Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Bukan mimpi


__ADS_3

Pukul empat sore, Risma tersadar dari tidurnya. Tidurnya sangat nyenyak. Bayangan mimpi tadi malam membuatnya sangat malu kala mengingatnya.


Wajah itu merona seketika. "Ya Allah.. Ternyata mimpi seindah itu ya? Hemm.. Bang Arta! Ck. Dari namanya saja sudah sangat tampan? Gimana sama orangnya kali ya? Pastilah sangat tampan! Aku pasti pingsan saat melihatnya nanti! Haisshh.. Kenapa pula wajahku memanas begini?? Ih, nggak boleh di ingat! Itu cuma mimpi dan tidak akan menjadi kenyataan!" imbuhnya pada diri sendiri dengan segera bangkit dan turun dari ranjangnya.


Risma belum sadar dirinya yang masih polos tanpa menggenakan baju hanya selimut tebal saja yang menutupi tubuhnya.


Ia turun dari rajang dengan pelan. Ia melangkahkan kakinya cepat ingin menuju ke kamar mandi.


Tetapi baru selangkah ia melangkah. Rasa sakit di pusat intinya membuat Risma kembali duduk. Ia meringis ngilu.


"Ssstttt.. Sakit amat ya? Kenapa pula- astagahfirullah! Kenapa aku nggak pakai baju begini? Hah?" Risma mematung kala melihat banyak bintang berkelipan di bahu dan juga buah melon milknya melalui kaca rias yang ada di kamar itu.


Belum lagi dibagian lehernya. Risma sontak terkejut saat melihat liontin emas meingkar di lehernya.


"I-ni.... Ja-jadi..??"


Risma dengan cepat membuka seluruh selimut itu dan melihat tubuhya.


Deg!


Deg!


Risma menutup mulutnya. "Ja-jadi.. I-ini beneran?? Yang tadi malam itu beneran?? Dan i-ini-," ucapannya terhenti saat melihat cincin emas melingkar dijari manis kanannya.


Lagi, Risma menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Be-berarti tadi malam itu nyata? Bukan hanya mimpi?"


Mulut Risma menganga memikirkan itu semua.


Sementara nan jauh disana dirumah baru mereka, ia mencoba menghubungi Risma. Kenapa ia belum datang juga?

__ADS_1


Sementara seluruh keluarganya sudah berkumpul dirumahnya.


Arta berjalan dengan gelisah. Annisa dan Kak Ira mencebik. "Gimana mau cepat? Kalau jalannya kayak bebek?" sindirnya pada Arta.


Mendengar sindiran Annisa, Arta sontak berhenti dan kembali duduk. Tetapi wajah itu tepa khawatir saat ini.


"Bukan karena jalan atau apa Kakak! Kalau hanya sakit karena pecah tanggul itu hal biasa bagi perempuan. Ingat, Abang dokter loh. Kakak lupa?"


Annisa mencebik. "Dokter sih dokter! Tetapi janganlah kamu menyiksa istri kamu?"


"Abang nggak nyiksa Risma, Kakak..." bantah Arta dengan sedikit gemas pada kakak nnya ini.


Ia segera mendial nomor ponsel miliknya lagi.


Panggilan terhubung, tetapi tidak dijawab. Sudah tiga kali Arta mencobanya. Tetap saja Risma tidak mengangkatnya.


Lagi. Arta mencobanya. Tersambung tetapi belum diangkat.


Kriiiinnggg...


Deringna ponsel itu sudah berapa kali terdengar, tetap saja Risma seperti orang linglung. Ia masih dalam keadaan bingung.


Sadar jika ponsel terus berdering, Risma mengambilanya yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk.


Ia mengambil ponsel itu dan terkejut melihat identitas pemanggil yang bernama Artafariz 2. Reflek saja tangan Risma bergetar. Bibir itu memucat seketika.


"A-artafa-fariz? Ja-jadi ba-bang Arta be-beneran?? Bukan hanya mimpi????" ucapnya masih dengan tangan bergetar.


Ponsel itu mati. Tak lama setelahnya berbunyi lagi. Sekuat tenaga Risma memegang ponsel itu dan menggeser benda warna hijau itu.

__ADS_1


Deg, deg, deg..


Mata Risma membola melihat layar kamera itu penuh dengan wajah tampan Arta. Ia kembali menutup mulutnya.


Arta tertegun melihat seluruih wajah dan tubuh yang tadi malam ia sentuh dengan semangat itu.


Matanya kini tertuju pada leher putih Risma yang terdapat banyak bekas cintanya disana. Arta terkekeh dan itu semua tidak luput dari perhatian Annisa.


"Assalamu'alaikum Ris?"


Deg, deg, deg..


Wajah tampan yang saat ini berada di depannya itu membuat Mulut nya masih menganga saat ini. Lagi, Arta terkekeh. "Kamu baru bangun??" Risma mengangguk cepat.


Bibirnya terasa kelu untuk bicara. "Ya sudah, bersiaplah. Supir Abang udah menunggu kamu sedari tadi. Bersiaplah. Tidak ingin pulang kerumah Bibi?"


Risma tidak menyahut. Ia masih setia memandangi wajah tampan itu. Lagi dan lagi Arta terkekeh dibuatnya.


"Sadar sayang! Waktu terus berjalan! Nanti kita tatap tatapan lagi oke? Sekarang kamu mandi dulu. Bersiaplah. Jangan lupa makan sebelum pulang kerumah Bibi. Sudah ada orang yang menunggu mu diluar pintu. Bersiaplah. Abang akan menjemputmu dirumah Bibi mu. Ya?"


Risma mengangguk patuh masih dengan wajah terkejutnya. Rasanya ia ingin pingsan saat itu juga melihat paras tampan dari lelaki yang bernama Arta. Lelaki yang tadi mlam menggagahinya.


"Boleh pingsan nggak sih?" gumamnya dan terdengar oleh Arta.


Ia tersenyum, "Boleh. Tetapi setelah kita bertemu. Abang akan menjemputmu dirumah Bibi mu. Bersiapalah."


Risma tersadar dari lamunnaya dan gelagapan melihat Arta. E-enggak usah Bang. Aku bisa sendiri kesana. Kirimkan saja alamat rumahmu."


"Tentu. Mandi dan jangan lupa makan. Abang dan keluarag sudah menunggu mu disini." Jawab Arta merasa tenang dengan jawaban san istri.

__ADS_1


Risma mengangguk. Ia segera menuju ke kemar mandi dengan sedikit tertatih.


__ADS_2