencintaimu, tapi juga menghormati Mama sebagai wanita yang melahirkanku. Aku tak ingin mengecewakan kalian berdua secara bersamaan. Kamu percaya akan cintaku, Sayang …?”
“Berjanjilah, akan tetap di pihakku. Romeo. Aku rapuh tanpamu. Aku takut kamu berpaling dariku.” Manda melemah. Tak kuasa hatinya selalu meragukan kesetiaan dan ketulusan cinta suaminya ini. Menerimanya yang tidak sempurna ini saja, mestinya sudah sewajarnya Manda bersyukur, bukan.
Pertengkaran mulut itu berakhir dengan suara desa han, dan leng uhan nikmat dari kedua insan di mabuk asmara itu. Sungguh hormone endorphin yang dokter kandungan sampaikan padanya tadi, Romeo akui benar adanya.
Hah … mengapa saat ia mengungkung Manda, justru terlintas bagaimana Gisel di bawahnya? Mengapa Romeo tiba-tiba ingin menciptakan hormone itu bersama Gisel, agar wanita itu bahagia, melupakan Gavy, Dandy dan siap melahirkan anak yang sehat untuknya kelak.
Yuniar sungguh tak menunggu hari siang. Sepagi itu ia sudah tampak berdiri di kediaman Romeo bersama Gisel untuk ia antar agar wanita itu tinggal bersama Romeo.
Gisel sudah berusaha menolak, tapi gagal. Ia tau isi perjanjian mereka, tak ada sentuhan fisik dalam bentuk apapun setelah ia hamil. Gisel ingat betul. Dan Gisel tidak pernah terpikir untuk meminta hati pria yang sudah banyak menolongnya itu. Segera menyelesaikan tugasnya, mendapatkan uang sisa dari perjanjian mereka adalah tujuannya. Pergi jauh, mencari Gavy, hidup layak dan berdua saja dengan Gavy adalah impian terakhir Gisel selanjutnya.
__ADS_1
“Di sini. Mama mau kamar ini untuk Gisel.” Tunjuk Yuniar pada Romeo yang ia paksa pulang dari kantor untuk meladeninya di rumah.
“Kamarnya sudah kami siapkan di lantai dua.” Jawab Manda ketus.
“Tidak, Gisel tidak boleh turun dan naik tangga terlalu sering. Dia sedang hamil, olah raga boleh. Tapi capek jangan …!” seru Yuniar tegas.
“Papamu melakukan perjalanan bisnis tujuh hari. Dan selama Papa tidak ada, Mama akan tinggal bersama kalian di sini.” Oh Tuhan. Mengapa informasi itu membuat lutut Manda lemas. Hatinya berkata selama wanita tua ini berada di rumahnya, sama saja menciptakan neraka di rumah sendiri. Bukankan ia hanya sempat tinggal setahun bersama mertuanya. Selanjutnya, ia mengancam minta cerai jika Romeo tidak segera membuatkannya rumah.
Manda tak tahan dengan rengekan ibu mertuanya yang bawel, setiap hari meminta cucu dengannya. Membosankan, dan itu sungguh menyiksa batinnya.
Dan ternyata benar saja. Ia seolah tak di anggap di rumahnya sendiri. Mertuanya itu sangat ekstra memperlakukan wanita pencetak anak itu. Semua pelayan di rumah Romeo harus mengutamakan Gisel ketimbang dia. Ia tersingkir di rumahnya sendiri. Bukankah Manda ratunya. Tetapi mengapa harus madunya itu yang menjadi nomor satu? Bahkan Gisel tak memenuhi syarat di sebut sebagai madu. Toh, Gisel bukan istri siri apalagi sah dari suaminya. Ia hanya patner ranjang, yang rahimnya di pinjam pakai sementara.
Romeo tak bisa melawan peraturan sang Mama, Yuniar sungguh membuat mereka terkunci dalam kamar itu, agar memiliki waktu berdua dalam durasi yang lama. Manda kesal, dongkol bahkan semakin benci pada Gisel, tak terima akan peraturan gila mertuanya.
Salahkan Manda marah?
Tak bolehkah ia iri dengan perlakuan timpang mertuanya, yang tak menghargainya sebagai istri Romeo. Menantu sahnya?
“Aku tau ini melanggar perjanjian kita. Tetapi, ini satu-satunya jalan yang bisa kulakukan agar anakku memiliki ikatan batin denganku, sebagai ayah biologisnya.” Ucap Romeo sebelum benar-benar melakukan sesuatu yang tentu akan menghasilkan enzim endorphin seperti saran dokter kandungan pada mereka.
__ADS_1
Bersambung …