
Semuanya kini menatap dalam diam pada Arta. Arta menghela nafasnya. "Sebelum saya berbicara, saya ingin bertanya kepada Risma." ucapnya menatap lekat pada sang istri yang tadi malam sudah memberikan kebahagiaan yang tak terhingga di hidupnya.
Risma yang merasa namanya disebut, menoleh padanya. "Apa yang ingin Abang tahu dariku? Apakah tentang pernikahan ini?" tanya Risma yang kini juga menatap Arta balik dengan lekat.
Arta tersenyum dan mengangguk. "Ya, tentang pernikahan kita. Sebelumnya, apakah kamu tahu jika Bibi dan Paman mu sengaja menjualmu hanya demi uang??"
Ddduuuaarrr!!
Serasa dihantam petir tubuh ketiga orang yang duduk berseberangan itu terlonjak kaget mendengar ucapan Arta.
"Maksudnya?" sela Santi, kakak sepupu Risma yang kini menatap Arta dengan wajah yang begitu kentara terlihat sangat terkejut.
"Dan apakah kamu tahu kalau uang itu ingin mereka gunakan untuk membayar uang kuliah saudaramu??"
Deg!
"Apa?!" seru Bram yang kini pula terkejut.
Arta terkekeh, "Tenanglah Abang ipar! Saya belum selesai bertanya. Biarkan saya bertanya dulu pada Risma!"
Bram mengatupkan mulutnya yang menganga mendengar ucapan Arta. Apalagi Tami. Lelaki yang selama ini merupakan sahabat Bram itu menyukai Risma. Tetapi Risma tidak mau dengannya karena sebuah alasan yang Risma sendiri yang tahu apa alasannya.
__ADS_1
"Jawab Risma. Apa kamu tahu tentang hal ini?" tanya Arta lagi pada Risma.
Risma yang ditanya menghela nafas berat. "Ya aku tahu. Aku tahu saat di Resto Melati. Aku sengaja dijual oleh mereka kepada mu untuk kehidupan mereka yang lebih layak dan ingin menjadi orang kaya!"
Ddduuuaaaarrr!!
"Risma!" seru Bram
"Pelankan suaramu Abang ipar! Jangan menyentak istriku seperti itu. Jika dulu, boleh kamu dan kedua orang tuamu menyentaknya. Tetapi sekarang tidak lagi!"
Deg!
Ucapan tegas Arta disertai tatapan tajamnya membuat Santi menarik tangan Bram untuk duduk lagi. Bram yang sadar pun segera duduk lagi.
"Lanjutkan Ris!" ucap Arta lagi.
"Baru ku tahu saat aku ingin ke toilet. Sekilas aku mendengar ucapan Bibi di samping toilet kalau aku akan dijual padamu untuk kesenangan mereka. Awalnya aku sangat marah. Tetapi aku tidak bisa berbuat apapun. Lantaran diriku tidak ada yang membela.." lirih Risma dengan menunduk dan sangat menusuk hati Bram dan Santi.
Keduanya menatap sendu pada adik sepupunya itu. Arta menarik sedikit ujung bibirnya saat melihat wajah sendu iparnya itu.
"Lantas sekarang?" Arta sengaja bertanya seperti itu lantaran dirinya sangat ingin tahu tentang pikiran Risma mengenai pernikahan dadakan mereka ini.
__ADS_1
Risma menatap lekat pada bola mata Arta yang kini menatapnya penuh akan cinta. Risma tersenyum lembut padanya.
"Aku menerima Bang Arta sebagai suamiku. Walau usia kami terpaut jauh. Itu tidak jadi masalah. Toh, kedewasaan itu bukan dari umur. Tetapi dari cara kita bersikap dan berpikir. Awalnya aku marah karena dijual kepada orang yang tidak aku kenal. Karena takut, akan terjadi hal buruk padaku. Tetapi saat ku tahu jika Bang Arta, putra kedua Bunda Azizah yang dulu sering beliau ceritakan dan sempat akan di jodohkan denganku, aku menerima kamu untuk menjadi suami dunia dan Akhiratku. Imam ku dunia dan akhirat mulai tadi malam hingga seterusnya." Imbuh Risma dengan wajah merona.
Arta tertawa. Bunda Zizi mengucapkan alhamdulillah. Begitu pun dengan tiga saudara Arta yang lainnya.
"Alhamdulillah ya Allah. Ternyata doa Abang dikabulkan sama Allah Mak." ucapnya begitu senang.
"Kenapa bisa dikabulkan? Apa yang kamu pinta sama Allah?" tanya Bunda Zizi pada Arta yang kini masih tersenyum dengan mata menatap lekat pada Risma yang kini sedang menunduk dengan pipi merona malu.
Arta lagi dan lagi terkekeh. Risma semakin malu padanya. Annisa dan Kak Ira pun ikut terkekeh melihat wajah Risma yang merona karena malu.
Malu entah karena apa, othor pun tak tahu! 🤣
"Jawab Nak. Apa yang kamu pinta sama Allah, hingga di kabulkan?" tanya Bunda Zizi lagi pada Arta.
Arta masih saja tersenyum, hatinya begitu senang saat ini. "Abang meminta sama Allah, agar diberikan seorang istri seperti gadis yang terlihat di jalan sebelum tiba di restoran Melati. Dirinya yang ditarik paksa menurut tetapi menggerutu di belakang ibunya. Abang menyukai gadis itu saat pertama kali melihatnya. Jadi, Abang minta sama Allah untuk mendapatkan istri yang sama sepertinya." Tunjuk Arta pada Risma dengan dagunya.
Risma mematung. "Aku Bang?"
"Ya, kamu! Bukankah gadis yang ditarik secara paksa hingga terseok-seok itu kamu??"
__ADS_1
Risma termenung. Risma mengingat kejadian dimana dirinya ditarik paksa saat belum tiba di restoran Melati kemarin sebelum kejadian di hotel tadi malam itu terjadi.