Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Isi Hati Risma


__ADS_3

"Saya menerima kamu karena Risma yang meminta saya untuk adil padamu. Padahal saya sama sekali tidak menginginkan hal ini. Saya tahu saya berdosa dengan tidak melarang kamu berselingkuh dengan lelaki lain. Tetapi saya tidak bisa berbata apapun saat perjanjian konyol itu kamu berikan kepada saya yang membuat saya tidak punya pilihan lain selain diam. Dan sekarang, kamu ingin saya kembali kepada kamu dan melakukan sebagaimana saya melakukan Risma? Oke, saya lakukan! Tetapi seperti kata saya tadi. Saya tetap tidak akan menggauli kamu. Saya hanya akan memberikan kamu nafkah lahir saja. Dan untuk tinggal, saya tidak mengizinkan kamu tinggal disini!"


Deg!


"Abang! Tidak boleh begitu! Bagaimana pun dia masih istri kamu. Ingat kata ku. Kamu harus adil terhadap kami Bang Arta!" tegas Risma pada Arta yang membuat pemuda berusia dua puluh enm tahun itu teratwa sumbang.


"Kamu lihat Dilla? Bagaimana istri saya ini? Bahkan tanpa melihat kelakuan buruk kamu pun, ia menerima kamu dan meminta saya untuk berbuat adil sama kamu!"


Dilla menunduk. Tangan itu sedikit bergetar. Risma yang tahu menatap datar pada Arta yang dibalas dengan Arta melengos ke arah lain.


"Sudah aku katakan pada Abang berulang kali. Perlakukan Mbak Dilla sama seperti Abang memperlakukan aku! Jangan marah padanya! Cukup dengan kamu menegurnya! Kamu suami kami berdua. Tugas kamu menegur kami jika kami melakukan kesalahan. Bukan menghukum! Yang berhak menghukum itu hanya Allah SWT! Paham?"


Deg!

__ADS_1


Deg!


Semakin mencelos lah hati Dilla mendengar ucapan Risma yang sedang membelanya. Dilla menangis dalam diam. Risma tahu itu.


Ia mendekati Dilla dan memeluknya. Tangis Dilla pecah seketika saat Risma memeluknya. Sedangkan Arta semakin melengos dan tidak ingin melihat Risma yang saat ini menatapnya dengan tajam.


Kelakuan tiga orang itu kini di tertawakan oleh Farhan dan Yanti. Mereka berdua terkekeh kecil melihat kelakuan Arta yang tidak pernah terlihat sama sekali selama ini.


Sosok tegas dan dingin, kini seperti anak kucing yang sedang dimarahi oleh induknya. Wajahnya itu selalu melengos tetapi sesekali melirik Risma yang sedang memeluk Dilla dengan erat.


Rambutnya yang ia gerai membuatnya merasa gerah. Yanti yang melihatnya berdecih. "Jika orang lain menutup tubuhnya, kamu malah membukanya untuk menjadi santapan makanan pria lain termasuk suami saya!" ketusnya pada Dilla yang kini sedang mengusap wajahnya karena lelehan air mata yang tiada hentinya.


Risma menoleh pada Yanti dengan tatapn tajamnya. Yanti tergelak. "Kamu kenapa sangat membela dia sih Dek? Nggak ingat kamu, bagaimana tadi pagi dia datang kesini? Dan juga, bukannya Arta sudah mengusir nya ya? Kenapa masih disini?" sindir Yanti lagi yang dihadiahi pelototan mata oleh Farhan.

__ADS_1


Yanti tidak peduli. Risma menghela nafasnya. " Tidak ada di dunia wanita yang ingin dimadu, Mbak Yanti. Beruntungnya kamu bang Farhan hanya menikahi kamu. Tetapi kami?"


Deg!


Deg!


Yanti dan Farhan menatap Risma. Begitu juga Dilla dan Arta. Semuanya melihat Risma yang kini melihat mereka dengan sendu.


"Tapi inilah takdir kami. Mau tidak mau, kami harus menerima kenyataan yang ada. Aku. Pertama kali saat bang Arta mengatakan jika ia memiliki istri lain selain aku, juga merasakan hal yang sangat sakit. Sakit sekali. Tetapi apa yang harus aku perbuat? Apakah setelah aku mengetahui Bang Arta memiliki istri lain aku harus meninggalaknnya? Sementara hatiku sudah menerimanya dan pernikahan kami?? Tidak Mbak. Tidak mungkin aku meninggalaknnya sementara hatiku sudah terpaut padanya."


"Aku mencintainya ikhlas karena Allah. Dan juga saat aku mengetahui jika dirinya memiliki istri lain, aku ikhlas menerima madu ku. Walau ku tahu.. Madu ku belum tentu menerima diriku yang hina ini.."


Deg!

__ADS_1


Dilla membatu mendengar ucapan Risma yang memang langsung dari hatinya.


"Tetapi Mbak Dilla jangan khawatir. Walau kamu belum menerima kehadiranku, aku tetap menerima kamu sebagai maduku. Aku akan menganggapmu kakak ku sendiri. Jadi.. Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membenci mu seperti suami kita membencimu, Mbak Dilla. Aku tidak memiliki saudara perempuan. Hanya Mbak Yanti dan kamu. Mulai sekarang, kamu kakak ku. Ya?" katanya pada Dilla yang kini menatapnya dengan sinis.


__ADS_2