
Gisel tak sanggup menyandang rasa gundah berkepanjangan. Menurunkan gengsi untuk lebih dahulu menanyakan keadaan Romeo mungkin jalan terbaik, di bandingkan menyimpan rasa yang hanya membuatnya semakin tak nyaman dan susah tidur sepanjang malam.
“Bagaimana keadaan Romeo, Ma …?” kalimat itu langsung Gisel lontarkan saat ponselnya tersambung dengan milik ibu mertuanya.
“Ehm … ah.” Suara itu terdengar bingung harus menjawab apa pada Gisel yang terdengar cemas pada ayah bayinya.
“Ada apa, Mah …? Kenapa dengan Romeo?” cecar Gisel merasa makin resah.
“Stt … dia baru saja bisa tertidur. Setelah di beri obat oleh dokter untuk mengurangi rasa nyerinya. Senenbat lagi mama dan papa juga akan pulang.” Jawab Yuniar berusaha memberi keterangan yang jugfa masih abu-abu bagi Gisel.
“Dia sakit apa …?” tanya Gisel kemudian.
“Ah … penyakit lamanya saja yang sedang kambuh. Bukan hal yang mengkhawatirkan. Kamu istrirahatlah. Ingat ada bayi yang harus kamu lindungi sekarang. Dan ayahnya sudah aman di rawat di sini.” Lanjut Yuniar memberi penjelasan. Walau tak puas,Gisel terpaksa harus menunda rasa ingin taunya lebih banyak lagi. Sebab Yuniar sudah menutup panggilan tersebut, terlebih dahulu.
Pagi datang terasa lama bagi Gisel yang sepanjang malam hanya resah dan gelisah. Terakhir pukul dua ia masih melihat angka pada jam dinding yang ada di dinding kamarnya. Dan pada pukul 5 pagi ia sudah terbangun kembali.
Bergegas ke dapur untuk mencuci beras dan membuat bubur untuk Romeo adalah hal yang sudah ia rencanakan untuk ayah calon bayinya itu. Dengan mata yang masih berat karena kurang tidur, kantung mata hitampun nampak pada tampilannya pagi ini.
Pukul 7 pagi, Gisel bahkan sudah terlihat rapi dengan sebuah box makanan yang ia letakan di atas meja ruang tengah, kediaman mertuanya. Ia hanya bisa menunggumertuanya bangun untuk mengarahkannya menuju rumah sakit mana tempat Rpmeo di rawat.
“Kamu sakit apa …?” chat Gisel ke nomor kontak Romeo. Centang dua abu-abu. Artinya hanya tersampaikan, belum di baca.
__ADS_1
“Apa aku boleh menjengukmu …?” lanjut Gisel mengirim chat dengan status tersampaikan saja, dan masih belum di baca.
Merasa patah hatilah Gisel pagi itu. Menunggu balasan chat tak kunjung dapat. Menunggu mertuanya bangun pun belum ada tanda-tanda. Celakanya, sofa yang ia duduki amat terasa nyaman untuknya menyandarkan kepalanya pada tepiannya, dan iapun tak sadar terlelap dalam tidurnya.
Yuniar tersenyum menatap istri siri anaknya itu tampak terlelap di atas sofa, dengan pakaian rapi. Tas yang terselempang di perutnya, juga sebuah box makanan yang sudah teronggok di atas meja. Taulah Yuniar, jika Gisel mungkin akan bersiap akan menjenguk Romeo.
“Sayang … bangun.” Tepuk lembut Yuniar pada pipi Gisel. Gerakan itu memang pelan, namun mampu membangunkan Gisel yang tidur dalam keadaan waspada.
“Mama … ah, aku tertidur.” Gisel tersipu malu karena sempat terlelap tadi.
“Mau ke rumah sakit ?” tanya Yuniar memastikan. Gisel mengangguk cepat.
“Romeo itu memiliki riwayat penyakit lambung. Dulu dia sering kambuh sewaktu kuliah dan tidak tinggal bersama mama. Pola makannya pasti akan tidak teratur jika hidup sendiri. Begitulah Romeo, yang selalu mementingkan pekerjaan ketimbang makan. Sebenarnya, mama sedih melihat kalian harus hidup beda rumah. Tapi, mama tidak bisa memaksamu untuk mengalah dan tinggal bersamanya di rumah mereka. Sebagai sesama wanita mama mengerti, kamu pasti tak ingin ada bayangan Manda dalam rumah tangga kalian yang walau hanya berstatus di bawah tangan ini. Maaf membuatmu terperangkap dalam drama pernikahan Romeo dan Manda yang seperti ini.” Yuniar bagai cenayang, mengerti dengan perasaan yang Gisel rasakan
“Mama tau … kamu bertahan sampai sekarang hanya karena kehamilanmu. Hanya karena keegoisan kami menginginkan cucu. Tapi kami sungguh menyayangimu, bukan hanya karena sudah akan memberi kami cucu. Tapi, kamu memang pantas untuk di hargai. Kemarin, mama sudah meminta Romeo saja yang tinggal di rumah mama agar kalian tidak saling berjauhan. Tetapi, ia menolak. Dengan alasan, kamu yang memang meminta jeda agar kalian tak saling dekat terlebih dahulu. Apa itu benar?” tanya Yuniar berhati-hati.
“Maaf Ma. Aku hanya sedang ingin menjaga perasaanku. Agar tidak terjatuh pada ayah dari bayi yang sedang aku kandung ini.” Jujur Gisel pada Yuniar.
“Jatuh dan membuka hati untuk suami sendiri itu wajar dan harus, Gisel.” Nasihat Yuniar untuk Gisel.
“Mungkin mama lupa, hubungan rumah tangga yang bagaimana yang sedang kami jalani sekarang. Aku bahkan tak berani berandai-andai bagaimana nasib anak ini setelah lahir nanti. Jika kuserahkan pada kalian, ia tak sudah tak memiliki ibu. Dan jika tak ku berikan, maka mungkin ia tak memiliki ayah.” Ucap absurd Gisel yang tidak bisa di mengerti oleh Yuniar.
__ADS_1
“Tidak ada cerita anak kalian tanpa ayah dan tanpa ibu. Kalian akan merawatnya bersama-sama.” Tegas Yuniar.
“Mama … aku bahkan masih terikat dengan Dandy.”
“Anggap saja di asudah mati dan tak sempat menceraikanmu. Fokus saja dengan hubunganmu yang baru. Mama dan papa sudah sangat merestui kalian. Percayalah pada mama, hubunganmu dengan suamimu sebelumnya hanya tentang waktu. Lebih baik kamu belajar menerima apa yang sudah ada di depanmu sekarang." Perbincangan itu terhenti sebab mobil yang mengantar mereka ke rumah sakit telah sampai di parkiran rumah sakit.
“Masuk lah lebih dahulu. Mama akan membeli buah untuk Romeo.” Ujarnya memberi perintah pada Gisel.
Dengan bermodal informasi dari sang mertua, Gisel pun kini sudah berjalan di koridor rumah sakit menuju ruang rawat inap suaminya. Dengan segala pikiran yang berkecambuk dalam otaknya, memikirkan hal yang baru saja ia cerna dari Yuniar. Apa ia memang sudah waktunya menerima Romeo sebagai suami sesungguhnya. Tapi … ah. Ia tak percaya cinta. Dan bukankah ia hanya di beli rahimnya saja untuk melanjutkan keturunan Subagia. Tetapi, bukankah ia sudah di nikahi oleh ayah bayinya itu. Gisel tak mampu untukmelanjutkan pikirannya sendiri.
“Selamat pagi …” Sapa Gisel pada pria yang tubuhnya terpasang beberapa alat medis untuk membantu mempercepat proses penyembuhannya.
“Pagi … maaf. Aku baru memelihat ponselku. Kepalau masih sangat pusing.” Jawab Romeo yang masih tampak pucat di atas bed pasien itu.
“Iya … aku mengerti. Kamu sudah makan?” tanya Gisel agak salah tingkah melihat tatapan senang Romeo yang terpancar saat melihat kedatangannya.
“Mendekatlah … aku ingin mencium anakku. Aku sangat merindukannya." Pinta Romeo mengulurkan tangannya kea rah Gisel, agar mendekat.
“Apa kamu hanya merindukan anakmu saja?” Goda Gisel pada Romeo yang mencium perutnya lama.
Bersambung …
__ADS_1